Viral Olahan Ikan Sapu-sapu, Ini Risiko Kesehatan yang Mengintai
Viral di media sosial, beragam olahan makanan seperti siomay hingga abon disebut-sebut berbahan dasar ikan sapu-sapu. Fenomena ini langsung memantik perhatian publik, mengingat ikan sapu-sapu selama ini dikenal hidup di perairan tercemar, termasuk sungai-sungai di kawasan perkotaan.
Tak sedikit warganet yang mempertanyakan keamanan konsumsi ikan tersebut. Kekhawatiran muncul karena paparan cemaran dari lingkungan tercemar yang masuk ke tubuh dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko kanker.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pun mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar karena berpotensi membahayakan kesehatan.
"Kalau ikannya hidup di sungai yang tercemar, maka yang berbahaya bukan hanya ikannya, tapi semua cemaran yang dia makan. Logam berat itu tidak bisa dibersihkan hanya dengan dimasak," ujar Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi, Selasa (27/1) mengutip detikhealth.
Menurut Nadia, ikan yang hidup di lingkungan tercemar berisiko mengandung berbagai zat berbahaya, mulai dari logam berat hingga bahan toksik lain yang dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia.
"Kalau ikannya makan limbah atau cemaran, maka itu pasti masuk ke tubuh ikannya. Dan ketika dikonsumsi manusia, zat itu ikut masuk ke tubuh kita," tegasnya.
Senada dengan Kemenkes, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) sebelumnya juga menegaskan ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung dan perairan tercemar lainnya tidak layak untuk dikonsumsi.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut ikan tersebut berpotensi mengandung logam berat berbahaya serta bakteri patogen.
"Pada perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi. Termasuk cemaran bakteri seperti E. coli yang berbahaya jika dikonsumsi," ujar Hasudungan.
Ia menjelaskan, secara teori ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi apabila berasal dari budidaya terkontrol dan telah melalui uji laboratorium keamanan pangan. Namun, kondisi tersebut sangat berbeda dengan ikan sapu-sapu yang hidup liar di sungai.
Risiko logam berat
Menurut Hasudungan, ikan hasil tangkapan liar dari sungai tidak melalui sistem pengawasan mutu pangan. Padahal, standar konsumsi ikan di Indonesia mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur batas aman cemaran, antara lain:
• Timbal (Pb)
• Kadmium (Cd)
• Merkuri (Hg)
• Arsen (As)
"Kalau ikan berasal dari sungai tercemar, sangat mungkin kandungan logam beratnya melebihi ambang batas aman. Konsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan keracunan kronis," jelasnya.
Logam berat diketahui dapat merusak berbagai organ tubuh, seperti ginjal, hati, hingga sistem saraf. Akumulasi zat berbahaya tersebut dalam waktu lama juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tren makanan viral tanpa mengetahui asal-usul bahan bakunya. Meski diolah menjadi siomay, abon, atau produk lainnya, ikan yang berasal dari perairan tercemar tetap berisiko membahayakan kesehatan.
"Masalahnya bukan di cara mengolahnya, tapi di sumber ikannya. Kalau sumbernya sudah tercemar, tidak ada proses memasak yang bisa menghilangkan logam berat," tegas Hasudungan.
Pemprov DKI Jakarta menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan edukasi kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi hasil tangkapan liar dari sungai demi melindungi kesehatan publik.
(tis/tis)