Vietnam Bukan Cuma Sekadar Hanoi, Masih Ada Da Nang dan Ho Chi Minh
CNN Indonesia
Rabu, 13 Sep 2023 13:22 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Hanoi yang populer dan kerap jadi bahan konten di Instagram kali ini tak jadi tempat plesiran utama melainkan Ho Chi Minh City dan Da Nang. Ada apa di sana?(Bloomberg via Getty Images/Bloomberg)
Jakarta, CNN Indonesia --
Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar soal Vietnam? Kebanyakan pasti Pho, Hanoi, dan murahnya. Ya semuanya itu memang tak salah. Sebenarnya, lebih dari itu, Vietnam banyak punya hidden gem yang patut dikulik lebih lanjut.
Hanoi yang populer dan kerap jadi bahan konten di Instagram kali ini tak jadi tempat plesiran utama melainkan Ho Chi Minh City dan Da Nang.
Perjalanan dari Jakarta dengan tiket tujuan ke Ho Chi Minh City menggunakan pesawat Vietjet Air ditempuh selama 3 jam. Meski tiketnya terbilang murah untuk perjalanan ini yaitu berkisar antara Rp0-900 ribu di hari-hari tertentu, namun dengan fasilitas SkyBoss, perjalanan jadi lebih menyenangkan karena bisa menikmati in flight food sepuasnya dan fasilitas layaknya penumpang kelas bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampainya di Ho Chi Minh, perjalanan dilanjutkan ke Da Nang selama 1 jam. Meskipun sudah nyaris malam sampai di Da Nang, namun seporsi makan malam tak akan merugikan buat mengenyangkan perut malam itu sebelum tidur pulas di hotel.
Hari kedua di Da Nang dimulai dengan sedikit olahraga sebelum sarapan pagi. Hotel yang ditempati memang berada di tepi pantai, kebetulah hari itu hari Minggu, pantai pun sudah dipenuhi penduduk lokal di pagi hari. Pemandu wisata kami, Chau Quang Huong Duong atau yang disapa Joko mengungkapkan Da Nang memang salah satu lokasi destinasi pantai yang populer di Vietnam. Tak cuma itu, pemerintah kota setempat memang mengubah pantai kota itu yang dulunya kotor menjadi super bersih dengan mengangkut semua sampah di pantai.
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Ba Na Hills. Mungkin destinasi ini belum begitu populer di telinga, tapi kalau menyebut golden hand bridge atau si tangan raksasa. Sejak beberapa tahun lalu, jembatan tangan raksasa ini memang banyak populer dan instagramable.
Hanya saja Golden Hand Bridge adalah salah satu dari sekian banyak atraksi di Ba Na Hills. Di theme park yang luas ini ada desa Eropa kecil yang indah sampai kereta gantung tinggi yang super panjang. Sebelum mencapai ke golden bridge, para pengunjung terlebih dulu harus naik kereta gantung selama setidaknya 30 menit. Di ketinggian itu, udara yang panas di bawah berubah menjadi dingin dengan terpaan angin yang cukup kencang. Bahkan saat antre di golden bridge untuk berfoto, hujan rintik sempat turun.
Usai makan siang di restoran all you can eat di theme park tersebut, pengunjung juga bisa menikmati berbagai atraksi lain seperti roller coaster, indoor theme park, sampai deretan jajanan yang menggoda lidah.
Bahn Mi di kota tua Hoi An
Setelah puas bermain-main di theme park, perjalanan dilanjutkan ke kota tua Hoi An. Kota tua ini berjarak tak jauh dari Da Nang, setidaknya 1 jam perjalanan menggunakan bus. Sayangnya bus tak bisa masuk sampai jauh ke dalam kota tua. Saat di parkiran bus, sebuah mobil wisata tua sudah siap sedia buat mengantar sampai ke dalam kota tua.
Di situ, Joko sempat bercerita soal betapa tersohornya banh mi di situ lantaran jadi salah satu gerai sandwich ala Vietnam yang pernah dicicipi oleh legenda kuliner Anthony Bourdain.
Asal mula Banh mi dimulai pada pertengahan abad 19 saat Vietnam berada di bawah jajahan Perancis. Saat orang Vietnam memakan sarapan roti mereka seperti biasa, dilapisi dengan irisan daging, mentega, keju atau pate, Prancis masuk dengan membawa baguette mereka.
