3 Alternatif Punya 'Momongan' saat Tak Bisa Mendapatkan Keturunan
CNN Indonesia
Minggu, 13 Nov 2022 18:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pola pikir masyarakat masa kini yang cenderung cair memberikan banyak pilihan bagi masyarakat yang tak kunjung diberikan momongan. (iStock/Bearinmind)
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu tujuan pernikahanadalah kehadiran si buah hati dalam kehidupan berumah tangga. Tapi, sayangnya tak semua orang diberikan kesempatan yang sama untuk memiliki momongan.
Faktanya, memiliki anakbukan perkara mudah. Tak cuma dengan bercinta bersama pasangan, lantas istri akan segera diberikan kehamilan.
Apalagi di zaman kiwari, usia pernikahan kian bergeser. Tak sedikit orang yang baru menikah pada usia 30 tahun ke atas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rata-rata usia menikah di Indonesia adalah 19-24 tahun. Tapi sudah bergeser juga. Sekarang malah banyak yang masuk usia 30 atau 40 baru menikah," ujar dokter spesialis kandungan Andon Hestiantoro pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Padahal, semakin tua usia pernikahan, peluang untuk mendapatkan momongan semakin menurun. Perlu diketahui, tingkat kesuburan seseorang akan menurun seiring bertambahnya usia.
Namun, kesulitan untuk mendapatkan momongan tak seharusnya menjadi akhir dari impian rumah tangga. Setiap pasangan tentunya harus bersiap ketika segala sesuatunya berjalan tidak sesuai dengan rencana awal atau apa yang diharapkan.
Di zaman kiwari, ada banyak alternatif yang bisa dipilih pasangan. Mulai dari mengadopsi anak hingga ada beberapa pasangan yang memilih hidup bersama anabul-anabulnya saat tak juga dikaruniai momongan.
Sosiolog sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia Ida Ruwaida mengatakan bahwa secara sosiologis, pola pikir masyarakat kini cenderung 'cair', termasuk gagasan atau konsepsi tentang keluarga.
"Pada dasarnya konsepsi tentang keluarga, tentang peran dan relasi dalam keluarga, juga tentang anak, mengalami pergeseran. Apalagi di era digital ini berbagai paparan informasi mudah terakses dan diakses," imbuh Ida saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (9/11).
Meski memang, pada dasarnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpandangan bahwa salah satu tujuan utama pernikahan adalah memiliki anak biologis. Namun demikian, beberapa alternatif tetap perlu dipertimbangkan, utamanya bagi pasangan yang tak juga dikaruniai momongan.
Berikut beberapa alternatif membangun keluarga yang bisa dilakukan saat test pack tak kunjung menunjukkan dua garis biru.
1. Adopsi
Adopsi atau mengangkat anak adalah proses pengalihan hak asuh seorang anak dari orang tua kandung atau wali yang memiliki hak asuh kepada orang lain yang akan menjadi orang tua ganti bagi anak tersebut.
Mengutip berbagai sumber, secara hukum, adopsi diartikan sebagai suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.
Anak yang diasuh oleh orang tua ganti disebut sebagai anak angkat atau anak adopsi. Sementara orang tua ganti disebut sebagai orang tua angkat atau orang tua adopsi.
Menurut Ida, praktik mengangkat anak bukan hal baru di beberapa latar budaya. Dalam beberapa budaya, anak angkat menjadi alternatif untuk 'memancing' orang tua untuk kemudian mendapatkan anak biologis sendiri.
Simak alternatif untuk memiliki anak lainnya di halaman berikutnya..
2. Anak asuh
Berbeda dengan anak angkat, status anak asuh tetap menjadi anak sah dari orang tua kandungnya. Tanggung jawab orang tua asuh hanya agar anak asuh tersebut memperoleh pengasuhan yang tepat sesuai dengan haknya. Sementara, status anak angkat akan berubah.
Seperti yang diuraikan dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Sosial Nomor 21 Tahun 2013, pengasuhan anak adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan demi kepentingan terbaik anak.
3. Pelihara anabul
Sebagai pendamping, hewan peliharaan disebut dapat memuaskan kebutuhan psikologis manusia akan persahabatan dan cinta tanpa syarat. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang memperlakukan hewan peliharaan sebagai anggota keluarga mereka.
Meisa (33), misalnya, yang saat ini berpikir untuk hidup bersama anabul-anabul hingga tua nanti jika memang tak juga diberikan momongan. Berbagai cara telah dilakukan selama tujuh tahun, tapi tak juga memberikan kabar dua garis biru.
"Kami [saya dan suami] bisa hidup mengurus anabul-anabul di rumah. Toh, mereka juga sudah kami anggap anak," ujar Meisa pada CNNIndonesia.com.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa keluarga tanpa anak cenderung menganggap anjing atau kucing peliharaannya sebagai anak mereka. Sementara, studi sebelumnya telah menemukan bahwa orang dengan keterikatan hewan peliharaan yang lebih tinggi cenderung menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.
Namun demikian, psikolog klinis Monica Sulistiawati mengingatkan bahwa alternatif-alternatif tersebut bisa dipilih tergantung dari pemaknaan dan tujuan atau harapan pasangan dalam memiliki momongan.
"Jika tujuannya sekadar mengatasi rasa sepi, cara-cara alternatif tersebut dapat mengatasi rasa sepi secara utuh. Namun jika tujuannya lain, saya tidak yakin 100 persen akan terpenuhi, tetap ada yang berbeda," ucap Monica.
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu tujuan pernikahanadalah kehadiran si buah hati dalam kehidupan berumah tangga. Tapi, sayangnya tak semua orang diberikan kesempatan yang sama untuk memiliki momongan.
Faktanya, memiliki anakbukan perkara mudah. Tak cuma dengan bercinta bersama pasangan, lantas istri akan segera diberikan kehamilan.
Apalagi di zaman kiwari, usia pernikahan kian bergeser. Tak sedikit orang yang baru menikah pada usia 30 tahun ke atas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rata-rata usia menikah di Indonesia adalah 19-24 tahun. Tapi sudah bergeser juga. Sekarang malah banyak yang masuk usia 30 atau 40 baru menikah," ujar dokter spesialis kandungan Andon Hestiantoro pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Padahal, semakin tua usia pernikahan, peluang untuk mendapatkan momongan semakin menurun. Perlu diketahui, tingkat kesuburan seseorang akan menurun seiring bertambahnya usia.
Namun, kesulitan untuk mendapatkan momongan tak seharusnya menjadi akhir dari impian rumah tangga. Setiap pasangan tentunya harus bersiap ketika segala sesuatunya berjalan tidak sesuai dengan rencana awal atau apa yang diharapkan.
Di zaman kiwari, ada banyak alternatif yang bisa dipilih pasangan. Mulai dari mengadopsi anak hingga ada beberapa pasangan yang memilih hidup bersama anabul-anabulnya saat tak juga dikaruniai momongan.
Sosiolog sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia Ida Ruwaida mengatakan bahwa secara sosiologis, pola pikir masyarakat kini cenderung 'cair', termasuk gagasan atau konsepsi tentang keluarga.
"Pada dasarnya konsepsi tentang keluarga, tentang peran dan relasi dalam keluarga, juga tentang anak, mengalami pergeseran. Apalagi di era digital ini berbagai paparan informasi mudah terakses dan diakses," imbuh Ida saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (9/11).
Meski memang, pada dasarnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpandangan bahwa salah satu tujuan utama pernikahan adalah memiliki anak biologis. Namun demikian, beberapa alternatif tetap perlu dipertimbangkan, utamanya bagi pasangan yang tak juga dikaruniai momongan.
Berikut beberapa alternatif membangun keluarga yang bisa dilakukan saat test pack tak kunjung menunjukkan dua garis biru.
1. Adopsi
Adopsi atau mengangkat anak adalah proses pengalihan hak asuh seorang anak dari orang tua kandung atau wali yang memiliki hak asuh kepada orang lain yang akan menjadi orang tua ganti bagi anak tersebut.
Mengutip berbagai sumber, secara hukum, adopsi diartikan sebagai suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.
Anak yang diasuh oleh orang tua ganti disebut sebagai anak angkat atau anak adopsi. Sementara orang tua ganti disebut sebagai orang tua angkat atau orang tua adopsi.
Menurut Ida, praktik mengangkat anak bukan hal baru di beberapa latar budaya. Dalam beberapa budaya, anak angkat menjadi alternatif untuk 'memancing' orang tua untuk kemudian mendapatkan anak biologis sendiri.
Simak alternatif untuk memiliki anak lainnya di halaman berikutnya..
Anak Asuh hingga Merawat Anabul
Ilustrasi. Beberapa pasangan yang tak juga diberikan momongan tetap legowo dengan memutuskan untuk cukup mengurus hewan-hewan peliharaan di rumah. (iStock/Evrymmnt)
2. Anak asuh
Berbeda dengan anak angkat, status anak asuh tetap menjadi anak sah dari orang tua kandungnya. Tanggung jawab orang tua asuh hanya agar anak asuh tersebut memperoleh pengasuhan yang tepat sesuai dengan haknya. Sementara, status anak angkat akan berubah.
Seperti yang diuraikan dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Sosial Nomor 21 Tahun 2013, pengasuhan anak adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan demi kepentingan terbaik anak.
3. Pelihara anabul
Sebagai pendamping, hewan peliharaan disebut dapat memuaskan kebutuhan psikologis manusia akan persahabatan dan cinta tanpa syarat. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang memperlakukan hewan peliharaan sebagai anggota keluarga mereka.
Meisa (33), misalnya, yang saat ini berpikir untuk hidup bersama anabul-anabul hingga tua nanti jika memang tak juga diberikan momongan. Berbagai cara telah dilakukan selama tujuh tahun, tapi tak juga memberikan kabar dua garis biru.
"Kami [saya dan suami] bisa hidup mengurus anabul-anabul di rumah. Toh, mereka juga sudah kami anggap anak," ujar Meisa pada CNNIndonesia.com.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa keluarga tanpa anak cenderung menganggap anjing atau kucing peliharaannya sebagai anak mereka. Sementara, studi sebelumnya telah menemukan bahwa orang dengan keterikatan hewan peliharaan yang lebih tinggi cenderung menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.
Namun demikian, psikolog klinis Monica Sulistiawati mengingatkan bahwa alternatif-alternatif tersebut bisa dipilih tergantung dari pemaknaan dan tujuan atau harapan pasangan dalam memiliki momongan.
"Jika tujuannya sekadar mengatasi rasa sepi, cara-cara alternatif tersebut dapat mengatasi rasa sepi secara utuh. Namun jika tujuannya lain, saya tidak yakin 100 persen akan terpenuhi, tetap ada yang berbeda," ucap Monica.