Seberapa Sering Mi Instan Aman Dikonsumsi? Perhatikan Batasannya
Mi instan menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena praktis, murah, dan rasanya yang gurih. Namun, di balik itu semua, muncul pertanyaan yang kerap dibahas seberapa sering sebenarnya aman mengonsumsi mi instan?
Dokter spesialis gizi, Inge Permadi menjelaskan bahwa mi instan secara gizi pada dasarnya terdiri dari karbohidrat, sedikit protein dan lemak.
Faktor yang paling menentukan risiko kesehatannya bukan semata mi instan itu sendiri, melainkan kandungan garam di dalamnya.
Menurut Dokter Inge, rasa gurih yang membuat mi instan digemari berasal dari garam. Dampaknya terhadap tubuh pun sangat bergantung pada sensitivitas masing-masing orang terhadap asupan garam.
"Tergantung pada komposisi di dalamnya, kalau dia terlalu banyak garam tentu dia menjadi berisiko," ujar Inge saat dihubungiCNNIndonesia.com, Kamis (8/1).
Ia menegaskan bahwa risiko mi instan tidak bisa dilepaskan dari komposisi makanan secara keseluruhan. Seseorang yang sering mengonsumsi mi instan sekaligus mengonsumsi makanan lain yang juga tinggi garam, berpotensi mendapatkan asupan natrium berlebih dalam satu hari.
Asupan garam yang berlebihan inilah yang menjadi perhatian utama. Konsumsi mi instan sejak usia dini dan dilakukan terlalu sering dapat meningkatkan risiko hipertensi di usia muda.
Hal ini karena batasan konsumsi asupan garam adalah kurang dari 5 gram garam dapur per hari.
Lantas, berapa kali sebenarnya mi instan boleh dikonsumsi?
Dokter Inge tidak menyebutkan angka pasti per minggu atau per bulan karena menurutnya batas aman sangat tergantung pada cara mengonsumsi dan mengombinasikannya dengan makanan lain.
Mi instan bisa menjadi lebih layak dikonsumsi jika diposisikan sebagai sumber karbohidrat, lalu dilengkapi dengan asupan protein dan zat gizi lain.
"Kalau kita anggap mi sebagai karbohidrat, lalu ditambahkan protein, dia bisa jadi makanan bergizi. Tapi bumbunya sebaiknya dikurangi supaya tidak terlalu asin," jelasnya.
Dalam pola makan sehat, komposisi gizi ideal terdiri dari sekitar 50-60 persen karbohidrat, 10-15 persen protein, dan lemak kurang dari 30 persen.
Dari penjelasan itu, mi instan seharusnya tidak dikonsumsi sendirian, melainkan ditambah lauk berprotein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe, serta sayuran.
Mi instan bukan makanan yang sepenuhnya harus dihindari, tetapi frekuensi dan cara konsumsinya perlu dikontrol.
Jika dikonsumsi terlalu sering, terutama tanpa tambahan protein dan dengan bumbu lengkap, risiko buruk terhadap kesehatan akan meningkat. Sebaliknya, jika dikonsumsi sesekali dan dikombinasikan dengan bahan makanan bergizi lain, mi instan masih bisa menjadi bagian dari pola makan.
(nga/fef)