Riwayat Bagmati di Nepal, dari Sungai Tersuci Jadi Penuh 'Dosa'
CNN Indonesia
Kamis, 08 Sep 2022 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Suasana Sungai Bagmati di Nepal. (Foto: Getty Images/Philartphace)
Jakarta, CNN Indonesia --
SungaiBagmati punya kontribusi besar terhadap penduduk Nepal, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun budaya dan spiritual. Namun, semakin disusuri, nasib sungai suci ini justru memprihatinkan.
Mithu Lama (59), pekerja di tempat kremasi Teku, bercerita dirinya lahir dan dibesarkan di sebelah Bagmati. Dia ingat betul air sungai saat itu digunakan untuk memasak, mandi, mencuci bahkan minum. Tapi, semua hanya tinggal kenangan. Air sungai ternodai kotoran manusia dan sampah.
"Saya sekarang sangat ragu bahwa sungai akan bersih selama saya hidup. Bukannya belum ada upaya, sudah beberapa kali kampanye bersih-bersih, tapi lebih banyak yang mengotori. Orang-orang adalah masalahnya," ujar Lama seperti dikutip dari AP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagmati yang murni dan bening berubah menjadi kecoklatan saat mencapai lembah Kathmandu. Warna coklat pun bisa berubah hitam akibat sumbatan dan puing-puing. Penduduk harus bersiap dengan bau busuk menyengat saat masuk musim kemarau.
Sungai Bagmati mendapat predikat sebagai sungai tersuci sekaligus paling tercemar di Nepal. Meski demikian, penduduk masih mengandalkan sungai dalam berbagai elemen kehidupan.
Umat Hindu ramai-ramai ke tepi sungai untuk beribadah di kuil dan merayakan festival. Kaum Hawa berenang untuk menghapus dosa selama Rishipanchami atau hari pemujaan tujuh orang bijak yang tercerahkan.
Selama festival Chhath di Nepal, orang mengarungi sungai, berdoa pada dewa matahari Surya. Kemudian selama Teej, para istri datang berdoa untuk kesehatan dan kemakmuran suami mereka, sedangkan perempuan lajang berdoa untuk menemukan jodoh terbaik.
Sungai Bagmati pun masih menyertai mereka yang sudah tiada. Jenazah akan dibawa keluarga ke tepi sungai lalu kaki dibasuh dan wajah diperciki air sungai. Penduduk meyakini air sungai mampu menghapus dosa mendiang. Abu hasil kremasi jenazah pun dilarung ke sungai.
Kini, air sungai tidak bisa diandalkan untuk ritual. "Air sungai sangat kotor dan bau. Orang-orang dipaksa untuk membawa air kemasan dan melakukan ritual," kata Lama.
Setiap Sabtu selama tujuh tahun terakhir, ada inisiatif pembersihan sungai oleh ratusan sukarelawan. Mala Kharel, anggota eksekutif High Powered Committee for Integrated Development of the Bagmati Civilization, tak pernah absen dalam kegiatan ini.
Bersama komite yang fokus membantu membersihkan sungai, sekian banyak kampanye selama bertahun-tahun mampu mengumpulkan sekitar 80 persen sampah di sepanjang tepi sungai.
Akan tetapi, upaya pembuangan sampah kurang sempurna baik karena masalah di pengumpulan sampah maupun lebih banyak yang dibuang daripada yang dibersihkan. Apalagi orang telah membangun gubuk ilegal di sepanjang sungai dan menolak pergi.
Kharel mengatakan komite sedang mengerjakan beberapa proyek pembangunan kanal dan pipa menuju saluran pembuangan sehingga limbah tidak masuk sungai. Pekerjaan ini dimulai sekitar 2013 tetapi belum ada pengumuman tanggal penyelesaian.
"Dalam 10 tahun ke depan, saya berharap sungai akan mengalir jernih dan tepiannya bersih dan ditumbuhi pepohonan. Kami bekerja keras dengan target ini," imbuhnya.
Hanya saja, ada rasa pesimis bahwa Bagmati bisa kembali seperti sediakala. Madhukar Upadhya, ahli daerah aliran sungai (DAS), mempelajari sungai dan mengatakan dasar sungai tidak lagi memiliki pasir.
Sungai dilapisi tanah liat campur bahan kimia yang dibuang oleh aktivitas industri termasuk pembuat karpet tenunan tangan. Bagmati, kata dia, merupakan sungai alami dan bukan saluran yang bisa dibersihkan dengan mudah.
"Begitu banyak kerusakan yang telah terjai padanya sehingga mungkin dapat dibersihkan sampai tingkat tertentu tetapi tidak dikembalikan ke kejayaan di masa lalu," jelasnya.
