Seorang wanita bernama Jeanette seakan jatuh ke dalam jurang pertanyaan yang tak berujung setelah ia didiagnosis mengidap penyakit kanker serviks.
Dia bertanya-tanya apakah dia tidak akan bisa memiliki anak? Apakah ia harus memasuki masa menopause di usianya yang baru 31 tahun?
"Saya merasa dikhianati oleh tubuh saya sendiri," tuturnya kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dilansir UN Geneva.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kanker serviks, yang merupakan jenis kanker keempat paling umum menyerang perempuan, akhirnya merenggut nyawa Jeanette setahun setelah ia didiagnosis. Pada Januari ini, yang diperingati sebagai Bulan Kesadaran Kanker, WHO kembali menegaskan bahwa penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan.
Kanker serviks adalah kanker sistem reproduksi yang berkembang pada leher rahim perempuan. Jika tidak dideteksi atau diobati sejak dini, kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
- Kasus Baru: Sekitar 660.000 perempuan didiagnosis menderita kanker serviks di seluruh dunia.
- Angka Kematian: Sekitar 350.000 perempuan meninggal dunia akibat penyakit ini.
- Frekuensi: UNICEF, badan anak-anak PBB, memperingatkan bahwa penyakit ini merenggut nyawa satu perempuan setiap dua menit.
Hampir seluruh kasus kanker serviks terkait dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang sangat umum menular melalui kontak seksual.
Meski sistem kekebalan tubuh biasanya mampu membersihkan virus ini secara alami, infeksi yang menetap dari jenis HPV karsinogenik tertentu dapat menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang berujung pada kanker.
Kanker serviks adalah salah satu bentuk kanker yang paling sukses untuk diobati jika terdeteksi dini dan dikelola dengan efektif. Langkah pencegahan utama yang direkomendasikan WHO meliputi:
1. Vaksinasi HPV: Untuk semua anak perempuan usia 9-14 tahun sebelum mereka aktif secara seksual.
2. Skrining Rutin: Mulai usia 30 tahun (atau 25 tahun bagi perempuan dengan HIV).
Namun, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi kendala besar. Hal ini menyebabkan angka kejadian dan kematian tetap tinggi di beberapa wilayah, termasuk Afrika sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Tenggara.
Pada tahun 2020, sebanyak 194 negara telah menyepakati strategi global untuk mengeliminasi kanker serviks. Strategi ini menetapkan target ambisius "90-70-90" yang harus dicapai pada tahun 2030:
- 90 persen anak perempuan mendapatkan vaksinasi HPV lengkap pada usia 15 tahun.
- 70 persen perempuan menjalani skrining dengan tes berperforma tinggi pada usia 35 dan 45 tahun.
- 70 persen perempuan yang didiagnosis mendapatkan akses pengobatan.
Jika strategi ini berhasil, PBB memperkirakan dunia dapat menghindari 74 juta kasus baru dan mencegah 62 juta kematian pada tahun 2120.
(wiw)