Mengintip Rupa Tenun di Tangan 15 Desainer dan Jenama Tanah Air
CNN Indonesia
Rabu, 08 Nov 2023 20:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sebanyak 15 desainer dan jenama tanah air memamerkan kreasinya dengan tenun di gelaran Langgam 15 yakni perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia (CTI).(Dok. Cita Tenun Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tenun semakin indah saat berada di tangan yang tepat. Sebanyak 15 desainer dan jenama tanah air memamerkan kreasinya dengan tenun di gelaran Langgam 15 yakni perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia (CTI).
CTI, organisasi nirlaba pencinta tenun, telah berusia 15 tahun. Dalam puncak perayaan hari jadinya, sebanyak 15 desainer dan jenama digandeng untuk menunjukkan kreasi mereka dengan tenun. Tenun-tenun yang digunakan merupakan tenun hasil program binaan dan pengembangan CTI di berbagai wilayah di Indonesia.
Ada pun desainer dan jenama yang turut ambil bagian dalam gelaran ini yakni, Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, Eridani, Danjyo Hiyoji, Auguste Soesastro, Didi Budiardjo, Koyko, Sebastian Gunawan, Chossy Latu, Ari Seputra, Denny Wirawan, Mel Ahyar, Era Soekamto, Danny Satriadi, dan Yogie Pratama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tenun Sambas
Sambas, Kalimantan Barat menyimpan keindahan tenun khasnya. Didi Budiardjo bermain dengan tenun Lunggi atau songket Sambas. Sebanyak dua look busana memiliki warna dominan warna salmon dan benang-benang emas yang membentuk motif flora. Dengan siluet Atasan lengan panjang dan dress, tenun pun terlihat modern dan elegan.
Sementara Auguste Soesastro menggunakan tenun cual atau ikat lungsi Sambas. Tetap pada ciri khasnya, ia menghadirkan busana 'clean cut' dengan siluet blazer, celana panjang dan tunik dengan potongan 'mules' yang lembut tapi tetap kokoh.
Tenun ikat Garut
Di tangan Sebastian Gunawan, tenun ikat Garut berubah jadi look busana bernuansa Eropa. Ia membawakan dua look berupa midi dress dan A-line dress. Penggunaan material lace untuk melapisi tenun rupanya tidak membuat tenun berwarna kuning cerah ini tidak kehilangan pesonanya.
Tenun dari Sumatera
Chossy Latu dan Eridani dengan jenama Eri didapuk untuk mengelola tenun dari Sumatera.
Chossy menggunakan tenun songket Halaban dari Sumatera Barat. Songket berwarna hijau dan biru disulap jadi outer dengan aksen fringe putih. Untuk mengimbangi gemerlap songket, ia memadukannya dengan bawahan beraksen 'bling-bling'.
Kemudian Eridani menyusul dengan kreasi tenun songket Palembang, Sumatera Selatan. Songket pun diolah atasan dan outer. Warnanya yang begitu tajam yakni coklat, biru, dan ungu mampu menghadirkan karakter busana yang berani.
Terbang ke Sulawesi ada desainer Danny Satriadi dan Yogie Pratama. Danny mengelola tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara, sementara Yogie bereksperimen dengan tenun Sobi dari Sengkang, Sulawesi Selatan.
Meski sama-sama tenun Sobi, karakter keduanya jauh berbeda. Tenun Sobi dari Sulteng lebih berwarna di mana Danny menggunakan tenun berwarna coklat-hijau dan terakota. Dengan siluet luaran, ia membuat motif tenun makin menonjol berkat aksen manik dan batuan.
Sementara itu, Yogie mengolah tenun Sobi dari Sengkang dengan warna dasar hitam dan motif warna-warni berukuran mini. Namun dengan look berupa tube dress panjang, tenun kian elegan.
Tenun dari Bali
Priyo Oktaviano, Wilsen Willim dan Danjyo Hiyoji berkreasi dengan tenun dari Bali.
Priyo meracik tenun songket Bali menjadi blus berkancing dan blazer. Look yang unik ditampilkan blazer hitam dengan sebaran motif yang menarik apalagi pada kerahnya.
Wilsen kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menghadirkan look yang segar menggunakan tenun Rangrang. Tenun dipadukan dengan setelan jas dan diletakkan di bagian ekor jas dan lengan.
Sementara duo Dana Maulana dan Michael Simiadi dari jenama Danjyo Hiyoji bermain dengan tenun Endek. Tenun Endek berwarna coklat dan oranye jadi detail setelan busana pria dengan nuansa outfit 1970-an. Dua look busana busana terlihat klasik tapi tetap 'chic'.
