Varian virus Influenza A (H3N2) subclade K yang dikenal sebagai 'super flu' disebut bisa memicu gejala yang lebih berat dan berisiko komplikasi, utamanya pada kelompok rentan.
Meski masih tergolong influenza musiman, mutasi pada subclade K membuat virus ini lebih agresif dibanding flu biasa.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto menjelaskan, subclade K bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman H3N2 yang mengalami mutasi sehingga sifat penularan dan gejalanya menjadi lebih berat.
"Secara varian, super flu subclade K ini sebenarnya influenza musiman juga. Tapi yang dikenal sebagai super flu itu memiliki sifat lebih agresif, yaitu mudah menular, gejala lebih berat, dan pada beberapa data menunjukkan respons yang lebih rendah terhadap vaksin," ujar Agus saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/1).
Meski sama-sama influenza, subclade K kerap memunculkan keluhan yang lebih berat dibanding flu musiman yang umum dialami masyarakat.
"Gejalanya bisa berupa demam tinggi sampai 39-41 derajat Celcius, nyeri otot hebat, sakit kepala berat, kelelahan, dan batuk kering," ujarnya.
Pada kasus flu musiman biasa, menurut Agus, gejalanya tergolong ringan dan membaik dalam beberapa hari. Namun, pada kasus subclade K, keluhan bisa terasa lebih intens dan berlangsung lebih lama.
Dengan karakter yang lebih agresif, subclade K dinilai memiliki risiko komplikasi yang lebih besar dibanding flu musiman biasa.
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia atau radang paru, ketika virus turun ke saluran pernapasan bawah. Dalam kondisi tertentu, pneumonia dapat disertai infeksi bakteri sekunder.
"Kalau pneumonia tidak teratasi, bisa berlanjut ke kegagalan pernapasan," ujarnya.
Risiko komplikasi ini, lanjut Agus, utamanya terjadi pada populasi rentan seperti anak, orang lanjut usia (lansia), atau kelompok orang dengan komorbid tertentu.
Kementerian Kesehatan RI mencatat 62 kasus subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025. Sejauh ini, belum dilaporkan adanya kasus 'super flu' yang parah.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga telah memastikan bahwa 'super flu' tidak seganas atau semematikan seperti Covid-19.
"Enggak usah khawatir bahwa ini seperti Covid-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa, influenza H3N2," tegas Budi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/1).
Menurut dia, influenza A cenderung mengalami peningkatan kasus di negara empat musim, utamanya saat musim dingin. Namun di Indonesia, kenaikan kasus tidak terlalu signifikan.
Meski begitu, Budi tetap mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir berlebih namun tetap waspada dengan menjalankan pola hidup sehat.
"Yang penting buat teman-teman, jaga kesehatan, imunitasnya, istirahat cukup, sehingga kalau kena [super flu], sama seperti flu biasa, bisa kembali lagi," ujar dia.
(nga/asr)