Salah satu jenis banh mi paling terkenal adalah banh mi Phuong di Hoi An Old City. Dalam No Reservations "There's No Place Like Home" Anthony menggambarkan bagaimana dia berkeliling kota tua Hoi An dan berhenti untuk menikmati seporsi banh mi. Bahkan dia mendeskripsikannya sebagai the best banh mi in town.
Pengunjungnya cukup ramai dan rata-rata mereka mengantre di depan kedai. Joko bilang, kalau ingin antre lebih cepat, pengunjung lebih baik makan di tempat dibanding take away.
Benar saja, saat yang lain masih pada antre di bawah, kami yang duduk di atas sudah menikmati seporsi banh mi dengan tambahan irisan pork,ayam, beef, atau bahkan vegetarian.
Usai puas menikmati banh mi, sedikit jalan kaki diperlukan untuk melonggarkan ikat pinggang. Hoi An yang banyak dipisahkan oleh kanal-kanal yang lebar membuat penduduk lokal membuka banyak bisnis di sana dari jualan lampion, restoran, becak, sampai menyewakan perahu untuk membelah kanal.
Seperti kebanyakan akhir pekan di Jakarta yang selalu ramai, kota tua Hoi An juga ramai malam itu. Gelapnya malam diterangi dengan cahaya lampion yang temaram dan berkelap-kelip.
Lampu-lampu ini membuat suasana kota tua jadi semakin cantik. Pengunjung pun banyak berfoto di sekitar kota tua. Beberapa orang bahkan menjajal untuk naik becak atau mengarungi kanal kecil dengan perahu sewaan. Beberapa lainnya memilih untuk menyalakan lilin sembari menaruh harapan dan doa-doa mereka. Lelah berjalan seharian, kami memutuskan untuk kembali ke hotel di Da Nang.
Namun malam masih belum larut, tak ada salahnya buat sedikit berjalan-jalan di sekitaran hotel. Kata Joko, ada pasar malam yang dekat dari hotel. Sayangnya usai jalan kaki setidaknya 2 km, kami tak kunjung menemukan pasar malam itu dan akhirnya memutuskan kembali ke hotel.
Hari ketiga di Da Nang. Saatnya kami harus kembali Ho Chi Minh untuk melanjutkan perjalanan. Namun sebelum kembali ke bandara, rasa penasaran untuk naik coconut boat di 'desa kelapa' harus dituntaskan.
Ada alasannya kenapa disebut coconut boat. Perahu yang ditumpangi oleh 2 orang penumpang dan 1 nahkoda ini berbentuk setengah lingkaran seperti kelapa yang dibelah menjadi dua. Ukuran perahunya cukup besar dan pastinya aman. Anda akan dibawa untuk mengarungi danau yang cukup luas. Tenang saja, semuanya tak semulus harapan. Sama seperti kehidupan, coconut boat ini juga ada riak-riak ombak yang bakal mengguncang perahu. Tapi tenang, semua aman terkendali karena semua ini ombak buatan.
Perjalanan mengarungi sungai ini memakan waktu setidaknya 1 jam karena harus melewati berbagai atraksi seperti perahu goyang, teriakan Indonesia dan Vietnam, lomba balap perahu, sampai karaoke di tengah danau. Meski sedikit takut tercebur namun perahu ini tetap atraksi yang wajib disambangi.
Permainan perahu kelapa ini menjadi atraksi terakhir di Da Nang. Perjalanan dilanjutkan ke Ho Chi Minh City dilakukan dengan pesawat Vietjet selama 1 jam. Sesampainya di Ho Chi Minh City, kami dibawa berkeliling kota sembari mendengarkan cerita tentang sejarah kota tersebut.
Secara resmi, nama kota metropolitan di selatan adalah Kota Ho Chi Minh, dan sudah ada selama bertahun-tahun, namun masih ada sejumlah penduduk lokal dan pengunjung yang menyebutnya Saigon. Pentingnya dua sebutan berbeda ini berawal dari Perang Vietnam, yang berakhir belum lama ini pada tahun 1975. Meski sering disebut sebagai Perang Amerika, sejarahnya sedikit lebih rumit dari sekadar 'Vietnam versus Amerika'. Perang ini juga dijelaskan dalam museum perang yang jadi agenda wajib untuk disambangi.