Tenun songket Lombok, Nusa Tenggara Barat
Ari Seputra berkreasi dengan tenun songket Lombok, NTB. Songket memiliki warna dominan biru yang cerah. Ia mengelolanya jadi setelan atasan dan rok selutut. Sekilas setelan busana cocok jadi seragam guru atau pramugari. Namun aksen lengan 'puff' membuatnya sedikit beda.
Berpindah ke NTT, desainer Denny Wirawan dan Mel Ahyar masing-masing meracik tenun Sumba dan tenun Songke Labuan Bajo.
Tenun Sumba dengan warna yang kuat dan motif yang kuda yang khas kian bersinar di tangan Denny. Sebanyak dua look seperti menampilkan wanita-wanita bergaya koboi tanpa pistol. Siluet corset dress dan detail sabuk besar menambah kesan kuat dan tegas.
Berbeda dengan Mel yang menampilkan sosok wanita yang lembut tapi tegas lewat atasan bervolume. Tenun songke berwarna putih dan abu dibuat menjuntai membelah dada secara diagonal.
Tenun dari Jawa Tengah
Jawa Tengah juga punya tenun. Dalam gelaran kali ini, ada tenun lukat atau lurik ikat dan Solo yang diolah Era Soekamto dan tenun ikat dari Jepara oleh Khoirudin Koko Rudi lewat jenama Koyko.
Era memodifikasi siluet kebaya dengan tambahan bolero dan aksen kerah tinggi asimetris. Meski Solo identik dengan wanita yang lemah lembut, tapi busana Era menampilkan sisi wanita yang kuat, berani dan tegas terlebih pada look busana berwarna hitam.
Situasinya jauh berbeda dengan tenun ikat Jepara yang dibawakan Koyko. Tenun memiliki warna yang lembut dengan motif geometris. Lewat siluet blazer berkerah lebar dan outer panjang, Koyko seperti menampilkan wanita-wanita Inggris dalam situasi formal lengkap dengan topi lebarnya.
Parade rancangan desainer ini membuktikan kekayaan wastra Nusantara terutama tenun. Intan Fauzi, sekretaris jenderal CTI, berkata CTI masih ingin terus memperluas cakupan binaan.
Saat ini, CTI sudah menyentuh perajin di 28 kabupaten dan kota di 13 provinsi di Indonesia.
"Kami mendedikasikan diri untuk turun ke lapangan langsung. Melibatkan antropolog karena karakter tiap wilayah beda. Dalam tim, kami sebagai pengurus ada yang ahli dalam struktur pewarnaan, textile designer dan lain-lain," ujar Intan dalam konferensi pers di The Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7/11).
Jakarta, CNN Indonesia --
Tenun semakin indah saat berada di tangan yang tepat. Sebanyak 15 desainer dan jenama tanah air memamerkan kreasinya dengan tenun di gelaran Langgam 15 yakni perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia (CTI).
CTI, organisasi nirlaba pencinta tenun, telah berusia 15 tahun. Dalam puncak perayaan hari jadinya, sebanyak 15 desainer dan jenama digandeng untuk menunjukkan kreasi mereka dengan tenun. Tenun-tenun yang digunakan merupakan tenun hasil program binaan dan pengembangan CTI di berbagai wilayah di Indonesia.
Ada pun desainer dan jenama yang turut ambil bagian dalam gelaran ini yakni, Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, Eridani, Danjyo Hiyoji, Auguste Soesastro, Didi Budiardjo, Koyko, Sebastian Gunawan, Chossy Latu, Ari Seputra, Denny Wirawan, Mel Ahyar, Era Soekamto, Danny Satriadi, dan Yogie Pratama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tenun Sambas
Sambas, Kalimantan Barat menyimpan keindahan tenun khasnya. Didi Budiardjo bermain dengan tenun Lunggi atau songket Sambas. Sebanyak dua look busana memiliki warna dominan warna salmon dan benang-benang emas yang membentuk motif flora. Dengan siluet Atasan lengan panjang dan dress, tenun pun terlihat modern dan elegan.
Sementara Auguste Soesastro menggunakan tenun cual atau ikat lungsi Sambas. Tetap pada ciri khasnya, ia menghadirkan busana 'clean cut' dengan siluet blazer, celana panjang dan tunik dengan potongan 'mules' yang lembut tapi tetap kokoh.
Tenun ikat Garut
Di tangan Sebastian Gunawan, tenun ikat Garut berubah jadi look busana bernuansa Eropa. Ia membawakan dua look berupa midi dress dan A-line dress. Penggunaan material lace untuk melapisi tenun rupanya tidak membuat tenun berwarna kuning cerah ini tidak kehilangan pesonanya.
Tenun dari Sumatera
Chossy Latu dan Eridani dengan jenama Eri didapuk untuk mengelola tenun dari Sumatera.
