Sementara untuk minyak Minas/SLC di sepanjang Juli 2015, rerata harga jualnya tercatat hanya menyentuh US$ 51,91 per barel, turun US$ 7,63 per barel dari posisinya bulan sebelumnya di level US$ 59,54 per barel.
Tim mensinyalir, penurunan ICP Juli 2015 tak lepas dari anjloknya harga minyak mentah di pasar internasional akibat beberapa faktor seperti:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Adanya revisi mengenai jumlah pasokan minyak dari negara-negara OPEC yang tahun ini diproyeksikan mencapai 57,39 juta bph, atau meningkat 0,22 juta bph dari target sebelumnya.
4. Kesepakatan atas program nuklir antara Iran dan negara-negara Barat yang berpotensi menambah pasokan minyak mentah dari Iran sekitar 1 juta barel per hari.
5. Peningkatan stok distillate fuel oil Juli 2015 yang lebih tinggi 8,3 juta barel dibandingkan stok pada akhir Juni 2015.
6. Penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat dengan beberapa mata uang utama dunia lainnya.
“Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penurunan tingkat permintaan minyak di Jepang menyusul peningkatan penggunaan natural gas dan batubara sebagai substitusi minyak pada pembangkit listrik, serta peningkatan stok minyak komersial China dan stok produk minyak di Singapura di Juli yang mencapai titik tertinggi sejak 1999,” tulis Tim Harga Minyak Indonesia, dikutip dari lama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Selasa (11/8).
- WTI (Nymex) turun sebesar US$ 8,90 per barel dari US$ 59,83 per barel menjadi US$ 50,93 per barel.
- Brent (ICE) turun sebesar US$ 6,99 per barel dari US$ 63,75 per barel menjadi US$ 56,76 per barel.
- Basket OPEC turun sebesar US$ 5,86 per barel dari US$ 60,21 per barel menjadi US$ 54,35 per barel. (gen)