Bahaya PAHs di Makanan Sehari-hari dan Cara Aman Menghindarinya

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 03:00 WIB
PAHs bisa muncul pada buah, sayur, hingga daging panggang. Kenali risikonya dan cara sederhana untuk menguranginya.
Ilustrasi. Waspada PAHs pada makanan. (iStock/MielPhotos2008)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin meningkat. Banyak orang mulai rutin berolahraga dan memerhatikan apa yang mereka konsumsi, termasuk lebih memilih buah dan sayur karena dianggap lebih aman dan bergizi.

Namun, penelitian dari Seoul National University of Science and Technology menemukan bahwa bahan pangan sehat sekalipun bisa terkontaminasi senyawa berbahaya bernama polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu PAHs dan dari mana asalnya?

PAHs adalah senyawa kimia yang beberapa di antaranya bersifat karsinogenik. Pada buah dan sayur, PAHs dapat masuk melalui polusi udara, air irigasi tercemar, hingga tanah yang terkontaminasi. Senyawa ini bisa menempel di permukaan atau terserap ke bagian dalam tanaman.

Pada pangan hewani seperti daging dan ikan, PAHs biasanya terbentuk selama proses memasak dengan suhu tinggi. Memanggang, barbeque, atau menggoreng pada temperatur sangat panas dapat memicu pembentukan PAHs akibat pembakaran lemak dan bahan organik lain.

Bagian makanan yang gosong atau terlalu kecokelatan biasanya mengandung PAHs lebih tinggi.

Makanan asap seperti daging, ikan, keju asap, dan kopi sangrai juga diketahui dapat mengandung PAHs. Karena sejumlah PAHs berbahaya bagi kesehatan, pengawasan dan pengujian kandungannya menjadi penting. Metode konvensional dapat digunakan, tetapi kerap rumit, memakan waktu, dan kurang ramah lingkungan.

Metode QuEChERS

Metode QuEChERS (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, and Safe) hadir sebagai alternatif yang lebih praktis. Teknik ini membuat proses ekstraksi dan analisis PAHs menjadi lebih cepat, mudah, dan akurat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan pelarut asetonitril untuk menarik PAHs dari sampel makanan. Sampel kemudian dibersihkan sebelum dianalisis. Metode ini diuji pada berbagai jenis pangan dan terbukti memberikan hasil yang stabil.

Saat diuji menggunakan gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), teknik ini mampu mendeteksi PAHs dalam jumlah sangat kecil dengan akurasi tinggi. Seorang ahli asal Korea menyebut metode ini lebih efisien dibanding metode konvensional, dapat diaplikasikan pada beragam jenis pangan, dan lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya.

Studi tersebut menunjukkan bahwa QuEChERS merupakan teknik yang cepat, akurat, dan aman untuk mendeteksi PAHs dalam makanan. Temuan ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat.

Cara menghindari PAHs dalam makanan

Paparan PAHs dapat diminimalkan melalui cara memasak dan memilih bahan makanan yang lebih aman:

1. Hindari memasak dengan api langsung atau suhu sangat tinggi yang memicu pembentukan PAHs, terutama hingga makanan gosong.

2. Gunakan metode memasak yang lebih lembut seperti mengukus, merebus, memanggang dalam oven, atau menumis dengan api terkontrol. Saat memanggang, hindari lemak menetes langsung ke bara untuk mengurangi asap.

3. Cuci buah dan sayur di bawah air mengalir atau kupas bila diperlukan, terutama jika berasal dari lingkungan berpolusi.

4. Simpan bahan makanan di tempat tertutup dan jauh dari sumber asap.

5. Kurangi konsumsi makanan asap atau yang dipanggang terlalu lama.

Dengan langkah sederhana ini, risiko paparan PAHs dalam makanan sehari-hari dapat ditekan secara signifikan.

(avd/tis)


[Gambas:Video CNN]