Jangan Dibiarkan, Kutil Kelamin Bisa Picu Kanker Serviks

CNN Indonesia
Kamis, 30 Jun 2022 18:30 WIB
Jika dibiarkan, kutil kelamin bisa berujung pada kanker serviks hingga meningkatkan risiko kematian. Ilustrasi. Jika dibiarkan, kutil kelamin bisa berujung pada kanker serviks hingga meningkatkan risiko kematian. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kutil kelamin atau genital warts bukan sembarang penyakit menular seksual. Jika dibiarkan, penyakit ini bisa berujung kanker serviks hingga meningkatkan risiko kematian.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di Klinik Pramudia Amelia Soebyanto mengatakan, kutil kelamin memang bisa menyebabkan kanker serviks. Pasalnya, penyakit ini juga berasal dari virus HPV atau Human Papillomavirus.

"Sekitar 50 persen kasusnya menunjukkan genital warts atau kutil kelamin ini mampu bertransformasi menjadi penyakit yang ganas, salah satunya kanker serviks," kata Amelia dalam webinar soal Kupas Tuntas soal Genital Warts, beberapa waktu lalu.

Kutil kelamin juga kerap muncul tanpa keluhan dan biasanya disepelekan oleh penderitanya. Padahal, kata Amelia, meski bisa hilang dengan sendirinya, penyakit ini tetap berisiko kambuh dan menyebabkan kanker serviks bagi perempuan.

Tipe HPV yang menyebabkan genital warts memang tidak sama dengan HPV yang menyebabkan kanker serviks. Namun, dalam beberapa kasus, ketika kutil kelamin tumbuh di leher rahim atau di dalam vagina, maka akan muncul perubahan serviks atau displasia yang pada akhirnya berujung pada kanker.

"Tipe HPV yang berisiko rendah pun, jika tidak mendapat penanganan tepat bisa membuat genital warts mengalami komplikasi dan berkembang menjadi kanker serviks. Apalagi kalau ada riwayat, yang membuat risiko terkena kanker serviks semakin besar," papar Amelia.

Agar hal ini tidak terjadi, pemeriksaan rutin perlu dilakukan. Terutama bagi Anda yang memang aktif secara seksual dan berisiko terkena berbagai penyakit kelamin selain genital warts.

"Salah satu yang penting dilakukan adalah deteksi dini genital warts," ujar Amelia. Beberapa pemeriksaan penunjang di antaranya adalah tes asam asetat, pap smear, patologi, pemeriksaan dengan alat pembesaran optik (kolposkop), dan identifikasi genom HPV.

Selain itu, Amelia juga menyarankan pada mereka yang telah aktif secara seksual untuk tidak berganti-ganti pasangan dan bersikap konsensual.

"Sikap konsensual ini penting, saling terbuka dengan pasangan terkait alat kelamin masing-masing," kata dia.

(tst/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER