Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar. Namun saat ini, Borobudur izin rehat sejenak dari wisatawan. (iStock/sihasakprachum)
Magelang, CNN Indonesia --
Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar.
Meski usianya sudah lebih dari 10 abad, namun kegagahan dan sejarahnya tetap menarik hati. Semua orang ingin menjadi bagian dari sejarahnya, lewat kunjungan dan juga foto yang diabadikan dalam akun sosial media.
Bukan sekadar lokasi wisata yang memanjakan mata, namun candi yang dibangun sekitar tahun 800 masehi di masa dinasti Syailendra menguasai tahta Kerajaan Medang ini juga menyimpan sejarah yang luar biasa lewat relief yang terukir dan juga arkeologinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas hal ini pulalah, Borobudur yang sering salah sebut berada di Yogyakarta, padahal sebenarnya berada di Kabupaten Magelang ditetapkan menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.
Menurut catatan situs Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 Kabupaten Magelang, Candi Borobudur berhasil mendatangkan kurang lebih 3 juta wisatawan lokal setiap tahunnya. Namun covid-19 membuat wisatawan turun drastis ke angka 900-an.
Sedangkan data yang ditulis oleh Isni Wahyuningsih dari Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur pada tahun 2020 mencatat rata-rata jumlah pengunjung bisa mencapai angka 2 juta orang setiap tahunnya. Terlepas berapa jumlah pasti wisatawan yang datang, jumlah orang dan setiap hal tak bertanggung jawab yang dilakukan wisatawan menimbulkan berbagai efek buat candi.
Kelakuan Tak Bertanggung Jawab Pelancong
Sama seperti manusia yang usianya semakin tua, candi Borobudur juga makin renta. Batu-batu penyokong dan penyusun pun makin aus. Daya dukung struktur Borobudur pun makin lemah. Selain faktor 'usia' dan juga lingkungan, jumlah pengunjung sebelum yang melebihi daya tahan struktur candi juga jadi salah satu penyebabnya.
Tak cuma itu, banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat struktur batu candi menjadi semakin aus akibat tekanan dan gesekan alas kaki yang dipakai oleh wisatawan.
Pemikiran inilah yang akhirnya membuat Badan Konservasi Borobudur (BKB) mulai pemerintah melarang wisatawan untuk naik ke Candi Borobudur sejak September tahun lalu.
Iwan Kurnianto, salah satu perwakilan dari Badan Konservasi Candi Borobudur menyebutkan tak hanya langkah kaki pengunjung kaki yang menimbulkan kerusakan pada candi. Tingkah laku para wisatawan yang usil membuat pihak pemeliharaan harus bekerja ekstra.
"Ada yang buang permen karet ke batu, coret-coret pakai bolpoin, itu yang kadang yang buat candi bisa rusak," kata Iwan saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (7/6).
Iwan juga menambahkan bahwa wisatawan juga sering menyentuh bagian batu-batu candi. Tak sekedar menyentuh, mereka bahkan juga memindahkan, menggeser, mengambil bagian batu candi dan tidak mengembalikannya di tempat semula. Selain itu kelakuan yang sering terlihat adalah memanjat stupa, membuang sampah sembarangan, sampai menyentuh patung karena mitos yang beredar. Perlu diketahui, keringat-keringat dari tubuh yang menempel di batu bakal membuatnya jadi aus.
"Padahal pihak kita juga sudah mengawasi tapi karena saking banyaknya pengunjung jadi luput. Itupun kita tahu setelah melihat dari CCTV yang tersebar di area candi," tambah Iwan.
Iwan juga kesal karena pihaknya tak bisa berbuat lebih jauh lagi ke wisatawan yang sudah bertingkah sembrono tersebut. Sebenarnya terdapat sanksi yang bisa dikenakan terhadap perusak cagar budaya. Hal itu diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
Di situ tertulis bahwa sanksi bagi perusak cagar budaya adalah pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp500 juta dan paling banyak Rp5 miliar.
Namun setelah adanya larangan wisatawan untuk naik ke candi, Iwan beserta kawan-kawan dari Balai Konservasi bisa bernapas lega. Kerusakan candi makin minim. Hal ini juga memudahkan proses perawatan dan pembersihan candi.
"Lebih lega, jadi yang bersihin bisa lebih detail lagi dan tidak terburu-buru," kata Iwan.
Rehat Sejenak
Iwan pun menyebutkan saat ini Candi Borobudur tengah 'istirahat' tanpa gangguan dan perilaku 'ajaib' pengunjung yang mengusik.
Momen tenang dan peristirahatan Borobudur saat ini disebut Iwan makin menambah kesakralannya.
Ia pun tak menampik bahwa dirinya setuju dengan wacana pemerintah untuk membuat wisatawan yang ingin naik ke Candi Borobudur terbatas. Usia batu candi menjadi alasan Iwan untuk menyetujui hal itu.
"Kalaupun nanti bisa naik ke candi, wisatawan juga harus pakai alas yang disiapkan. Sandal upanat, nantinya sandal itu akan diberikan ke wisatawan yang mau naik ke candi. Bahannya enggak akan terlalu membuat candi cepat aus," kata Iwan.
Namun adanya larangan untuk naik ke atas candi tak disambut dengan baik bagi wisatawan. Salah satunya adalah Nancy, wisatawan asal Bengkulu merasa kecewa karena tak bisa naik ke atas candi.
"Kecewa sih, enggak bisa liat dan foto-foto pemandangan di sekitar candi. Padahal pemandangannya bagus dan lumayan buat bisa di-update (media sosial)," ucap Nancy saat ditemui CNNIndonesia.com.
Kenaikan Tiket Borobudur Ditunda
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo serta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sepakat menunda pemberlakuan kenaikan harga tiket Candi Borobudur. Kesepakatan dicapai usai keduanya bertemu di kediaman Rumah Dinas Gubernur Jateng, Semarang pada Selasa (7/6) kemarin.
"Kami postpone dulu. Tadi Pak Menteri (Luhut Binsar Panjaitan) sudah menyampaikan, 'Pak Gub itu kita postpone dulu, biar tidak terjadi cerita yang ke mana-mana'," kata Ganjar seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/6).
Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar.
Meski usianya sudah lebih dari 10 abad, namun kegagahan dan sejarahnya tetap menarik hati. Semua orang ingin menjadi bagian dari sejarahnya, lewat kunjungan dan juga foto yang diabadikan dalam akun sosial media.
Bukan sekadar lokasi wisata yang memanjakan mata, namun candi yang dibangun sekitar tahun 800 masehi di masa dinasti Syailendra menguasai tahta Kerajaan Medang ini juga menyimpan sejarah yang luar biasa lewat relief yang terukir dan juga arkeologinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas hal ini pulalah, Borobudur yang sering salah sebut berada di Yogyakarta, padahal sebenarnya berada di Kabupaten Magelang ditetapkan menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.
Menurut catatan situs Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 Kabupaten Magelang, Candi Borobudur berhasil mendatangkan kurang lebih 3 juta wisatawan lokal setiap tahunnya. Namun covid-19 membuat wisatawan turun drastis ke angka 900-an.
Sedangkan data yang ditulis oleh Isni Wahyuningsih dari Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur pada tahun 2020 mencatat rata-rata jumlah pengunjung bisa mencapai angka 2 juta orang setiap tahunnya. Terlepas berapa jumlah pasti wisatawan yang datang, jumlah orang dan setiap hal tak bertanggung jawab yang dilakukan wisatawan menimbulkan berbagai efek buat candi.
Kelakuan Tak Bertanggung Jawab Pelancong
Sama seperti manusia yang usianya semakin tua, candi Borobudur juga makin renta. Batu-batu penyokong dan penyusun pun makin aus. Daya dukung struktur Borobudur pun makin lemah. Selain faktor 'usia' dan juga lingkungan, jumlah pengunjung sebelum yang melebihi daya tahan struktur candi juga jadi salah satu penyebabnya.
Tak cuma itu, banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat struktur batu candi menjadi semakin aus akibat tekanan dan gesekan alas kaki yang dipakai oleh wisatawan.
Pemikiran inilah yang akhirnya membuat Badan Konservasi Borobudur (BKB) mulai pemerintah melarang wisatawan untuk naik ke Candi Borobudur sejak September tahun lalu.
Iwan Kurnianto, salah satu perwakilan dari Badan Konservasi Candi Borobudur menyebutkan tak hanya langkah kaki pengunjung kaki yang menimbulkan kerusakan pada candi. Tingkah laku para wisatawan yang usil membuat pihak pemeliharaan harus bekerja ekstra.
"Ada yang buang permen karet ke batu, coret-coret pakai bolpoin, itu yang kadang yang buat candi bisa rusak," kata Iwan saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (7/6).
Iwan juga menambahkan bahwa wisatawan juga sering menyentuh bagian batu-batu candi. Tak sekedar menyentuh, mereka bahkan juga memindahkan, menggeser, mengambil bagian batu candi dan tidak mengembalikannya di tempat semula. Selain itu kelakuan yang sering terlihat adalah memanjat stupa, membuang sampah sembarangan, sampai menyentuh patung karena mitos yang beredar. Perlu diketahui, keringat-keringat dari tubuh yang menempel di batu bakal membuatnya jadi aus.
"Padahal pihak kita juga sudah mengawasi tapi karena saking banyaknya pengunjung jadi luput. Itupun kita tahu setelah melihat dari CCTV yang tersebar di area candi," tambah Iwan.
Iwan juga kesal karena pihaknya tak bisa berbuat lebih jauh lagi ke wisatawan yang sudah bertingkah sembrono tersebut. Sebenarnya terdapat sanksi yang bisa dikenakan terhadap perusak cagar budaya. Hal itu diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
Di situ tertulis bahwa sanksi bagi perusak cagar budaya adalah pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp500 juta dan paling banyak Rp5 miliar.
Namun setelah adanya larangan wisatawan untuk naik ke candi, Iwan beserta kawan-kawan dari Balai Konservasi bisa bernapas lega. Kerusakan candi makin minim. Hal ini juga memudahkan proses perawatan dan pembersihan candi.
"Lebih lega, jadi yang bersihin bisa lebih detail lagi dan tidak terburu-buru," kata Iwan.
Candi Borobudur Rehat Sejenak
Pikat dan pesona candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih belum pudar. Namun saat ini, Borobudur izin rehat sejenak dari wisatawan. (Getty Images/Ulet Ifansasti).
Rehat Sejenak
Iwan pun menyebutkan saat ini Candi Borobudur tengah 'istirahat' tanpa gangguan dan perilaku 'ajaib' pengunjung yang mengusik.
Momen tenang dan peristirahatan Borobudur saat ini disebut Iwan makin menambah kesakralannya.
Ia pun tak menampik bahwa dirinya setuju dengan wacana pemerintah untuk membuat wisatawan yang ingin naik ke Candi Borobudur terbatas. Usia batu candi menjadi alasan Iwan untuk menyetujui hal itu.
"Kalaupun nanti bisa naik ke candi, wisatawan juga harus pakai alas yang disiapkan. Sandal upanat, nantinya sandal itu akan diberikan ke wisatawan yang mau naik ke candi. Bahannya enggak akan terlalu membuat candi cepat aus," kata Iwan.
Namun adanya larangan untuk naik ke atas candi tak disambut dengan baik bagi wisatawan. Salah satunya adalah Nancy, wisatawan asal Bengkulu merasa kecewa karena tak bisa naik ke atas candi.
"Kecewa sih, enggak bisa liat dan foto-foto pemandangan di sekitar candi. Padahal pemandangannya bagus dan lumayan buat bisa di-update (media sosial)," ucap Nancy saat ditemui CNNIndonesia.com.
Kenaikan Tiket Borobudur Ditunda
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo serta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sepakat menunda pemberlakuan kenaikan harga tiket Candi Borobudur. Kesepakatan dicapai usai keduanya bertemu di kediaman Rumah Dinas Gubernur Jateng, Semarang pada Selasa (7/6) kemarin.
"Kami postpone dulu. Tadi Pak Menteri (Luhut Binsar Panjaitan) sudah menyampaikan, 'Pak Gub itu kita postpone dulu, biar tidak terjadi cerita yang ke mana-mana'," kata Ganjar seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/6).