Favorit Banyak Orang, Apakah Roti Termasuk Ultra-Processed Food?

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 09:45 WIB
Roti sering jadi menu sarapan sampai camilan sehari-hari. Namun apakah roti termasuk ultra-processed food (UPF) dan membahayakan kesehatan?
Ilustrasi. Roti sering jadi menu sarapan sampai camilan sehari-hari. Namun apakah roti termasuk ultra-processed food (UPF) dan membahayakan kesehatan? (iStockphoto/etiennevoss)
Jakarta, CNN Indonesia --

Roti merupakan produk makanan yang terbuat dari adonan tepung, seperti terigu, air, dan bahan pengembang seperti ragi.

Adonan ini kemudian diuleni, difermentasi atau dikembangkan, lalu dipanggang hingga matang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adonan roti memiliki tekstur kenyal dan berserat dan menjadi makanan penting yang dikonsumsi oleh berbagai budaya di seluruh dunia sejak zaman kuno.

Lantaran melewati beberapa proses sebelum akhirnya dikonsumsi, membuat sebagian orang mempertanyakan apakah roti termasuk ultra-processed food (UPF) dan dapat memberi dampak bagi kesehatan tubuh.

Roti sendiri bukan berasal dari Indonesia dan tidak menjadi makanan pokok kita layaknya nasi. Kita bisa memakan roti karena dibawa oleh bangsa barat, terutama Belanda, saat masa penjajahan.

Sekarang, roti menjadi sumber karbohidrat yang bisa ditemukan dengan mudah di seluruh penjuru Indonesia.

Namun, banyak orang yang beranggapan roti adalah ultra-processed food atau makanan yang diproses panjang dan diberikan banyak bahan tambahan sehingga dianggap rendah nutrisi dan tidak menyehatkan. Benarkah demikian?


Apa itu makanan ultra-processed food?

Sebelum mengetahui jawaban dari apakah roti termasuk ultra processed food, penting untuk memahami apa itu ultra-processed food.

Melansir dari Medical News Today, ultra-processed food atau makanan ultra-proses adalah makanan yang mengandung bahan-bahan yang jarang digunakan dalam masakan rumahan, seperti pengemulsi, penstabil, pewarna, pemanis buatan, hingga zat aditif dan zat kimia lainnya.

Bahan-bahan ini ditambahkan untuk meningkatkan rasa, tampilan, dan tekstur makanan. Contoh yang umum adalah minuman bersoda, permen, dan nugget ayam.

Ultra-processed food juga dibuat melalui serangkaian teknik dan proses industri, sebelum akhirnya diterima konsumen.

Namun, makanan ultra-proses juga dapat ditemukan pada produk yang terlihat lebih "sehat", seperti roti, sereal sarapan, dan yogurt tertentu.

Produk dengan lebih dari lima bahan biasanya termasuk kategori ini. Selain itu, makanan ultra-proses umumnya tinggi garam, gula, dan lemak jenuh.

Meski tampak segar, makanan ini sering memiliki masa simpan panjang karena pengawet seperti sodium benzoat, nitrat, sulfit, BHA, dan BHT.

Walaupun belum ada bukti mutlak bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan penyakit, berbagai penelitian menunjukkan kaitannya dengan risiko kesehatan yang lebih buruk, termasuk kematian dini.

Studi besar bahkan menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses berhubungan dengan penyakit jantung, obesitas, diabetes tipe 2, gangguan tidur, serta masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Namun, masih belum jelas apakah dampak buruk tersebut disebabkan oleh proses pengolahannya atau karena kandungan lemak, gula, dan garam tinggi yang memang sudah diketahui berisiko bagi kesehatan.


Apakah roti termasuk ultra-processed food?

Berdasarkan penjelasan di atas, sebagian besar roti termasuk ultra-processed food, meski tidak semua roti sama.

Roti yang merupakan ultra-processed food adalah roti yang dijual di pasaran, seperti roti tawar atau roti kemasan karena proses pembuatannya yang melibatkan banyak tahapan dan penambahan bahan-bahan seperti pengawet, pewarna, dan perasa buatan.

Melansir dari The Conversation, roti supermarket memang mengandung pengemulsi, tetapi jenis yang paling umum digunakan, yakni mono dan digliserida asam lemak.

Pengemulsi ini belum terbukti meningkatkan risiko penyakit. Bahkan, senyawa serupa sebenarnya juga terbentuk secara alami selama proses fermentasi panjang pada pembuatan roti tradisional.

Pengemulsi berfungsi memperbaiki tekstur roti dan, bersama lemak padat seperti minyak sawit, membantu memperpanjang masa simpannya.

Namun, isu kesehatan terbesar pada roti kemasan kemungkinan bukan pada proses ultra-prosesnya, melainkan pada kandungan garam dan bahan pengawet yang digunakan.

Kadar garam dalam roti kemasan sangat bervariasi antar merek, dari sekitar satu hingga empat sendok teh per roti. Karena itu, penting untuk memeriksa label dan memilih roti dengan kandungan kurang dari 0,7 g garam per 100 g.

Sementara itu, kadar gula dalam roti supermarket umumnya masih tergolong rendah, yaitu sekitar 2-4 g per 100 g. Gula ini digunakan untuk membantu proses fermentasi, dan sebagian memang terbentuk secara alami.

Di sisi lain, pengawet memang membantu menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. Tetapi, pastikan penggunaan bahan pengawet pada roti yang dikonsumsi telah terjamin dan memiliki izin edar.

Secara keseluruhan, roti ultra-proses mungkin tidak seburuk yang sering dikhawatirkan, asal memperhatikan komposisi bahan dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Demikian jawaban dari apakah roti termasuk ultra processed food. Semoga bermanfaat.

(sac/fef)


[Gambas:Video CNN]