Ikan Patin vs Ikan Lele: Mana yang Lebih Aman?

CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 18:15 WIB
Ilustrasi. Dua penelitian terbaru menunjukkan ikan patin ternyata bisa lebih berbahaya ketimbang ikan lele. (istockphoto/MD MOBARAK HOSSAIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikan patin berpotensi terkontaminasi logam berat menurut penelitian terbaru di jurnal Food Chemistry Advances (September 2025). Bahkan ikan yang dibudidayakan di kolam yang terkontrol pun bisa terkontaminasi.

Adapun ikan patin bisa lebih mudah terkontaminasi mikroplastik ketimbang ikan lele menurut penelitian lain. Temuan ini tentu bisa meresahkan konsumen tentang kesehatan ikan yang biasa jadi pangan sehari-hari. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai kedua penelitian ini. 

Ikan patin yang dibudidayakan bisa tercemar logam berat 

Berdasarkan penelitian terbaru oleh Mazedul Haque Sachchu dkk., pangas catfish atau ikan patin yang dibudidayakan di Bangladesh berpotensi terkontaminasi logam berat yang beracun bagi manusia.

Ikan patin menjadi salah satu makanan yang populer dikonsumsi di Bangladesh. Karena tingginya permintaan, digunakan pula pakan buatan dan obat-obatan tertentu untuk meningkatkan produksi.

Menurut para peneliti, ada kemungkinan besar terjadinya kontaminasi jika dosis zat-zat tambahan tersebut tidak tepat. Ini mengakibatkan masuknya logam berat ke dalam siklus makanan ikan patin.

Para peneliti pun mengukur tingkat kontaminasi logam berat pada ikan patin di kolam budi daya ikan di enam distrik, yakni Rajshahi, Chittagong, Noakhali, Jashore, Cumilla, dan Mymensingh.

Adapun metode pengukurannya menggunakan teknik spektrofotometri serapan atom (Atomic Absorption Spectrophotometry/AAS). Hasilnya, ditemukan kadar kromium (Cr) rata-rata sekitar 3,74 mg/kg dalam ikan patin di wilayah Jashore.

Logam lainnya, ditemukan kontaminasi tembaga sekitar 45,22 mg/kg dan timbal 2,22 mg/kg di Cumilla. Lalu arsenik sekitar 11,14 mg/kg di Jashore.

Nilai tersebut menunjukkan adanya pencemaran logam berat yang bisa berasal dari sumber antropogenik, alias aktivitas manusia. Aktivitas tersebut, antara lain pemberian pakan ikan yang tak terkontrol, obat-obatan untuk budi daya, hingga air dan sedimen tanah yang tercemar.

Dampak dari kontaminasi ini, bisa membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan patin. Risiko berbagai penyakit serius yang bahkan berdampak pada kematian, bisa meningkat.

Ikan patin lebih mudah terkontaminasi mikroplastik ketimbang ikan lele

Jika ikan di kolam budi daya bisa terkontaminasi logam berat, ikan patin di muara sungai Bangladesh ditemukan terkontaminasi mikroplastik.

Berdasarkan penelitian lain yang dipublikasi di Journal of Food Composition and Analysis pada Desember 2025, mikroplastik banyak ditemukan di bagian insang dan saluran pencernaan ikan patin.

Para peneliti, yakni Jahanara Akhter Lipi dkk., mengambil sampel dua jenis ikan dari muara Sungai Meghna, yaitu pangasius pangasius (ikan patin) dan Mystus gulio (ikan lele berkumis panjang).

Hasil penelitian menunjukkan, ikan patin mengandung lebih banyak mikroplastik (sekitar 39 partikel) ketimbang ikan lele berkumis panjang (sekitar 24 partikel). Adapun mikroplastik yang paling banyak ditemukan berbentuk serat kecil berukuran kurang dari 0,5 mm dan berwarna ungu.

Pencemaran mikroplastik tersebut berasal dari tekstil sintetis, alat tangkap ikan, dan limpasan dari daerah perkotaan.

Berdasarkan hasil pengukuran, ikan patin bisa menimbulkan risiko ekologis sekaligus efek buruk terhadap kesehatan yang lebih tinggi.

Selain itu, temuan ini memberikan data penting untuk memahami polusi mikroplastik di muara sungai, terutama di estuari tropis. Adapun estuari tropis merupakan ekosistem pesisir semi-tertutup di wilayah topis yang membentuk perairan payau.

Temuan para peneliti di Bangladesh ini bisa menjadi catatan penting bagi konsumen untuk lebih berhati-hati memilih sumber pangan ikan.  

(rti)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK