Kebiasaan Pakai Bidet yang Bisa Ganggu Kesehatan Vagina
Membersihkan area kewanitaan dengan bidet memang sudah menjadi kebiasaan banyak perempuan di Indonesia. Praktis dan dianggap lebih bersih, bidet kerap digunakan setiap kali buang air.
Namun, kebiasaan ini ternyata perlu dilakukan dengan hati-hati.
Dokter Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal, mengingatkan bahwa menyemprotkan bidet dengan tekanan air terlalu kencang ke area vagina dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan.
Lihat Juga : |
"Tekanan air yang kuat bisa mengganggu keseimbangan bakteri alami di vagina. Akibatnya, risiko infeksi justru meningkat," kata Agus dalam temu media yang digelar Eka Hospital BSD di Jakarta, Selasa (13/1).
Vagina secara alami memiliki bakteri baik, seperti Lactobacillus, yang berfungsi menjaga tingkat keasaman (pH) dan melindungi dari pertumbuhan bakteri jahat. Semprotan air bertekanan tinggi dapat menghilangkan bakteri baik tersebut dan merusak lapisan pelindung vagina.
Kondisi ini membuat area intim menjadi lebih rentan terhadap berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah meningkatnya risiko infeksi jamur seperti kandidiasis maupun infeksi bakteri seperti vaginosis bakterialis.
Selain itu, tekanan air yang terlalu kuat juga dapat mendorong bakteri dari area luar masuk ke dalam uretra atau saluran kemih. Hal ini menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK), yang memang lebih sering dialami oleh perempuan karena struktur saluran kemih yang lebih pendek.
"Semprotan bidet yang keras juga berisiko menimbulkan iritasi dan peradangan. Jaringan vagina yang sensitif bisa mengalami luka-luka mikro, memicu rasa perih, tidak nyaman, hingga peradangan berkepanjangan," kata dia.
Lihat Juga : |
Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi bahkan dapat menyebar ke organ reproduksi bagian atas seperti rahim dan tuba falopi. Kondisi ini dikenal sebagai radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID), yang tergolong serius dan dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Agar tetap aman, Agus menyarankan penggunaan bidet dengan cara yang benar. Tekanan air sebaiknya diatur serendah mungkin dan hanya digunakan untuk membersihkan area luar vagina atau vulva.
"Arah semprotan juga penting. Selalu semprot dari depan ke belakang untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina atau uretra," ujarnya.
Perempuan juga dianjurkan menghindari kebiasaan menyemprotkan air ke dalam lubang vagina atau melakukan douching. Membersihkan area luar dengan lembut sudah cukup untuk menjaga kebersihan.
Setelah itu, area intim sebaiknya dikeringkan dengan cara menepuk-nepuk perlahan menggunakan handuk bersih atau tisu. Dengan cara ini, kebersihan tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan organ intim.
(tis/tis)