Senada dengan Upadhya, pendeta Hindu Pandit Shivari Subedi mengatakan perlu ada keajaiban untuk 'menyucikan' Bagmati. "Untuk membersihkan air secara alami, atas izin Tuhan, perlu ada aliran air besar yang menyiram kotoran," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
SungaiBagmati punya kontribusi besar terhadap penduduk Nepal, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun budaya dan spiritual. Namun, semakin disusuri, nasib sungai suci ini justru memprihatinkan.
Mithu Lama (59), pekerja di tempat kremasi Teku, bercerita dirinya lahir dan dibesarkan di sebelah Bagmati. Dia ingat betul air sungai saat itu digunakan untuk memasak, mandi, mencuci bahkan minum. Tapi, semua hanya tinggal kenangan. Air sungai ternodai kotoran manusia dan sampah.
"Saya sekarang sangat ragu bahwa sungai akan bersih selama saya hidup. Bukannya belum ada upaya, sudah beberapa kali kampanye bersih-bersih, tapi lebih banyak yang mengotori. Orang-orang adalah masalahnya," ujar Lama seperti dikutip dari AP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagmati yang murni dan bening berubah menjadi kecoklatan saat mencapai lembah Kathmandu. Warna coklat pun bisa berubah hitam akibat sumbatan dan puing-puing. Penduduk harus bersiap dengan bau busuk menyengat saat masuk musim kemarau.
Sungai Bagmati mendapat predikat sebagai sungai tersuci sekaligus paling tercemar di Nepal. Meski demikian, penduduk masih mengandalkan sungai dalam berbagai elemen kehidupan.
Umat Hindu ramai-ramai ke tepi sungai untuk beribadah di kuil dan merayakan festival. Kaum Hawa berenang untuk menghapus dosa selama Rishipanchami atau hari pemujaan tujuh orang bijak yang tercerahkan.
Selama festival Chhath di Nepal, orang mengarungi sungai, berdoa pada dewa matahari Surya. Kemudian selama Teej, para istri datang berdoa untuk kesehatan dan kemakmuran suami mereka, sedangkan perempuan lajang berdoa untuk menemukan jodoh terbaik.
Sungai Bagmati pun masih menyertai mereka yang sudah tiada. Jenazah akan dibawa keluarga ke tepi sungai lalu kaki dibasuh dan wajah diperciki air sungai. Penduduk meyakini air sungai mampu menghapus dosa mendiang. Abu hasil kremasi jenazah pun dilarung ke sungai.
Kini, air sungai tidak bisa diandalkan untuk ritual. "Air sungai sangat kotor dan bau. Orang-orang dipaksa untuk membawa air kemasan dan melakukan ritual," kata Lama.
Upaya 'Menyucikan' Sungai
Kondisi Sungai Bagmati di Nepal. (Foto: AP Photo/Niranjan Shrestha)
Setiap Sabtu selama tujuh tahun terakhir, ada inisiatif pembersihan sungai oleh ratusan sukarelawan. Mala Kharel, anggota eksekutif High Powered Committee for Integrated Development of the Bagmati Civilization, tak pernah absen dalam kegiatan ini.
Bersama komite yang fokus membantu membersihkan sungai, sekian banyak kampanye selama bertahun-tahun mampu mengumpulkan sekitar 80 persen sampah di sepanjang tepi sungai.
Akan tetapi, upaya pembuangan sampah kurang sempurna baik karena masalah di pengumpulan sampah maupun lebih banyak yang dibuang daripada yang dibersihkan. Apalagi orang telah membangun gubuk ilegal di sepanjang sungai dan menolak pergi.
Kharel mengatakan komite sedang mengerjakan beberapa proyek pembangunan kanal dan pipa menuju saluran pembuangan sehingga limbah tidak masuk sungai. Pekerjaan ini dimulai sekitar 2013 tetapi belum ada pengumuman tanggal penyelesaian.
"Dalam 10 tahun ke depan, saya berharap sungai akan mengalir jernih dan tepiannya bersih dan ditumbuhi pepohonan. Kami bekerja keras dengan target ini," imbuhnya.
Hanya saja, ada rasa pesimis bahwa Bagmati bisa kembali seperti sediakala. Madhukar Upadhya, ahli daerah aliran sungai (DAS), mempelajari sungai dan mengatakan dasar sungai tidak lagi memiliki pasir.
Sungai dilapisi tanah liat campur bahan kimia yang dibuang oleh aktivitas industri termasuk pembuat karpet tenunan tangan. Bagmati, kata dia, merupakan sungai alami dan bukan saluran yang bisa dibersihkan dengan mudah.
"Begitu banyak kerusakan yang telah terjai padanya sehingga mungkin dapat dibersihkan sampai tingkat tertentu tetapi tidak dikembalikan ke kejayaan di masa lalu," jelasnya.
Senada dengan Upadhya, pendeta Hindu Pandit Shivari Subedi mengatakan perlu ada keajaiban untuk 'menyucikan' Bagmati. "Untuk membersihkan air secara alami, atas izin Tuhan, perlu ada aliran air besar yang menyiram kotoran," katanya.