Ramai Maskapai Ubah Rute dan Batal Terbang Imbas Perang India Pakistan
CNN Indonesia
Kamis, 08 Mei 2025 14:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi penerbangan. (morgueFile/richard_b)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah maskapai penerbangan termasuk United Airlines dan Korean Air mengubah rute atau membatalkan penerbangan dan sekitar selusin bandara India ditutup pada hari Rabu (7/5).
Langkah itu diambil setelah India menyerang sembilan lokasi di Pakistan, yang meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik kedua negara.
India menyerang warga Pakistan di Kashmir dan Pakistan mengatakan telah menembak jatuh lima jet tempur India dalam gejolak yang dipicu serangan kelompok militan yang menewaskan 26 orang di Kashmir pada bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, India mengatakan telah menyerang "infrastruktur teroris" yang terkait dengan pembunuhan turis di Kashmir.
Gambar dari situs web pelacakan penerbangan menunjukkan antrean panjang maskapai penerbangan yang melewati Oman, UEA, dan Kuwait setelah serangan tersebut, meningkatkan kemungkinan kemacetan wilayah udara.
Pihak berwenang di Pakistan mengatakan 57 penerbangan internasional berada di wilayah udara negara itu ketika India menyerang. Kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut tindakan India "menyebabkan bahaya besar bagi maskapai penerbangan komersial" milik negara-negara Teluk dan "membahayakan nyawa."
Kementerian penerbangan sipil India tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Pakistan. Dalam beberapa hari terakhir, India dan Pakistan telah menutup wilayah udara mereka untuk maskapai penerbangan masing-masing.
Seperti dilansir Reuters, maskapai penerbangan global seperti Lufthansa juga telah menghindari wilayah udara Pakistan. Penerbangan domestik di kedua negara juga terganggu.
Tiga persen dari penerbangan terjadwal di India dan 17 persen dari penerbangan terjadwal di Pakistan dibatalkan pada pukul 10.30 waktu setempat, menurut Flightradar24.
Maskapai penerbangan teratas India IndiGo mengatakan telah membatalkan 165 penerbangan hingga Sabtu (10/5) pagi. Sahamnya turun 1,1 persen. Penerbangan milik Air India, SpiceJet, dan Akasa Air juga dibatalkan.
Pakistan mengatakan wilayah udaranya terbuka setelah ditutup usai serangan dan bandaranya kini "berfungsi penuh." Gambar dari FlightRadar24 menunjukkan beberapa jet sipil terbang di atas wilayah udara Pakistan tetapi wilayah barat laut India terus sepi.
Perubahan jadwal penerbangan akan semakin mempersulit operasi di wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan bagi maskapai penerbangan, yang sudah bergulat dengan dampak konflik di kedua wilayah tersebut.
Seorang juru bicara maskapai penerbangan Belanda KLM mengatakan maskapai itu tidak akan terbang di atas Pakistan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Singapore Airlines mengatakan telah berhenti terbang di atas wilayah udara Pakistan sejak 6 Mei lalu.
Korean Air mengatakan telah mulai mengubah rute penerbangan Seoul Incheon-Dubai pada hari Rabu (7/5), memilih rute selatan yang melewati Myanmar, Bangladesh, dan India, alih-alih jalur sebelumnya melalui wilayah udara Pakistan.
United Airlines mengatakan telah membatalkan penerbangannya ke Delhi, dengan alasan sebagian "keterbatasan wilayah udara." Maskapai penerbangan AS mengoperasikan satu penerbangan langsung dari Newark ke New Delhi. Thai Airways mengatakan penerbangan ke tujuan di Eropa dan Asia Selatan akan dialihkan mulai Rabu pagi, sementara China Airlines Taiwan mengatakan penerbangan ke dan dari tujuan termasuk London, Frankfurt dan Roma telah terganggu.
Penerbangan dari India ke Eropa juga terlihat mengambil rute yang lebih panjang. Penerbangan Lufthansa LH761 dari Delhi ke Frankfurt membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih lama untuk mencapai tujuannya dibandingkan dengan Selasa (6/5), menurut FlightRadar24.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik menyuarakan keprihatinan atas dampak konflik pada operasi maskapai. "Terlepas dari biaya dan gangguan operasional, ada masalah keselamatan karena spoofing GPS yang mengganggu operasi penerbangan di zona konflik adalah salah satu risiko tertinggi yang dihadapi industri ini," katanya dalam sebuah pernyataan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah maskapai penerbangan termasuk United Airlines dan Korean Air mengubah rute atau membatalkan penerbangan dan sekitar selusin bandara India ditutup pada hari Rabu (7/5).
Langkah itu diambil setelah India menyerang sembilan lokasi di Pakistan, yang meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik kedua negara.
India menyerang warga Pakistan di Kashmir dan Pakistan mengatakan telah menembak jatuh lima jet tempur India dalam gejolak yang dipicu serangan kelompok militan yang menewaskan 26 orang di Kashmir pada bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, India mengatakan telah menyerang "infrastruktur teroris" yang terkait dengan pembunuhan turis di Kashmir.
Gambar dari situs web pelacakan penerbangan menunjukkan antrean panjang maskapai penerbangan yang melewati Oman, UEA, dan Kuwait setelah serangan tersebut, meningkatkan kemungkinan kemacetan wilayah udara.
Pihak berwenang di Pakistan mengatakan 57 penerbangan internasional berada di wilayah udara negara itu ketika India menyerang. Kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut tindakan India "menyebabkan bahaya besar bagi maskapai penerbangan komersial" milik negara-negara Teluk dan "membahayakan nyawa."
Kementerian penerbangan sipil India tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Pakistan. Dalam beberapa hari terakhir, India dan Pakistan telah menutup wilayah udara mereka untuk maskapai penerbangan masing-masing.
Seperti dilansir Reuters, maskapai penerbangan global seperti Lufthansa juga telah menghindari wilayah udara Pakistan. Penerbangan domestik di kedua negara juga terganggu.
Tiga persen dari penerbangan terjadwal di India dan 17 persen dari penerbangan terjadwal di Pakistan dibatalkan pada pukul 10.30 waktu setempat, menurut Flightradar24.
Maskapai penerbangan teratas India IndiGo mengatakan telah membatalkan 165 penerbangan hingga Sabtu (10/5) pagi. Sahamnya turun 1,1 persen. Penerbangan milik Air India, SpiceJet, dan Akasa Air juga dibatalkan.
Pakistan mengatakan wilayah udaranya terbuka setelah ditutup usai serangan dan bandaranya kini "berfungsi penuh." Gambar dari FlightRadar24 menunjukkan beberapa jet sipil terbang di atas wilayah udara Pakistan tetapi wilayah barat laut India terus sepi.
Banyak Maskapai Global Pilih Tak Terbang Lewati Asia Selatan
Ilustrasi penerbangan komersil. (Unsplash/Pixabay)
Perubahan jadwal penerbangan akan semakin mempersulit operasi di wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan bagi maskapai penerbangan, yang sudah bergulat dengan dampak konflik di kedua wilayah tersebut.
Seorang juru bicara maskapai penerbangan Belanda KLM mengatakan maskapai itu tidak akan terbang di atas Pakistan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Singapore Airlines mengatakan telah berhenti terbang di atas wilayah udara Pakistan sejak 6 Mei lalu.
Korean Air mengatakan telah mulai mengubah rute penerbangan Seoul Incheon-Dubai pada hari Rabu (7/5), memilih rute selatan yang melewati Myanmar, Bangladesh, dan India, alih-alih jalur sebelumnya melalui wilayah udara Pakistan.
United Airlines mengatakan telah membatalkan penerbangannya ke Delhi, dengan alasan sebagian "keterbatasan wilayah udara." Maskapai penerbangan AS mengoperasikan satu penerbangan langsung dari Newark ke New Delhi. Thai Airways mengatakan penerbangan ke tujuan di Eropa dan Asia Selatan akan dialihkan mulai Rabu pagi, sementara China Airlines Taiwan mengatakan penerbangan ke dan dari tujuan termasuk London, Frankfurt dan Roma telah terganggu.
Penerbangan dari India ke Eropa juga terlihat mengambil rute yang lebih panjang. Penerbangan Lufthansa LH761 dari Delhi ke Frankfurt membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih lama untuk mencapai tujuannya dibandingkan dengan Selasa (6/5), menurut FlightRadar24.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik menyuarakan keprihatinan atas dampak konflik pada operasi maskapai. "Terlepas dari biaya dan gangguan operasional, ada masalah keselamatan karena spoofing GPS yang mengganggu operasi penerbangan di zona konflik adalah salah satu risiko tertinggi yang dihadapi industri ini," katanya dalam sebuah pernyataan.