Mengenal Salt Therapy yang Dipakai Nikita Willy untuk Tangkal Polutan
CNN Indonesia
Rabu, 23 Agu 2023 16:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Aktris Nikita Willy menggunakan salt therapy untuk putranya baby Izz demi menangkal dampak buruk polusi udara. (iStockphoto/Detry26)
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu cara melindungi tubuh, terutama area pernapasan dari jahatnya polusi udara adalah dengan melakukan salt therapy atau terapi garam. Hal ini bahkan dilakukan oleh artis Nikita Willy untuk anaknya, Issa Xander Djokosoetono atau baby Izz.
Polusi yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia memang sangat berbahaya untuk kesehatan, apalagi untuk bayi. Terapi garam pun bisa jadi salah satu solusi untuk membersihkan sistem pernapasan dari paparan buruk polusi.
Lantas, apa sebenarnya salt therapy atau terapi garam?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terapi garam merupakan salah satu pengobatan alami yang melibatkan garam kering untuk dihirup. Terapi biasanya dilakukan di ruangan yang nyaman dan banyak diterapkan untuk anak-anak.
Menukil laman Salt of the Earth, terapi ini dilakukan dengan tujuan agar partikel garam mikroskopis bisa terhirup oleh paru-paru. Terapi ini diyakini bisa membantu menenangkan berbagai kondisi kulit dan masalah pernapasan.
Terapi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1843 oleh seorang dokter Polandia, yakni Felix Boczkowski.
Kala itu, dia menemukan fakta bahwa dibandingkan dengan orang luar lainnya, orang-orang yang bekerja di tambang garam sangat sedikit mengalami masalah pernapasan.
Dia kemudian menghubungkan kejadian tersebut dengan aerosol garam yang dihirup para penambang. Saat para pekerja menambang garam, partikel garam berukuran mikro tersebar ke udara.
Partikel mikro ini sangat mudah terhirup oleh para penambang. Dari sinilah keyakinan bahwa garam memang baik untuk kesehatan, terutama saluran pernapasan pun muncul.
Seiring waktu, tempat penambangan garam pun banyak yang disulap menjadi tempat pengobatan terapeutik. Bahkan beberapa negara, misalnya di Polandia, Rusia, Belarusia, Rumanisa, Azerbaijan, Armenia, Slovakia, dan Ukraina secara terang-terangan melakukan hal ini.
Hingga pada 1980, Institut Penelitian Sains Odessa di Ukraina mengembangkan perangkat Haloterapi. Nama terakhir merupakan mesin penghancur garam yang hingga kini dikenal sebagai alat terapi garam modern.
Apakah terapi garam efektif?
Ilustrasi. Nikita Willy menggunakan salt therapy untuk menangkal dampak buruk polusi udara pada putranya. (iStockphoto/SMarina)
Garam memiliki sifat anti-inflamasi dan antibakteri alami. Setelah terhirup, garam akan membuat lendir di hidung dan sistem pernapasan mencair dan jadi lebih mudah dikeluarkan.
Saat lendir keluar, garam juga akan menarik patogen, kotoran, dan polutan yang sempat terhirup.
Selain itu, partikel garam juga bisa merangsang pergerakan silia alami di tubuh. Silia bisa membantu menjaga saluran pernapasan tetap bersih dari lendir dan kotoran.
Simak cara melakukan salt therapy di halaman berikutnya..
Tak cuma untuk pernapasan, tapi garam juga bagus untuk kulit. Pasalnya, garam kering bisa menyerap kotoran, mengatur tingkat pH, dan meningkatkan bakteri baik pada kulit.
Berikut beberapa masalah kesehatan yang diklaim menjadi lebih baik setelah melakukan terapi garam, mengutip berbagai sumber:
- asma, - bronkitis, - radang di selaput lendir, - penyakit paru obstruktif kronis, - emfisema, - keluhan kulit dan penuaan, - infeksi kulit, - psoriasis, - eksim.
Terapi garam sendiri terdiri dari dua jenis. Berikut di antaranya, mengutip WebMD.
1. Terapi garam kering
Haloterapi biasanya menggunakan garam kering dengan bantuan mesin halogenerator atau alat yang memecah garam menjadi partikel-partikel kecil yang bersirkulasi dalam ruang.
Cara ini memungkinkan partikel garam yang kecil dan kering menyebar di udara dan masuk ke paru-paru.
2. Terapi garam basah
Terapi ini dilakukan dengan mandi menggunakan air asin yang mengandung mineral. Selain mandi, terapi juga bisa dilakukan dengan berkumur atau minum air asin.
