Pendakian Gunung Prau Akan Ditutup 2 Bulan, Berlaku Mulai 19 Januari
Mulai 19 Januari 2026, para pecinta alam dan pendaki gunung yang merencanakan perjalanan ke Gunung Prau, Jawa Tengah, perlu menyusun ulang jadwalnya.
Sebab, seluruh akses jalur pendakian Gunung Prau bakal ditutup total untuk umum selama dua bulan penuh.
Langkah penutupan sementara ini dijadwalkan berlangsung hingga 20 Maret 2026. Jalur pendakian gunung yang memiliki ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut baru akan kembali dibuka bagi para pendaki pada 21 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan ini berlaku secara serentak di enam gerbang masuk utama atau basecamp menuju puncak Prau, yang meliputi jalur Patak Banteng, Kalilembu, Dieng, Wates, Dwarawati, dan Igirmranak. Kebijakan ini secara resmi disahkan melalui surat pemberitahuan Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia (FKPI) bernomor 2025/FKPI-02/12.
Pengawas Basecamp Gunung Prau via Patak Banteng, Solichun, mengonfirmasi bahwa penutupan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap tahun. Namun, terdapat sedikit perbedaan durasi pada tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Penutupan Gunung Prau di semua jalur adalah rutinitas tahunan. Biasanya memakan waktu hingga tiga bulan penuh. Akan tetapi, khusus tahun 2026, karena hari raya Lebaran jatuh pada bulan Maret, kami memutuskan untuk membuka kembali jalur setelah Lebaran selesai," ujar Solichun saat memberikan keterangan pada Senin (12/1), seperti dilansir Detik.
Sesuai kesepakatan, operasional jalur pendakian akan berhenti total mulai 19 Januari hingga 20 Maret, dan segera melayani pendaki kembali pada keesokan harinya, yakni 21 Maret 2026.
Solichun menjelaskan bahwa periode jeda ini sangat krusial untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan pendakian sepanjang tahun lalu, serta melakukan perawatan fisik pada jalur-jalur yang ada.
Beberapa agenda utama yang akan dilaksanakan oleh pengelola di seluruh basecamp meliputi, meninjau kembali sistem manajemen pendakian demi keamanan pengunjung, melakukan perbaikan pada akses jalan yang rusak demi kenyamanan pendaki.
Lalu, ada aksi kolektif memungut sampah di sepanjang jalur hingga area puncak, melakukan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian ekosistem.
Selain faktor pemeliharaan, kondisi cuaca di awal tahun yang masuk dalam puncak musim penghujan menjadi alasan pendukung kebijakan ini. Pihak pengelola menilai, curah hujan yang tinggi adalah momen paling potensial untuk melakukan upaya penghijauan kembali.
"Salah satu alasannya karena musim hujan. Ini waktu yang sangat potensial untuk konservasi, terutama untuk penanaman pohon agar tumbuh maksimal. Jadi, selama jalur ditutup, kami akan fokus melakukan kegiatan pelestarian alam," pungkas Solichun.
Kebijakan ini telah diputuskan melalui rapat koordinasi FKPI dan telah diketahui secara resmi oleh pihak Perhutani. Informasi mengenai penutupan ini juga sudah disosialisasikan secara luas melalui kanal media sosial resmi masing-masing basecamp agar diketahui oleh calon pendaki dari berbagai daerah.
(wiw)[Gambas:Video CNN]