Tarot di TikTok Kian Populer, Psikolog Ingatkan Risikonya
Ramalan tarot di media sosial kian marak dan digemari, terutama oleh kalangan Generasi Z (Gen Z). Jika dulu tarot identik dengan nuansa mistis dan praktik tertutup, kini ia menjelma menjadi konten populer dalam video pendek di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Tak sedikit kreator yang membuka 'konsultasi tarot' secara daring. Lewat kartu-kartu yang dibuka di depan kamera, mereka membacakan ramalan seputar asmara, karier, keuangan, hingga masa depan.
Lihat Juga : |
Menariknya, kolom komentar sering kali dipenuhi respons serupa, seperti kalimat, "I claim this energy."
Ungkapan tersebut dipercaya sebagai cara 'mengambil berkah' atau energi positif dari ramalan yang disampaikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tarot tak lagi sekadar hiburan, melainkan mulai menjadi pegangan emosional bagi sebagian anak muda.
Tarot sebagai penawar kegelisahan
Psikolog klinik dari Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi menjelaskan bahwa ketertarikan Gen Z pada ramalan tarot kerap muncul saat mereka merasa tidak berdaya menghadapi situasi hidup yang penuh ketidakpastian.
Dalam perspektif psikologi, individu cenderung mencari penjelasan eksternal ketika berada dalam kondisi tertekan. Tarot menawarkan narasi yang terasa menenangkan karena memberikan gambaran atau prediksi tentang masa depan, meski sifatnya belum tentu pasti.
"Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang," ujar Dian, dikutip dari laman Unair.
Bagi Gen Z yang tumbuh di tengah tekanan sosial, tuntutan karier, serta banjir informasi di media sosial, tarot dapat berfungsi sebagai coping mechanism atau mekanisme koping untuk meredakan kecemasan.
Media sosial turut memperkuat daya tarik tarot. Format video singkat dengan narasi yang terasa personal membuat banyak penonton merasa 'dibacakan secara khusus'.
Algoritma pun bekerja mempertemukan pengguna dengan konten serupa berulang kali, sehingga rasa percaya makin terbentuk.
Komentar seperti "I claim this energy" juga menjadi bentuk validasi sosial. Ketika banyak orang merespons dengan keyakinan yang sama, kepercayaan terhadap ramalan tersebut kian menguat, meski tak memiliki dasar ilmiah.
Jebakan self-fulfilling prophecy
Meski bisa memberi rasa tenang, Dian mengingatkan agar tarot tidak dijadikan satu-satunya rujukan dalam mengambil keputusan hidup. Salah satu risiko psikologis yang perlu diwaspadai adalah self-fulfilling prophecy.
Dalam kondisi ini, ramalan seolah menjadi kenyataan bukan karena tarot memiliki kekuatan khusus, melainkan karena individu sudah telanjur meyakininya. Keyakinan tersebut kemudian memengaruhi perilaku dan pilihan hidup, sehingga hasil akhirnya sesuai dengan ramalan awal.
"Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving," jelas Dian.
Kondisi ini berpotensi berbahaya jika membuat seseorang pasrah pada keadaan dan enggan berusaha memperbaiki situasi.
Cara sehat mengelola stres
Alih-alih sepenuhnya bergantung pada faktor eksternal seperti tarot, Dian menyarankan Gen Z untuk mengelola stres dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan, antara lain:
• Journaling, untuk menuliskan perasaan dan membantu memproses emosi.
• Manajemen waktu, agar rutinitas harian lebih teratur dan tidak menimbulkan kewalahan.
• Pola hidup sehat, dengan konsumsi makanan bergizi dan olahraga rutin.
Lihat Juga : |
Dosen Fakultas Psikologi Unair itu juga menekankan pentingnya mencari bantuan profesional jika krisis emosional terasa berat dan sulit ditangani sendiri. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu individu memahami diri dan situasi secara lebih objektif.
Di tengah derasnya arus konten tarot di media sosial, Gen Z diharapkan tetap mampu bersikap kritis. Tarot boleh jadi teman refleksi, namun kendali hidup tetap berada di tangan diri sendiri, bukan di balik kartu yang dibuka di layar ponsel.
(tis/tis)