Chossy menggunakan tenun songket Halaban dari Sumatera Barat. Songket berwarna hijau dan biru disulap jadi outer dengan aksen fringe putih. Untuk mengimbangi gemerlap songket, ia memadukannya dengan bawahan beraksen 'bling-bling'.
Kemudian Eridani menyusul dengan kreasi tenun songket Palembang, Sumatera Selatan. Songket pun diolah atasan dan outer. Warnanya yang begitu tajam yakni coklat, biru, dan ungu mampu menghadirkan karakter busana yang berani.
Terbang ke Sulawesi ada desainer Danny Satriadi dan Yogie Pratama. Danny mengelola tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara, sementara Yogie bereksperimen dengan tenun Sobi dari Sengkang, Sulawesi Selatan.
Meski sama-sama tenun Sobi, karakter keduanya jauh berbeda. Tenun Sobi dari Sulteng lebih berwarna di mana Danny menggunakan tenun berwarna coklat-hijau dan terakota. Dengan siluet luaran, ia membuat motif tenun makin menonjol berkat aksen manik dan batuan.
Sementara itu, Yogie mengolah tenun Sobi dari Sengkang dengan warna dasar hitam dan motif warna-warni berukuran mini. Namun dengan look berupa tube dress panjang, tenun kian elegan.
Aneka Tenun dari Seluruh Indonesia
Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia
Tenun dari Bali
Priyo Oktaviano, Wilsen Willim dan Danjyo Hiyoji berkreasi dengan tenun dari Bali.
Priyo meracik tenun songket Bali menjadi blus berkancing dan blazer. Look yang unik ditampilkan blazer hitam dengan sebaran motif yang menarik apalagi pada kerahnya.
Wilsen kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menghadirkan look yang segar menggunakan tenun Rangrang. Tenun dipadukan dengan setelan jas dan diletakkan di bagian ekor jas dan lengan.
Sementara duo Dana Maulana dan Michael Simiadi dari jenama Danjyo Hiyoji bermain dengan tenun Endek. Tenun Endek berwarna coklat dan oranye jadi detail setelan busana pria dengan nuansa outfit 1970-an. Dua look busana busana terlihat klasik tapi tetap 'chic'.
Tenun songket Lombok, Nusa Tenggara Barat
Ari Seputra berkreasi dengan tenun songket Lombok, NTB. Songket memiliki warna dominan biru yang cerah. Ia mengelolanya jadi setelan atasan dan rok selutut. Sekilas setelan busana cocok jadi seragam guru atau pramugari. Namun aksen lengan 'puff' membuatnya sedikit beda.
Berpindah ke NTT, desainer Denny Wirawan dan Mel Ahyar masing-masing meracik tenun Sumba dan tenun Songke Labuan Bajo.
Tenun Sumba dengan warna yang kuat dan motif yang kuda yang khas kian bersinar di tangan Denny. Sebanyak dua look seperti menampilkan wanita-wanita bergaya koboi tanpa pistol. Siluet corset dress dan detail sabuk besar menambah kesan kuat dan tegas.
Berbeda dengan Mel yang menampilkan sosok wanita yang lembut tapi tegas lewat atasan bervolume. Tenun songke berwarna putih dan abu dibuat menjuntai membelah dada secara diagonal.
Tenun dari Jawa Tengah
Jawa Tengah juga punya tenun. Dalam gelaran kali ini, ada tenun lukat atau lurik ikat dan Solo yang diolah Era Soekamto dan tenun ikat dari Jepara oleh Khoirudin Koko Rudi lewat jenama Koyko.
Era memodifikasi siluet kebaya dengan tambahan bolero dan aksen kerah tinggi asimetris. Meski Solo identik dengan wanita yang lemah lembut, tapi busana Era menampilkan sisi wanita yang kuat, berani dan tegas terlebih pada look busana berwarna hitam.
Situasinya jauh berbeda dengan tenun ikat Jepara yang dibawakan Koyko. Tenun memiliki warna yang lembut dengan motif geometris. Lewat siluet blazer berkerah lebar dan outer panjang, Koyko seperti menampilkan wanita-wanita Inggris dalam situasi formal lengkap dengan topi lebarnya.
Parade rancangan desainer ini membuktikan kekayaan wastra Nusantara terutama tenun. Intan Fauzi, sekretaris jenderal CTI, berkata CTI masih ingin terus memperluas cakupan binaan.
Saat ini, CTI sudah menyentuh perajin di 28 kabupaten dan kota di 13 provinsi di Indonesia.
"Kami mendedikasikan diri untuk turun ke lapangan langsung. Melibatkan antropolog karena karakter tiap wilayah beda. Dalam tim, kami sebagai pengurus ada yang ahli dalam struktur pewarnaan, textile designer dan lain-lain," ujar Intan dalam konferensi pers di The Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7/11).