'Keajaiban' Kursi 11A Air India, Benarkah Ada Kursi Pesawat Teraman?
CNN Indonesia
Sabtu, 14 Jun 2025 09:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi penumpang di kabin pesawat. (deluxtrade/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tidak ada cara lain untuk menggambarkan nasib Vishwash Kumar Ramesh, seorang warga negara Inggris keturunan India berusia 40 tahun, yang menjadi satu-satunya penyintas Penerbangan Air India 171.
Pesawat itu jatuh dan menghantam bangunan asrama medis di Ahmedabad pada Kamis (12/6) dengan 242 orang penumpang dan awak di dalamnya. Pesawat penumpang komersial tujuan London, Inggris itu jatuh tak lama setelah lepas landas pada siang hari waktu setempat di Ahmedabad, India bagian barat.
Kepala Polisi Ahmedabad, G.S. Malik mengatakan kepada media berita India bahwa Ramesh mungkin selamat dari tragedi tapi tidak dengan penumpang lain, meskipun para pejabat setempat belum secara definitif menyimpulkan bahwa semua orang di dalam jet tewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramesh, menunjukkan kepada media India boarding pass-nya untuk mengonfirmasi nama, penerbangan, dan nomor kursinya di pesawat Air India 171 itu. Dia kini masih dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya. Ia mengalami "luka benturan" yang terlihat jelas di dada, mata, dan kakinya.
Lalu, di manakah posisi duduk Ramesh saat di pesawat? Menurut boarding pass pesawat yang dikantonginya, Ramesh duduk di kursi 11A. "Dia duduk di dekat pintu darurat dan berhasil keluar dengan melompat," ujar Vidhi Chaudhary, pejabat kepolisian senior di Ahmedabad, seperti dilansir Hindustan Times.
Belum bisa dipastikan apakah faktor karena Ramesh duduk di kursi 11A sehingga membuat dia memiliki peluang selamat dalam kecelakaan pesawat tersebut. Kemudian, mungkinkah posisi kursi di pesawat bisa memengaruhi tingkat keselamatan penumpang?
Benarkah ada kursi paling aman di pesawat? Ketika membicarakan keselamatan penerbangan, pertanyaan tentang "kursi mana yang paling aman di pesawat?" kerap muncul.
Beberapa penelitian telah mencoba menjawabnya, mengindikasikan bahwa kursi di bagian belakang pesawat mungkin memiliki sedikit keunggulan dalam hal peluang bertahan hidup dalam situasi darurat.
Dilansir dari Forbes, sebuah studi komprehensif oleh majalah Popular Mechanics yang menganalisis kecelakaan pesawat dari tahun 1971 hingga 2005 menemukan bahwa penumpang yang duduk di bagian belakang pesawat memiliki peluang selamat 40 persen lebih tinggi.
Angka ini jauh lebih baik dibandingkan mereka yang berada di bagian depan atau tengah kabin pesawat terbang.
Kendati statistik menunjukkan keunggulan keselamatan, kursi di bagian belakang pesawat seringkali kurang diminati penumpang.
Alasannya beragam, mulai dari kedekatan dengan toilet, ukuran kursi yang cenderung lebih sempit, hingga sandaran kursi yang sering kali tidak dapat direbahkan, mengurangi kenyamanan selama penerbangan.
Sebaliknya, kursi di bagian depan pesawat memang lebih rentan saat kecelakaan. Posisinya yang dekat dengan titik benturan pertama, terutama dalam skenario pendaratan darurat atau tabrakan di darat, membuat area ini menerima dampak awal dari kekuatan benturan.
Hal ini menjadikan kursi depan berisiko lebih tinggi dibandingkan kursi penumpang di bagian belakang pesawat.
Lalu, studi lain yang dilakukan oleh jurnalis Inggris Max Foster, pasca-kecelakaan Azerbaijan Airlines di Kazakhstan, turut memperkuat temuan ini. Berdasarkan data dari Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), penumpang di bagian depan pesawat memiliki peluang selamat 49 persen.
Sementara itu, mereka yang duduk di sekitar sayap pesawat sedikit lebih baik dengan 59 persen, dan yang paling unggul adalah penumpang di bagian belakang dengan peluang selamat 69 persen.
Di sisi lain, Federal Aviation Administration (FAA) sendiri menegaskan bahwa tidak ada bagian pesawat yang secara mutlak lebih aman dibandingkan bagian lainnya. Keamanan dalam penerbangan sangat bergantung pada jenis dan kekuatan kecelakaan itu sendiri, serta faktor lain seperti kondisi cuaca dan respons cepat awak pesawat.
Pada akhirnya, meskipun posisi kursi dapat memengaruhi peluang keselamatan, hal terpenting adalah selalu mengikuti instruksi keselamatan yang diberikan oleh awak pesawat dan mematuhi prosedur darurat yang sudah ditentukan. Kesiapan dan respons yang tepatlah yang akan menjadi penentu utama keselamatan dalam situasi kritis.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tidak ada cara lain untuk menggambarkan nasib Vishwash Kumar Ramesh, seorang warga negara Inggris keturunan India berusia 40 tahun, yang menjadi satu-satunya penyintas Penerbangan Air India 171.