Di dalam museum yang terletak di tengah kota ini, pengunjung bisa melihat berbagai kekejaman perang yang terjadi saat ini termasuk dengan serangan agent orange yang menelan banyak korban. Museum ini berisi berbagai foto perang dan korban-korbannya. Meski menjadi bagian dari sejarah, namun jika kamu termasuk orang yang takut darah ada baiknya untuk berpikir ulang.
Di bagian depan museum, berbatasan dengan kantor pos dan gereja Notre Dame Cathedral yang ikonik. Usai mengunjungi museum, jangan lupa untuk menyempatkan foto di kedua tempat ikonik tersebut. Hanya saja yang disayangkan gereja ini masih dalam tahap perbaikan yang diperkirakan selesai dalam 6 tahun ke depan.
Setelahnya, bergegaslah untuk pergi ke ben thanh market, pasar murah untuk shopping. Kamu harus sedikit berburu dengan waktu lantaran pasar ini hanya buka sampai jam 6 sore saja. Nah kalau buat pecinta shopping, pasar ini dijamin bisa bikin kamu kalap belanja.
Kamu bisa belanja berbagai oleh-oleh dari magnet kulkas, celana panjang, celana pendek, kaos bertuliskan vietnam, aneka camilan, dan kopi vietnam yang tersohor itu. Namun jangan lupa saat belanja harus ditawar ya sebelum beli.
Kalau lapar di bagian belakang pasar juga ada gerai-gerai yang menjual berbagai makanan khas termasuk pho yang enak.
Cu Chi Tunnel
Satu kunjungan yang tak akan dilewatkan adalah mengunjungi Cu Chi Tunnel, sebuah lokasi perang antara Vietnam dan Amerika.
Di hutan ini, sebuah film perjuangan bakal diputarkan. Ini akan menggambarkan betapa sengitnya perjuangan melawan penjajah. Pengunjung juga bisa merasakan sendiri berjalan mengelilingi hutan di Ho Chi Minh dan menjadi pejuang Vietkong.
Tak cuma itu, berbagai jebakan yang dipakai untuk menjebak penjajah, terowongan bawah tanah, dan juga latihan menembak juga bisa dilakukan. Usai berjalan sepanjang hutan, singkong rebus yang dicocol dengan gula pasir dan juga sesesap teh hangat aroma pandan bakal jadi pamungkas untuk menyudahi petualangan di Cu Chi Tunnel.
Jakarta, CNN Indonesia --
Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar soal Vietnam? Kebanyakan pasti Pho, Hanoi, dan murahnya. Ya semuanya itu memang tak salah. Sebenarnya, lebih dari itu, Vietnam banyak punya hidden gem yang patut dikulik lebih lanjut.
Hanoi yang populer dan kerap jadi bahan konten di Instagram kali ini tak jadi tempat plesiran utama melainkan Ho Chi Minh City dan Da Nang.
Perjalanan dari Jakarta dengan tiket tujuan ke Ho Chi Minh City menggunakan pesawat Vietjet Air ditempuh selama 3 jam. Meski tiketnya terbilang murah untuk perjalanan ini yaitu berkisar antara Rp0-900 ribu di hari-hari tertentu, namun dengan fasilitas SkyBoss, perjalanan jadi lebih menyenangkan karena bisa menikmati in flight food sepuasnya dan fasilitas layaknya penumpang kelas bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampainya di Ho Chi Minh, perjalanan dilanjutkan ke Da Nang selama 1 jam. Meskipun sudah nyaris malam sampai di Da Nang, namun seporsi makan malam tak akan merugikan buat mengenyangkan perut malam itu sebelum tidur pulas di hotel.
Hari kedua di Da Nang dimulai dengan sedikit olahraga sebelum sarapan pagi. Hotel yang ditempati memang berada di tepi pantai, kebetulah hari itu hari Minggu, pantai pun sudah dipenuhi penduduk lokal di pagi hari. Pemandu wisata kami, Chau Quang Huong Duong atau yang disapa Joko mengungkapkan Da Nang memang salah satu lokasi destinasi pantai yang populer di Vietnam. Tak cuma itu, pemerintah kota setempat memang mengubah pantai kota itu yang dulunya kotor menjadi super bersih dengan mengangkut semua sampah di pantai.
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Ba Na Hills. Mungkin destinasi ini belum begitu populer di telinga, tapi kalau menyebut golden hand bridge atau si tangan raksasa. Sejak beberapa tahun lalu, jembatan tangan raksasa ini memang banyak populer dan instagramable.
