Mengenal Virus Nipah, Penyakit Zoonosis Mematikan Tanpa Vaksin
Virus Nipah kembali menjadi sorotan karena tingkat kematiannya yang tinggi dan potensi ancamannya terhadap kesehatan global. Penyakit ini bahkan disebut-sebut memiliki risiko pandemi baru, mengingat sifat penularannya yang luas dan belum tersedianya vaksin maupun obat khusus.
Seorang peneliti asal Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, yang bekerja di Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, pernah menganalisis berbagai sampel spesies pada Januari 2020, termasuk kelelawar. Dari riset tersebut, ditemukan bahwa hewan ini berpotensi menjadi sumber ancaman penyakit baru, sebagaimana Covid-19.
"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya dan tingkat kematian yang tinggi akibat virus ini," ujar Supaporn, dikutip dari BBC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu virus Nipah?
Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan tidak hanya terjadi dari hewan, tetapi juga bisa melalui makanan yang terkontaminasi serta kontak langsung antar-manusia.
Virus Nipah atau Nipah virus (NiV) memiliki inang alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1999 saat terjadi wabah di Malaysia yang juga berdampak ke Singapura.
Kala itu, sebagian besar kasus pada manusia terjadi akibat kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau jaringan hewan yang terkontaminasi.
"Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan seperti babi, yang bisa mengakibatkan kerugian ekonomi signifikan bagi peternak," tulis WHO.
Meski jumlah wabah yang tercatat masih terbatas di kawasan Asia, virus Nipah dinilai sangat berbahaya karena mampu menginfeksi berbagai spesies hewan dan menyebabkan penyakit berat hingga kematian pada manusia.
Pada wabah berikutnya di Bangladesh dan India sejak 2001, sumber penularan utama diduga berasal dari konsumsi buah atau produk buah, seperti jus kurma mentah yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi.
Mengapa virus Nipah sangat mematikan?
Virus Nipah dikenal mematikan karena dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga gangguan pernapasan akut dan ensefalitis atau radang otak yang fatal.
Pada tahap awal, orang yang terinfeksi biasanya mengalami gejala seperti:
• demam
• sakit kepala
• nyeri otot
• muntah
• sakit tenggorokan
WHO menjelaskan bahwa kondisi ini dapat berkembang menjadi pusing, mengantuk, penurunan kesadaran, serta munculnya tanda-tanda neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.
Selain itu, sejumlah pasien juga mengalami pneumonia atipikal dan gangguan pernapasan berat. Pada kasus yang parah, ensefalitis dan kejang dapat terjadi dan berkembang cepat menjadi koma hanya dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Namun, dalam beberapa laporan, masa inkubasi bisa berlangsung hingga 45 hari.
Dampak jangka panjang dan tingkat kematian
Tidak semua pasien yang selamat sepenuhnya pulih. WHO mencatat bahwa sekitar 20 persen penyintas mengalami gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang dan perubahan kepribadian.
Bahkan, sebagian kecil pasien yang telah sembuh dapat mengalami kekambuhan atau ensefalitis dengan onset tertunda. Tingkat kematian akibat virus Nipah diperkirakan mencapai 40 hingga 75 persen.
"Angka ini dapat bervariasi tergantung pada wabah, termasuk kemampuan lokal dalam surveilans epidemiologi dan penanganan klinis," tulis WHO.
Dengan tingkat fatalitas yang tinggi dan ketiadaan vaksin hingga kini, virus Nipah menjadi salah satu ancaman penyakit menular yang terus dipantau ketat oleh para ahli kesehatan dunia.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

