Dipakai Gitasav untuk 'Labrak' Netizen, Benarkah Stunting Bikin Lemot?

CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 16:00 WIB
Influencer Gitasav menyebut seorang warganet pernah mengalami stunting karena dinilai lamban dalam berpikir. Apa itu stunting? Ilustrasi. Stunting memiliki efek jangka panjang berupa penurunan kognisi dan kemampuan belajar yang buruk. (iStockphoto/Khosrork)
Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah 'stunting' kini menjadi perbincangan setelah influencer Gita Savitri Devi atau yang dikenal dengan nama Gitasav berdebat dengan warganet.

Saat berdebat, Gitasav membawa istilah 'stunting' untuk menyindir warganet yang mengomentari dirinya. Gita menyindir warganet tersebut pernah terkena stunting yang membuat pola pikirnya lemah.

"Gue udah bacot-bacot, point yang lo bisa dapet adalah 'Gita emang merasa paling bener' ya sis? Dulu lo stunting kali, ya, makanya agak lamban," tulis akun @gitasav.

Sebenarnya, apa itu stunting? Apakah benar orang yang mengalami stunting cenderung lamban dalam berpikir?

Stunting adalah kondisi saat seorang anak mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini biasanya ditandai dengan tubuh yang pendek dan kurus.

Stunting, sebagaimana dijelaskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bisa terjadi karena gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak lancar. Anak-anak dikatakan stunting jika tinggi badan tidak sesuai dengan usia mereka sebenarnya.

Stunting pada awal kehidupan, khususnya pada 1000 hari pertama, memiliki konsekuensi fungsional yang merugikan anak. Beberapa konsekuensi tersebut termasuk kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk hingga kehilangan produktivitas.

Mengutip jurnal yang terbit di PubMed Central dengan judul "Early and Long-term Consequences of Nutritional Stunting: From Childhood to Adulthood", stunting memang memiliki efek jangka panjang pada individu. Efek ini termasuk kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk.

Konsekuensi stunting anak juga bersifat langsung dan jangka panjang. Beberapa konsekuensi tersebut yakni sebagai berikut:

- peningkatan morbiditas dan mortalitas,
- perkembangan anak yang buruk,
- risiko infeksi dan penyakit tidak menular meningkat,
- resistensi insulin,
- diabetes,
- hipertensi,
- hasil reproduksi ibu yang tidak menguntungkan di masa dewasa.

"Selanjutnya, anak-anak stunting yang mengalami kenaikan berat badan yang cepat setelah 2 tahun, memiliki risiko kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari," kata penelitian tersebut.

Di Indonesia sendiri, stunting masih jadi pekerjaan rumah yang tak kunjung rampung. Pada tahun 2021, angka stunting di Indonesia tercatat sebesar 24,4 persen atau menurun dari 2018 sebesar 30,8 persen.

Gif banner Allo Bank
(tst/asr)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER