Rombongan Turis AS Telantar Saat ke Labuan Bajo, Kena Tipu Agen Travel
CNN Indonesia
Kamis, 05 Jun 2025 13:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemandangan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/Ho-BPOLBF)
Jakarta, CNN Indonesia --
Apa yang seharusnya menjadi liburan impian 20 wisatawan, termasuk 13 warga negara Amerika Serikat (AS), di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru berubah menjadi pengalaman yang sangat mengecewakan.
Mereka kini mengaku enggan kembali ke surga bahari Flores ini setelah merasa ditipu oleh agen perjalanan. Alih-alih langsung berlayar menjelajahi keindahan Taman Nasional Komodo, rombongan turis ini justru telantar berjam-jam di Pelabuhan Marina, Manggarai Barat.
Kapal wisata yang telah mereka sewa menolak untuk berangkat dengan alasan pembayaran dari pihak agen perjalanan belum dilunasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruth Krisnianti Utami, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di AS dan menjadi juru bicara kelompok tersebut, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam.
"Keluarga besar saya baru pertama kali datang ke sini. Pengalamannya malah sangat buruk. Citra Indonesia di mata keluarga saya jadi tercoreng, mereka merasa tidak bisa dipercaya," ujar Ruth, seperti dikutip Detik, Rabu (4/6).
Ruth, yang baru saja menikah dengan pria asal AS, bermaksud menjadikan perjalanan ke Labuan Bajo sebagai momen spesial setelah resepsi pernikahannya di Bali. Namun, niat baik itu justru meninggalkan rasa pahit.
Ia menjelaskan bahwa ia telah melunasi biaya Rp 101 juta kepada agen perjalanan Gratio Tour, yang disebut dikelola oleh Dominikus Aliansi.
Biaya tersebut mencakup sewa kapal wisata Flores Kencana, tiket masuk ke kawasan Komodo, hingga transportasi lokal. Namun, sesampainya di Pelabuhan Marina, pihak kapal menolak memberangkatkan mereka karena klaim pembayaran dari Gratio Tour belum beres.
"Mereka (pihak kapal) meminta tambahan Rp 50 juta lagi, padahal saya sudah bayar lunas ke Dominikus," kata Ruth dengan nada kecewa.
Setelah adu argumen yang berlangsung selama dua jam di ruang tunggu pelabuhan, rombongan akhirnya diizinkan naik ke kapal, namun hanya untuk berlindung dari terik matahari, bukan untuk berlayar.
Kekecewaan para turis, banyak di antaranya baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, tak terbendung. Mereka merasa pengalaman ini sangat tidak menyenangkan.
"Jujur, keluarga dari Amerika sangat kecewa. Mereka pikir saya sebagai orang Indonesia bisa memastikan semuanya berjalan lancar. Tapi ternyata saya sendiri ditipu oleh sesama orang Indonesia," tutur Ruth getir.
"Ini bukan cuma soal uang, ini soal kepercayaan dan nama baik pariwisata Indonesia," tegas Ruth.
Mencoba mencari penyelesaian, Ruth berulang kali menghubungi Dominikus hingga sore hari, namun tak kunjung tersambung. Ia pun akhirnya melaporkan peristiwa ini kepada pihak kepolisian. Ruth mengatakan polisi mendatangi rumah Dominikus di Labuan Bajo, namun hanya bertemu dengan istri dan adiknya.
"Polisi mengejar keluarga Dominikus dan berhasil menemukan istri serta adiknya. Adiknya datang ke kapal saya, meminta maaf bahwa ia tidak tahu abangnya melakukan penipuan, namun keluarga tidak memiliki uang untuk mengembalikan," jelas Ruth.
Tak hanya itu, Ruth juga telah melaporkan masalah yang menimpa dirinya dan keluarga besarnya ini ke Konsulat Amerika Serikat. Ia secara khusus meminta perlindungan bagi nasib 13 turis AS yang menjadi korban.
"Saya sudah mengirim email ke konsulat Amerika meminta perlindungan karena ada 13 warga Amerika yang sedang berada di kapal," kata Ruth.
Ruth menilai pengalaman buruk ini telah merusak citra pariwisata Labuan Bajo dan Indonesia di mata keluarga besarnya dari AS. Mereka kini kehilangan kepercayaan terhadap pariwisata Labuan Bajo.
Solusi Sementara dan Nasib Pembayaran
Meski demikian, Ruth dan rombongan akhirnya bisa diberangkatkan menuju Taman Nasional Komodo pada Senin sore. Keberangkatan ini dimungkinkan setelah pihak kepolisian memfasilitasi komunikasi antara pihak kapal, wisatawan, dan saudara dari pemilik Gratio Tour, dengan menggunakan kapal pinisi Flores Kencana yang dioperasikan oleh Zada Ulla.
"Iya (sudah diberangkatkan ke Taman Nasional Komodo)," konfirmasi Subali, staf agen kapal wisata Zada Ulla, saat dihubungi pada Selasa (3/6).
Subali menambahkan bahwa meskipun wisatawan sudah diberangkatkan, ada beberapa destinasi yang terlewatkan dan baru bisa mereka kunjungi di hari terakhir. Ia juga menegaskan bahwa Zada Ulla pun menjadi korban penipuan oleh Gratio Tour.
Mereka baru menerima pembayaran 30 persen atau Rp 24 juta dari total biaya perjalanan Rp 80 juta. Sementara wisatawan telah melunasi seluruh pembayaran ke Gratio Tour.
Masalah pembayaran yang belum dilunasi ini rencananya akan diselesaikan dengan Gratio Tour setelah rombongan wisatawan selesai berlayar. Zada Ulla sendiri belum memutuskan apakah akan menempuh jalur hukum atau menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan, dengan prioritas membangun komunikasi terlebih dahulu dengan Gratio Tour.
Jakarta, CNN Indonesia --
Apa yang seharusnya menjadi liburan impian 20 wisatawan, termasuk 13 warga negara Amerika Serikat (AS), di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru berubah menjadi pengalaman yang sangat mengecewakan.
Mereka kini mengaku enggan kembali ke surga bahari Flores ini setelah merasa ditipu oleh agen perjalanan. Alih-alih langsung berlayar menjelajahi keindahan Taman Nasional Komodo, rombongan turis ini justru telantar berjam-jam di Pelabuhan Marina, Manggarai Barat.
Kapal wisata yang telah mereka sewa menolak untuk berangkat dengan alasan pembayaran dari pihak agen perjalanan belum dilunasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruth Krisnianti Utami, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di AS dan menjadi juru bicara kelompok tersebut, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam.
"Keluarga besar saya baru pertama kali datang ke sini. Pengalamannya malah sangat buruk. Citra Indonesia di mata keluarga saya jadi tercoreng, mereka merasa tidak bisa dipercaya," ujar Ruth, seperti dikutip Detik, Rabu (4/6).
Ruth, yang baru saja menikah dengan pria asal AS, bermaksud menjadikan perjalanan ke Labuan Bajo sebagai momen spesial setelah resepsi pernikahannya di Bali. Namun, niat baik itu justru meninggalkan rasa pahit.
Ia menjelaskan bahwa ia telah melunasi biaya Rp 101 juta kepada agen perjalanan Gratio Tour, yang disebut dikelola oleh Dominikus Aliansi.
Biaya tersebut mencakup sewa kapal wisata Flores Kencana, tiket masuk ke kawasan Komodo, hingga transportasi lokal. Namun, sesampainya di Pelabuhan Marina, pihak kapal menolak memberangkatkan mereka karena klaim pembayaran dari Gratio Tour belum beres.