Hanya saja Golden Hand Bridge adalah salah satu dari sekian banyak atraksi di Ba Na Hills. Di theme park yang luas ini ada desa Eropa kecil yang indah sampai kereta gantung tinggi yang super panjang. Sebelum mencapai ke golden bridge, para pengunjung terlebih dulu harus naik kereta gantung selama setidaknya 30 menit. Di ketinggian itu, udara yang panas di bawah berubah menjadi dingin dengan terpaan angin yang cukup kencang. Bahkan saat antre di golden bridge untuk berfoto, hujan rintik sempat turun.
Usai makan siang di restoran all you can eat di theme park tersebut, pengunjung juga bisa menikmati berbagai atraksi lain seperti roller coaster, indoor theme park, sampai deretan jajanan yang menggoda lidah.
Bahn Mi di kota tua Hoi An
Setelah puas bermain-main di theme park, perjalanan dilanjutkan ke kota tua Hoi An. Kota tua ini berjarak tak jauh dari Da Nang, setidaknya 1 jam perjalanan menggunakan bus. Sayangnya bus tak bisa masuk sampai jauh ke dalam kota tua. Saat di parkiran bus, sebuah mobil wisata tua sudah siap sedia buat mengantar sampai ke dalam kota tua.
Di situ, Joko sempat bercerita soal betapa tersohornya banh mi di situ lantaran jadi salah satu gerai sandwich ala Vietnam yang pernah dicicipi oleh legenda kuliner Anthony Bourdain.
Asal mula Banh mi dimulai pada pertengahan abad 19 saat Vietnam berada di bawah jajahan Perancis. Saat orang Vietnam memakan sarapan roti mereka seperti biasa, dilapisi dengan irisan daging, mentega, keju atau pate, Prancis masuk dengan membawa baguette mereka.
Salah satu jenis banh mi paling terkenal adalah banh mi Phuong di Hoi An Old City. Dalam No Reservations "There's No Place Like Home" Anthony menggambarkan bagaimana dia berkeliling kota tua Hoi An dan berhenti untuk menikmati seporsi banh mi. Bahkan dia mendeskripsikannya sebagai the best banh mi in town.
Pengunjungnya cukup ramai dan rata-rata mereka mengantre di depan kedai. Joko bilang, kalau ingin antre lebih cepat, pengunjung lebih baik makan di tempat dibanding take away.
Benar saja, saat yang lain masih pada antre di bawah, kami yang duduk di atas sudah menikmati seporsi banh mi dengan tambahan irisan pork,ayam, beef, atau bahkan vegetarian.
Usai puas menikmati banh mi, sedikit jalan kaki diperlukan untuk melonggarkan ikat pinggang. Hoi An yang banyak dipisahkan oleh kanal-kanal yang lebar membuat penduduk lokal membuka banyak bisnis di sana dari jualan lampion, restoran, becak, sampai menyewakan perahu untuk membelah kanal.
Seperti kebanyakan akhir pekan di Jakarta yang selalu ramai, kota tua Hoi An juga ramai malam itu. Gelapnya malam diterangi dengan cahaya lampion yang temaram dan berkelap-kelip.
Lampu-lampu ini membuat suasana kota tua jadi semakin cantik. Pengunjung pun banyak berfoto di sekitar kota tua. Beberapa orang bahkan menjajal untuk naik becak atau mengarungi kanal kecil dengan perahu sewaan. Beberapa lainnya memilih untuk menyalakan lilin sembari menaruh harapan dan doa-doa mereka. Lelah berjalan seharian, kami memutuskan untuk kembali ke hotel di Da Nang.
Namun malam masih belum larut, tak ada salahnya buat sedikit berjalan-jalan di sekitaran hotel. Kata Joko, ada pasar malam yang dekat dari hotel. Sayangnya usai jalan kaki setidaknya 2 km, kami tak kunjung menemukan pasar malam itu dan akhirnya memutuskan kembali ke hotel.
Perahu Kelapa sampai Cu Chi Tunnels
Foto: Jorge Láscar via Wikimedia Commons (CC-BY-2.0)
Hari ketiga di Da Nang. Saatnya kami harus kembali Ho Chi Minh untuk melanjutkan perjalanan. Namun sebelum kembali ke bandara, rasa penasaran untuk naik coconut boat di 'desa kelapa' harus dituntaskan.
Ada alasannya kenapa disebut coconut boat. Perahu yang ditumpangi oleh 2 orang penumpang dan 1 nahkoda ini berbentuk setengah lingkaran seperti kelapa yang dibelah menjadi dua. Ukuran perahunya cukup besar dan pastinya aman. Anda akan dibawa untuk mengarungi danau yang cukup luas. Tenang saja, semuanya tak semulus harapan. Sama seperti kehidupan, coconut boat ini juga ada riak-riak ombak yang bakal mengguncang perahu. Tapi tenang, semua aman terkendali karena semua ini ombak buatan.
Perjalanan mengarungi sungai ini memakan waktu setidaknya 1 jam karena harus melewati berbagai atraksi seperti perahu goyang, teriakan Indonesia dan Vietnam, lomba balap perahu, sampai karaoke di tengah danau. Meski sedikit takut tercebur namun perahu ini tetap atraksi yang wajib disambangi.
Permainan perahu kelapa ini menjadi atraksi terakhir di Da Nang. Perjalanan dilanjutkan ke Ho Chi Minh City dilakukan dengan pesawat Vietjet selama 1 jam. Sesampainya di Ho Chi Minh City, kami dibawa berkeliling kota sembari mendengarkan cerita tentang sejarah kota tersebut.
Secara resmi, nama kota metropolitan di selatan adalah Kota Ho Chi Minh, dan sudah ada selama bertahun-tahun, namun masih ada sejumlah penduduk lokal dan pengunjung yang menyebutnya Saigon. Pentingnya dua sebutan berbeda ini berawal dari Perang Vietnam, yang berakhir belum lama ini pada tahun 1975. Meski sering disebut sebagai Perang Amerika, sejarahnya sedikit lebih rumit dari sekadar 'Vietnam versus Amerika'. Perang ini juga dijelaskan dalam museum perang yang jadi agenda wajib untuk disambangi.
Di dalam museum yang terletak di tengah kota ini, pengunjung bisa melihat berbagai kekejaman perang yang terjadi saat ini termasuk dengan serangan agent orange yang menelan banyak korban. Museum ini berisi berbagai foto perang dan korban-korbannya. Meski menjadi bagian dari sejarah, namun jika kamu termasuk orang yang takut darah ada baiknya untuk berpikir ulang.
Di bagian depan museum, berbatasan dengan kantor pos dan gereja Notre Dame Cathedral yang ikonik. Usai mengunjungi museum, jangan lupa untuk menyempatkan foto di kedua tempat ikonik tersebut. Hanya saja yang disayangkan gereja ini masih dalam tahap perbaikan yang diperkirakan selesai dalam 6 tahun ke depan.
Setelahnya, bergegaslah untuk pergi ke ben thanh market, pasar murah untuk shopping. Kamu harus sedikit berburu dengan waktu lantaran pasar ini hanya buka sampai jam 6 sore saja. Nah kalau buat pecinta shopping, pasar ini dijamin bisa bikin kamu kalap belanja.
Kamu bisa belanja berbagai oleh-oleh dari magnet kulkas, celana panjang, celana pendek, kaos bertuliskan vietnam, aneka camilan, dan kopi vietnam yang tersohor itu. Namun jangan lupa saat belanja harus ditawar ya sebelum beli.
Kalau lapar di bagian belakang pasar juga ada gerai-gerai yang menjual berbagai makanan khas termasuk pho yang enak.
Cu Chi Tunnel
Satu kunjungan yang tak akan dilewatkan adalah mengunjungi Cu Chi Tunnel, sebuah lokasi perang antara Vietnam dan Amerika.
Di hutan ini, sebuah film perjuangan bakal diputarkan. Ini akan menggambarkan betapa sengitnya perjuangan melawan penjajah. Pengunjung juga bisa merasakan sendiri berjalan mengelilingi hutan di Ho Chi Minh dan menjadi pejuang Vietkong.
Tak cuma itu, berbagai jebakan yang dipakai untuk menjebak penjajah, terowongan bawah tanah, dan juga latihan menembak juga bisa dilakukan. Usai berjalan sepanjang hutan, singkong rebus yang dicocol dengan gula pasir dan juga sesesap teh hangat aroma pandan bakal jadi pamungkas untuk menyudahi petualangan di Cu Chi Tunnel.