Pesawat itu jatuh dan menghantam bangunan asrama medis di Ahmedabad pada Kamis (12/6) dengan 242 orang penumpang dan awak di dalamnya. Pesawat penumpang komersial tujuan London, Inggris itu jatuh tak lama setelah lepas landas pada siang hari waktu setempat di Ahmedabad, India bagian barat.
Kepala Polisi Ahmedabad, G.S. Malik mengatakan kepada media berita India bahwa Ramesh mungkin selamat dari tragedi tapi tidak dengan penumpang lain, meskipun para pejabat setempat belum secara definitif menyimpulkan bahwa semua orang di dalam jet tewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramesh, menunjukkan kepada media India boarding pass-nya untuk mengonfirmasi nama, penerbangan, dan nomor kursinya di pesawat Air India 171 itu. Dia kini masih dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya. Ia mengalami "luka benturan" yang terlihat jelas di dada, mata, dan kakinya.
Lalu, di manakah posisi duduk Ramesh saat di pesawat? Menurut boarding pass pesawat yang dikantonginya, Ramesh duduk di kursi 11A. "Dia duduk di dekat pintu darurat dan berhasil keluar dengan melompat," ujar Vidhi Chaudhary, pejabat kepolisian senior di Ahmedabad, seperti dilansir Hindustan Times.
Belum bisa dipastikan apakah faktor karena Ramesh duduk di kursi 11A sehingga membuat dia memiliki peluang selamat dalam kecelakaan pesawat tersebut. Kemudian, mungkinkah posisi kursi di pesawat bisa memengaruhi tingkat keselamatan penumpang?
Benarkah ada kursi paling aman di pesawat? Ketika membicarakan keselamatan penerbangan, pertanyaan tentang "kursi mana yang paling aman di pesawat?" kerap muncul.
Beberapa penelitian telah mencoba menjawabnya, mengindikasikan bahwa kursi di bagian belakang pesawat mungkin memiliki sedikit keunggulan dalam hal peluang bertahan hidup dalam situasi darurat.
Dilansir dari Forbes, sebuah studi komprehensif oleh majalah Popular Mechanics yang menganalisis kecelakaan pesawat dari tahun 1971 hingga 2005 menemukan bahwa penumpang yang duduk di bagian belakang pesawat memiliki peluang selamat 40 persen lebih tinggi.
Angka ini jauh lebih baik dibandingkan mereka yang berada di bagian depan atau tengah kabin pesawat terbang.
Kendati statistik menunjukkan keunggulan keselamatan, kursi di bagian belakang pesawat seringkali kurang diminati penumpang.
Alasannya beragam, mulai dari kedekatan dengan toilet, ukuran kursi yang cenderung lebih sempit, hingga sandaran kursi yang sering kali tidak dapat direbahkan, mengurangi kenyamanan selama penerbangan.
Kursi Bagian Depan Pesawat Berisiko Lebih Tinggi
Ilustrasi suasana di kabin pesawat. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Sebaliknya, kursi di bagian depan pesawat memang lebih rentan saat kecelakaan. Posisinya yang dekat dengan titik benturan pertama, terutama dalam skenario pendaratan darurat atau tabrakan di darat, membuat area ini menerima dampak awal dari kekuatan benturan.
Hal ini menjadikan kursi depan berisiko lebih tinggi dibandingkan kursi penumpang di bagian belakang pesawat.
Lalu, studi lain yang dilakukan oleh jurnalis Inggris Max Foster, pasca-kecelakaan Azerbaijan Airlines di Kazakhstan, turut memperkuat temuan ini. Berdasarkan data dari Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), penumpang di bagian depan pesawat memiliki peluang selamat 49 persen.
Sementara itu, mereka yang duduk di sekitar sayap pesawat sedikit lebih baik dengan 59 persen, dan yang paling unggul adalah penumpang di bagian belakang dengan peluang selamat 69 persen.
Di sisi lain, Federal Aviation Administration (FAA) sendiri menegaskan bahwa tidak ada bagian pesawat yang secara mutlak lebih aman dibandingkan bagian lainnya. Keamanan dalam penerbangan sangat bergantung pada jenis dan kekuatan kecelakaan itu sendiri, serta faktor lain seperti kondisi cuaca dan respons cepat awak pesawat.
Pada akhirnya, meskipun posisi kursi dapat memengaruhi peluang keselamatan, hal terpenting adalah selalu mengikuti instruksi keselamatan yang diberikan oleh awak pesawat dan mematuhi prosedur darurat yang sudah ditentukan. Kesiapan dan respons yang tepatlah yang akan menjadi penentu utama keselamatan dalam situasi kritis.