"Mereka (pihak kapal) meminta tambahan Rp 50 juta lagi, padahal saya sudah bayar lunas ke Dominikus," kata Ruth dengan nada kecewa.
Setelah adu argumen yang berlangsung selama dua jam di ruang tunggu pelabuhan, rombongan akhirnya diizinkan naik ke kapal, namun hanya untuk berlindung dari terik matahari, bukan untuk berlayar.
Kekecewaan para turis, banyak di antaranya baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, tak terbendung. Mereka merasa pengalaman ini sangat tidak menyenangkan.
"Jujur, keluarga dari Amerika sangat kecewa. Mereka pikir saya sebagai orang Indonesia bisa memastikan semuanya berjalan lancar. Tapi ternyata saya sendiri ditipu oleh sesama orang Indonesia," tutur Ruth getir.
"Ini bukan cuma soal uang, ini soal kepercayaan dan nama baik pariwisata Indonesia," tegas Ruth.
Kasus Penipuan Agen Travel Dilaporkan ke Polisi dan Konsulat AS
Wisatawan menikmati wisata Bukit Amelia, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Mencoba mencari penyelesaian, Ruth berulang kali menghubungi Dominikus hingga sore hari, namun tak kunjung tersambung. Ia pun akhirnya melaporkan peristiwa ini kepada pihak kepolisian. Ruth mengatakan polisi mendatangi rumah Dominikus di Labuan Bajo, namun hanya bertemu dengan istri dan adiknya.
"Polisi mengejar keluarga Dominikus dan berhasil menemukan istri serta adiknya. Adiknya datang ke kapal saya, meminta maaf bahwa ia tidak tahu abangnya melakukan penipuan, namun keluarga tidak memiliki uang untuk mengembalikan," jelas Ruth.
Tak hanya itu, Ruth juga telah melaporkan masalah yang menimpa dirinya dan keluarga besarnya ini ke Konsulat Amerika Serikat. Ia secara khusus meminta perlindungan bagi nasib 13 turis AS yang menjadi korban.
"Saya sudah mengirim email ke konsulat Amerika meminta perlindungan karena ada 13 warga Amerika yang sedang berada di kapal," kata Ruth.
Ruth menilai pengalaman buruk ini telah merusak citra pariwisata Labuan Bajo dan Indonesia di mata keluarga besarnya dari AS. Mereka kini kehilangan kepercayaan terhadap pariwisata Labuan Bajo.
Solusi Sementara dan Nasib Pembayaran
Meski demikian, Ruth dan rombongan akhirnya bisa diberangkatkan menuju Taman Nasional Komodo pada Senin sore. Keberangkatan ini dimungkinkan setelah pihak kepolisian memfasilitasi komunikasi antara pihak kapal, wisatawan, dan saudara dari pemilik Gratio Tour, dengan menggunakan kapal pinisi Flores Kencana yang dioperasikan oleh Zada Ulla.
"Iya (sudah diberangkatkan ke Taman Nasional Komodo)," konfirmasi Subali, staf agen kapal wisata Zada Ulla, saat dihubungi pada Selasa (3/6).
Subali menambahkan bahwa meskipun wisatawan sudah diberangkatkan, ada beberapa destinasi yang terlewatkan dan baru bisa mereka kunjungi di hari terakhir. Ia juga menegaskan bahwa Zada Ulla pun menjadi korban penipuan oleh Gratio Tour.
Mereka baru menerima pembayaran 30 persen atau Rp 24 juta dari total biaya perjalanan Rp 80 juta. Sementara wisatawan telah melunasi seluruh pembayaran ke Gratio Tour.
Masalah pembayaran yang belum dilunasi ini rencananya akan diselesaikan dengan Gratio Tour setelah rombongan wisatawan selesai berlayar. Zada Ulla sendiri belum memutuskan apakah akan menempuh jalur hukum atau menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan, dengan prioritas membangun komunikasi terlebih dahulu dengan Gratio Tour.