Mengangkat Karl Lagerfeld, Mengapa Tema Met Gala 2023 Kontroversial?
CNN Indonesia
Selasa, 02 Mei 2023 12:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tema Met Gala 2023 yang mengangkat sosok mendiang Karl Lagerfeld dinilai kontroversial. (AFP PHOTO / PATRICK KOVARIK)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sederet selebriti dari berbagai penjuru dunia beramai-ramai menghadiri gelaran Met Gala 2023. Pada tahun ini, Met Gala digelar dengan tema "Karl Lagerfeld: A Line of Beauty".
Pada dasarnya, tema ini diangkat untuk mengenang dan menghormati mendiang sang desainer ikonik yang meninggal dunia pada 2019 lalu. Lagerfeld sendiri dikenal dengan karya-karyanya bersama Fendi, Chanel, dan merek eponimnya sendiri.
Namun, di balik karya-karyanya yang ikonik, tak semua orang menyukai kepribadian Lagerfeld. Hal inilah yang setidaknya membuat tema Met Gala 2023 dinilai cukup kontroversial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai penolakan hadir mewarnai lini masa. Salah satunya dari akun High Fashion Twitter atau @HFMetGala. Akun ini merupakan kelompok di Twitter yang ditujukan untuk penggemar high fashion atau mereka yang bekerja di industri fesyen itu sendiri.
"Mendekati hari Senin pertama di bulan Mei, tim HF Twitter Met Gala ingin menyampaikan bahwa kami tidak akan merayakan Met Gala tahun ini karena nilai-nilai kami tidak selaras dengan pemilihan Karl Lagerfeld sebagai tema," tulis mereka di Twitter, sekitar dua pekan lalu.
Dari sana, dialog soal sosok Lagerfeld yang dinilai buruk ramai di lini masa. Lagerfeld dinilai kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, mulai dari yang sifatnya fatphobia, rasial, dan misoginis.
Kejeniusan Lagerfeld dalam menelurkan karya-karya fesyen ikoniknya memang diakui di seluruh dunia. Sayangnya, sebagai seorang figur publik, Lagerfeld justru dikenal karena lidahnya yang tajam dan kurang mampu menyaring setiap pernyataannya.
Misalnya, Lagerfeld tak malu mencemooh tubuh besar wanita. Komentar itu keluar saat industri fesyen dikritik karena kurangnya inklusivitas, utamanya soal tubuh.
Ia pernah menyebut Adele 'terlalu gemuk' dan Heidi Klum 'terlalu berat'. Ia juga mengejek gerakan body positivity.
Tak cuma itu, ia juga pernah menyebut bahwa bahaya anoreksia tidak separah junk food dan televisi. Ia juga menyebut bahwa mode adalah motivasi paling sehat untuk menurunkan berat badan.
Tak cuma soal mengomentari tubuh, Lagerfeld juga pernah mengeluarkan komentar rasial, misoginis, dan Islamofobia.
Dalam wawancaranya bersama Harper's Bazaar pada tahun 2009lalu, Lagerfeld mengatakan bahwa Coco Chanel 'tidak cukup jelek untuk menjadi seorang feminis'.
Sementara pada tahun 2017, dalam sebuah acara bincang-bincang, Lagerfeld mengutuk negara asalnya, Jerman, yang menerima pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim.
Simak kontroversi sosok Karl Lagerfeld di halaman berikutnya..
Salah satu tanggapan Lagerfeld yang paling meresahkan adalah saat gerakan #MeToo tengah ramai di dunia. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2018, ia justru membela penata gaya Karl Templer yang ditubuh melakukan pelecehan seksual terhadap banyak mode. Ia bahkan mengaku muak dengan gerakan #MeToo.
"Ini sulit dipercaya! Jika Anda tak ingin celana Anda ditarik, jangan menjadi model, Bergabunglah dengan para biarawati, akan selalu ada tempat untukmu di biara," ujar Lagerfeld.
Dinilai wajar
Amy Odell, penulis buku biografi Anna Wintour, mengaku tak heran mengapa Lagerfeld tetap dielu-elukan di dunia fesyen, terlepas dari berbagai pernyataan kontroversialnnya.
"Ini [industri fesyen] adalah industri yang dibangun di atas elitisme dan orang-orang yang tidak mau mengakui garis kesalahan," ujar Odell, kepada Time.
Lebih lanjut, Odell juga menilai sulit untuk membuat hal-hal yang sifatnya sosial dan komersial berjalan beriringan di industri fesyen.
"Saya pikir itu menciptakan banyak gesekan, karena fesyen adalah industri yang cukup liberal dan Anda diharapkan memiliki nilai-nilai tertentu. Namun, akan sulit melakukannya jika Anda adalah entitas komersial," jelas Odell.
Pendapat lain juga diungkapkan oleh penulis fesyen Emily Kirkpatrick. Ia percaya bahwa Met Gala tahun ini adalah bagian dari upaya untuk membersihkan atau menulis ulang warisan Lagerfeld dengan fokus hanya pada karyanya, bukan pada pribadinya.
"Karl menghasilkan banyak karya yang berpengaruh, tapi dia juga seorang bajingan dengan beberapa komentar yang sangat buruk. Lebih mudah bagi kita untuk menggunakan barang-barang cantik tanpa memperhitungkan cerita mengerikan di baliknya," ujar Kirkpatrick.
Kirkpatrick tak berpikir bahwa karya Lagerfeld harus ditolak atau tidak diakui karena komentar-komentarnya yang buruk. Bagaimanapun, ia percaya bahwa penting untuk melihat bagaimana kontribusi Lagerfeld dalam dunia mode.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sederet selebriti dari berbagai penjuru dunia beramai-ramai menghadiri gelaran Met Gala 2023. Pada tahun ini, Met Gala digelar dengan tema "Karl Lagerfeld: A Line of Beauty".
Pada dasarnya, tema ini diangkat untuk mengenang dan menghormati mendiang sang desainer ikonik yang meninggal dunia pada 2019 lalu. Lagerfeld sendiri dikenal dengan karya-karyanya bersama Fendi, Chanel, dan merek eponimnya sendiri.
Namun, di balik karya-karyanya yang ikonik, tak semua orang menyukai kepribadian Lagerfeld. Hal inilah yang setidaknya membuat tema Met Gala 2023 dinilai cukup kontroversial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai penolakan hadir mewarnai lini masa. Salah satunya dari akun High Fashion Twitter atau @HFMetGala. Akun ini merupakan kelompok di Twitter yang ditujukan untuk penggemar high fashion atau mereka yang bekerja di industri fesyen itu sendiri.
"Mendekati hari Senin pertama di bulan Mei, tim HF Twitter Met Gala ingin menyampaikan bahwa kami tidak akan merayakan Met Gala tahun ini karena nilai-nilai kami tidak selaras dengan pemilihan Karl Lagerfeld sebagai tema," tulis mereka di Twitter, sekitar dua pekan lalu.
Dari sana, dialog soal sosok Lagerfeld yang dinilai buruk ramai di lini masa. Lagerfeld dinilai kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, mulai dari yang sifatnya fatphobia, rasial, dan misoginis.
Kejeniusan Lagerfeld dalam menelurkan karya-karya fesyen ikoniknya memang diakui di seluruh dunia. Sayangnya, sebagai seorang figur publik, Lagerfeld justru dikenal karena lidahnya yang tajam dan kurang mampu menyaring setiap pernyataannya.
Misalnya, Lagerfeld tak malu mencemooh tubuh besar wanita. Komentar itu keluar saat industri fesyen dikritik karena kurangnya inklusivitas, utamanya soal tubuh.
Ia pernah menyebut Adele 'terlalu gemuk' dan Heidi Klum 'terlalu berat'. Ia juga mengejek gerakan body positivity.
Tak cuma itu, ia juga pernah menyebut bahwa bahaya anoreksia tidak separah junk food dan televisi. Ia juga menyebut bahwa mode adalah motivasi paling sehat untuk menurunkan berat badan.
Tak cuma soal mengomentari tubuh, Lagerfeld juga pernah mengeluarkan komentar rasial, misoginis, dan Islamofobia.
Dalam wawancaranya bersama Harper's Bazaar pada tahun 2009lalu, Lagerfeld mengatakan bahwa Coco Chanel 'tidak cukup jelek untuk menjadi seorang feminis'.
Sementara pada tahun 2017, dalam sebuah acara bincang-bincang, Lagerfeld mengutuk negara asalnya, Jerman, yang menerima pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim.
Simak kontroversi sosok Karl Lagerfeld di halaman berikutnya..
Tema Karl Lagerfeld untuk Met Gala 2023 dinilai wajar
Tema Met Gala 2023 yang mengangkat sosok Karl Lagerfeld dinilai kontroversial. (Evan Agostini/Invision/AP/Evan Agostini)
Salah satu tanggapan Lagerfeld yang paling meresahkan adalah saat gerakan #MeToo tengah ramai di dunia. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2018, ia justru membela penata gaya Karl Templer yang ditubuh melakukan pelecehan seksual terhadap banyak mode. Ia bahkan mengaku muak dengan gerakan #MeToo.
"Ini sulit dipercaya! Jika Anda tak ingin celana Anda ditarik, jangan menjadi model, Bergabunglah dengan para biarawati, akan selalu ada tempat untukmu di biara," ujar Lagerfeld.
Dinilai wajar
Amy Odell, penulis buku biografi Anna Wintour, mengaku tak heran mengapa Lagerfeld tetap dielu-elukan di dunia fesyen, terlepas dari berbagai pernyataan kontroversialnnya.
"Ini [industri fesyen] adalah industri yang dibangun di atas elitisme dan orang-orang yang tidak mau mengakui garis kesalahan," ujar Odell, kepada Time.
Lebih lanjut, Odell juga menilai sulit untuk membuat hal-hal yang sifatnya sosial dan komersial berjalan beriringan di industri fesyen.
"Saya pikir itu menciptakan banyak gesekan, karena fesyen adalah industri yang cukup liberal dan Anda diharapkan memiliki nilai-nilai tertentu. Namun, akan sulit melakukannya jika Anda adalah entitas komersial," jelas Odell.
Pendapat lain juga diungkapkan oleh penulis fesyen Emily Kirkpatrick. Ia percaya bahwa Met Gala tahun ini adalah bagian dari upaya untuk membersihkan atau menulis ulang warisan Lagerfeld dengan fokus hanya pada karyanya, bukan pada pribadinya.
"Karl menghasilkan banyak karya yang berpengaruh, tapi dia juga seorang bajingan dengan beberapa komentar yang sangat buruk. Lebih mudah bagi kita untuk menggunakan barang-barang cantik tanpa memperhitungkan cerita mengerikan di baliknya," ujar Kirkpatrick.
Kirkpatrick tak berpikir bahwa karya Lagerfeld harus ditolak atau tidak diakui karena komentar-komentarnya yang buruk. Bagaimanapun, ia percaya bahwa penting untuk melihat bagaimana kontribusi Lagerfeld dalam dunia mode.