Sementara cara lain melakukan salt therapy jenis ini adalah dengan mengalirkan air asin melalui saluran hidung.
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu cara melindungi tubuh, terutama area pernapasan dari jahatnya polusi udara adalah dengan melakukan salt therapy atau terapi garam. Hal ini bahkan dilakukan oleh artis Nikita Willy untuk anaknya, Issa Xander Djokosoetono atau baby Izz.
Polusi yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia memang sangat berbahaya untuk kesehatan, apalagi untuk bayi. Terapi garam pun bisa jadi salah satu solusi untuk membersihkan sistem pernapasan dari paparan buruk polusi.
Lantas, apa sebenarnya salt therapy atau terapi garam?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terapi garam merupakan salah satu pengobatan alami yang melibatkan garam kering untuk dihirup. Terapi biasanya dilakukan di ruangan yang nyaman dan banyak diterapkan untuk anak-anak.
Menukil laman Salt of the Earth, terapi ini dilakukan dengan tujuan agar partikel garam mikroskopis bisa terhirup oleh paru-paru. Terapi ini diyakini bisa membantu menenangkan berbagai kondisi kulit dan masalah pernapasan.
Terapi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1843 oleh seorang dokter Polandia, yakni Felix Boczkowski.
Kala itu, dia menemukan fakta bahwa dibandingkan dengan orang luar lainnya, orang-orang yang bekerja di tambang garam sangat sedikit mengalami masalah pernapasan.
Dia kemudian menghubungkan kejadian tersebut dengan aerosol garam yang dihirup para penambang. Saat para pekerja menambang garam, partikel garam berukuran mikro tersebar ke udara.
Partikel mikro ini sangat mudah terhirup oleh para penambang. Dari sinilah keyakinan bahwa garam memang baik untuk kesehatan, terutama saluran pernapasan pun muncul.
Seiring waktu, tempat penambangan garam pun banyak yang disulap menjadi tempat pengobatan terapeutik. Bahkan beberapa negara, misalnya di Polandia, Rusia, Belarusia, Rumanisa, Azerbaijan, Armenia, Slovakia, dan Ukraina secara terang-terangan melakukan hal ini.
Hingga pada 1980, Institut Penelitian Sains Odessa di Ukraina mengembangkan perangkat Haloterapi. Nama terakhir merupakan mesin penghancur garam yang hingga kini dikenal sebagai alat terapi garam modern.
Apakah terapi garam efektif?
Ilustrasi. Nikita Willy menggunakan salt therapy untuk menangkal dampak buruk polusi udara pada putranya. (iStockphoto/SMarina)
Garam memiliki sifat anti-inflamasi dan antibakteri alami. Setelah terhirup, garam akan membuat lendir di hidung dan sistem pernapasan mencair dan jadi lebih mudah dikeluarkan.
Saat lendir keluar, garam juga akan menarik patogen, kotoran, dan polutan yang sempat terhirup.
Selain itu, partikel garam juga bisa merangsang pergerakan silia alami di tubuh. Silia bisa membantu menjaga saluran pernapasan tetap bersih dari lendir dan kotoran.
Simak cara melakukan salt therapy di halaman berikutnya..
Cara melakukan salt therapy
Ilustrasi. Salt therapy diklaim ampuh memberihkan saluran pernapasan dari polutan. (Istockphoto/Leylaynr)
Tak cuma untuk pernapasan, tapi garam juga bagus untuk kulit. Pasalnya, garam kering bisa menyerap kotoran, mengatur tingkat pH, dan meningkatkan bakteri baik pada kulit.
Berikut beberapa masalah kesehatan yang diklaim menjadi lebih baik setelah melakukan terapi garam, mengutip berbagai sumber:
- asma, - bronkitis, - radang di selaput lendir, - penyakit paru obstruktif kronis, - emfisema, - keluhan kulit dan penuaan, - infeksi kulit, - psoriasis, - eksim.
Terapi garam sendiri terdiri dari dua jenis. Berikut di antaranya, mengutip WebMD.
1. Terapi garam kering
Haloterapi biasanya menggunakan garam kering dengan bantuan mesin halogenerator atau alat yang memecah garam menjadi partikel-partikel kecil yang bersirkulasi dalam ruang.
Cara ini memungkinkan partikel garam yang kecil dan kering menyebar di udara dan masuk ke paru-paru.
2. Terapi garam basah
Terapi ini dilakukan dengan mandi menggunakan air asin yang mengandung mineral. Selain mandi, terapi juga bisa dilakukan dengan berkumur atau minum air asin.
Sementara cara lain melakukan salt therapy jenis ini adalah dengan mengalirkan air asin melalui saluran hidung.