Tren Cari Jodoh Tahun 2026: Sambil 'Lari Kalcer' di Jogging Track
Mencari pasangan di tahun 2026 tak melulu lewat aplikasi kencan. Generasi muda kini mulai beralih ke cara yang lebih aktif dan nyata, yaitu bertemu lewat olahraga, terutama olahraga lari.
Fenomena lari memang tengah naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Maraknya klub lari, festival, hingga acara fun run dipenuhi peserta dengan gaya modis dan nuansa kekinian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sinilah muncul istilah 'lari kalcer', sebutan untuk aktivitas lari yang tak hanya soal olahraga, tetapi juga gaya hidup dan pergaulan.
Merangkum dari berbagai sumber, istilah 'kalcer' sendiri merupakan plesetan dari kata culture atau budaya. Dalam bahasa gaul, kalcer merujuk pada seseorang yang mengikuti tren, paham budaya populer, dan tahu hal-hal yang sedang ramai dibicarakan.
Dalam konteks lari, kalcer menggambarkan pelari yang aktif di komunitas, tampil modis, dan menjadikan lintasan lari sebagai ruang sosial.
Seiring tren tersebut, lari kalcer tak lagi dimaknai sekadar aktivitas fisik. Bagi banyak anak muda, olahraga ini perlahan berubah menjadi ruang baru untuk berkenalan, membangun koneksi, hingga membuka peluang hubungan romantis.
Para ahli menilai, minat terhadap olahraga dan aktivitas fisik kini menjadi 'modal sosial' baru, terutama di kalangan anak muda. Dari klub lari, tenis bareng, hingga olahraga komunitas semua dimanfaatkan sebagai cara alami untuk bertemu orang baru.
"Penekanan pada pengalaman bersama, aktivitas sosial, dan membangun kedekatan lewat kegiatan yang terstruktur membantu memahami mengapa semakin banyak orang yang vokal tentang olahraga," kata Luke Brunning, dosen etika terapan di Universitas Leeds, mengutip dari NY Post.
Menurut Brunning, meningkatnya partisipasi perempuan dalam olahraga, ditambah eksposur olahraga non-mainstream di media sosial serta budaya hidup sehat membuat olahraga semakin populer dalam dunia kencan.
Data menunjukkan, olahraga menjadi salah satu minat dengan pertumbuhan tercepat di kalangan Gen Z. Dari 10 minat yang paling pesat berkembang, delapan diantaranya berkaitan dengan aktivitas fisik.
Ketertarikan pada tenis, sepak bola, basket, dan kebugaran secara umum meningkat hingga 300-600 persen. Sepak bola mencatat lonjakan hampir tujuh kali lipat, sementara basket, lari, renang, gym, dan workout meningkat sekitar 350 persen.
Awalnya, klub lari hanya dipandang sebagai tempat olahraga rutin. Namun, seiring waktu, komunitas lari berubah menjadi ruang pertemuan sosial bahkan dijuluki sebagai 'Tinder versi offline'.
Fenomena ini tak hanya terjadi di lintasan lari. Turnamen olahraga besar pun mulai dimanfaatkan sebagai ajang cari pasangan. Di Amerika Serikat, misalnya, ajang tenis US Open menghadirkan serial khusus yang mempertemukan pasangan dengan latar minat yang sama terhadap olahraga.
Sementara itu, klub lari tetap menjadi ikon utama tren ini. Selain karena mudah diikuti, lari bersama menciptakan rasa kebersamaan lewat 'lelah yang dibagi bersama'.
Datang ke klub lari atau komunitas olahraga dianggap bisa membantu orang bertemu dan terhubung lewat pengalaman yang sama.
Lari bersama juga menghilangkan tekanan khas kencan pertama. Semua orang memakai pakaian olahraga, tak ada kecanggungan memilih outfit, dan interaksi terjadi secara alami tanpa swiping atau ghosting.
Di tengah kejenuhan terhadap aplikasi kencan, lari kalcer pun menjadi simbol perubahan cara generasi muda membangun relasi yang lebih aktif dan lebih nyata.
(nga/asr)
