Pertemuan Gamelan, Teknologi, dan Spiritualitas di Lotusa Batulicin

Advertorial | CNN Indonesia
Minggu, 28 Des 2025 22:57 WIB
Lotusa Batulicin by Swiss-Belhotel International menyajikan pengalaman tak biasa melalui Gamelatron Shakya, instalasi seni bunyi karya Aaron Taylor Kuffner
(dok Lotusa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lotusa Batulicin by Swiss-Belhotel International menyajikan pengalaman tak biasa melalui Gamelatron Shakya, instalasi seni bunyi karya Aaron Taylor Kuffner, seniman dan komposer asal Amerika Serikat sebagai karya lintas budaya yang ikonik.

Gamelatron menandai pertemuan antara seni global, tradisi Nusantara, dan praktik hospitality modern. Lebih dari sekadar elemen estetika, instalasi seni tersebut berbagi ruang pengalaman yang mengundang tamu mendengarkan, merasakan, serta merefleksikan makna bunyi di tengah kunjungan di Batulicin.

Gamelatron adalah sound-producing sculpture, gabungan instrumen gamelan tradisional Indonesia dengan sistem mekanik dan komputasi fisik (physical computing). Gamelatron menghasilkan komposisi musik secara otomatis lewat sistem yang dirancang khusus tanpa perlu dimainkan secara manual.

Setiap dentingan yang terdengar adalah komposisi orisinal karya Kuffner. Pada instalasi seni ini, gamelan tak semata menjadi instrumen tradisional, tetapi berperan sebagai medium eksplorasi seni kontemporer yang berakar kuat pada warisan budaya.

Kuffner memilih maqamat dalam tradisi musik Arab saat menyusun sistem tuning gamelan. Inspirasi tersebut menghadirkan karakter bunyi yang selaras dengan arsitektur Maroko yang diusung Lotusa Batulicin.

Keduanya sama-sama membangun suasana melalui ritme, struktur, dan repetisi. Komposisi gubahan musisi yang tinggal di New York ini pun mampu melahirkan harmonisasi bunyi yang unik serta bersifat meditatif dan menenangkan.

adv publikasi media

(dok Lotusa)

Tak hanya tercermin lewat nama, makna filosofis dan spiritual Gamelatron Shakya terwakili lewat visual instalasi. Nama Shakya mengacu pada Shakyamuni Buddha, yakni saat Siddharta Gautama telah mencapai pencerahan. Susunan instalasi ini merepresentasikan sosok Buddha yang bermeditasi di atas bunga lotus, simbol kesucian dan kesadaran dalam tradisi spiritual Asia.

Sementara itu, delapan gong kecil di bagian dasar melambangkan kelopak bunga lotus dalam jumlah yang sama. Gong-gong ini merefleksikan filosofi Jalan Mulia Berunsur Delapan. Elemen air yang mengelilingi instalasi kian meneguhkan kesan tenang dan reflektif.

Menariknya, suara Gamelatron Shakya mengalun lima kali dalam sehari. Frekuensi tersebut memberi struktur temporal yang memperkaya pengalaman tamu, sebuah pola yang mengajak pendengar menyadari waktu, jeda, dan ritme aktivitas.

Lapisan makna lintas budaya ini pun mencerminkan perjalanan artistik Kuffner, seniman yang telah menggeluti seni karawitan selama lebih dari dua dekade.

"Bagi saya, semua fakta ini bercerita tentang peleburan budaya Indonesia masa kini, dan juga masa depan," ujar Kuffner.

adv lotucsa(dokLotusa)

Gamelatron Shakya adalah site-specific installation, khusus didesain untuk Lotusa Batulicin dan tidak direplikasi di tempat lain. Kehadirannya di area lobi hotel membuat publik mudah mengakses instalasi seni ini.

Jika biasanya karya serupa ditampilkan di ruang privat atau institusional, Lotusa Batulicin memilih merayakan keunikan Gamelatron di ruang terbuka. Penempatan Gamelatron ini memberi makna bagaimana Gamelatron Shakya mengisi keseharian hotel, membentuk identitas ruang, serta memperkaya pengalaman tamu.

Lantunan nada Gamelatron itu mengundang untuk mengambil jeda sejenak. Berdiri di area lobi sambil mendengarkan bunyi yang disuguhkan, menjadi momen reflektif di sela agenda bisnis maupun perjalanan wisata di Batulicin.

Kolaborasi Hospitality Global dan Identitas Lokal

Sebagai hotel berbintang berstandar internasional pertama di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Lotusa Batulicin tetap merangkul budaya lokal dalam operasionalnya. Konsep arsitektur hotel pun memadukan gaya Maroko dan elemen Nusantara, melahirkan salah satu landmark baru di kota ini.

Di bawah pengelolaan Swiss-Belhotel International, Lotusa Batulicin menyasar segmen bisnis, pemerintahan, dan MICE yang terus bertumbuh. Kolaborasi antara pemilik hotel dan operator global menghadirkan pendekatan hospitality yang seimbang antara layanan kelas dunia dan identitas lokal.

"Inisiatif ini mencerminkan filosofi hospitality yang berfokus pada nilai pengalaman, relevansi budaya, dan posisi jangka panjang. Perpaduan musik tradisional Indonesia dan teknologi modern menyajikan pengalaman menginap yang berbeda bagi para tamu," ujar General Manager Lotusa Batulicin by Swiss-Belhotel International, Firman Sandangi.

Lotusa Batulicin by Swiss-Belhotel International membuktikan bahwa hotel dapat menjadi ruang dialog budaya. Pada akhirnya, eksistensi Gamelatron Shakya sebagai ikon hotel berperan penting dalam harmonisasi seni, spiritualitas, dan hospitality berkelas di Lotusa Batulicin.

(adv/adv)