AI di Situs Agen Travel Rekomendasikan Destinasi Fiktif, Turis Tertipu

CNN Indonesia
Minggu, 01 Feb 2026 15:40 WIB
Masalah bermula ketika AI yang digunakan Tasmania Tours merekomendasikan destinasi bernama "Weldborough Hot Springs", yang ternyata tak ada di kehidupan nyata.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence. (REUTERS/FLORENCE LO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini dianggap sangat membantu efisiensi pekerjaan manusia. Namun, ketergantungan berlebih pada AI tanpa verifikasi data yang ketat dapat memicu masalah serius, bahkan berujung fatal bagi reputasi bisnis.

Hal inilah yang dialami oleh Tasmania Tours, sebuah perusahaan operator tur asal Australia, pada akhir tahun lalu. Demi mempermudah pembuatan konten blog perusahaan, mereka menggunakan bantuan AI untuk menulis rekomendasi tempat wisata di Weldborough.

Weldborough sendiri merupakan sebuah pedesaan kecil di jantung Tasmania yang berjarak sekitar 110 kilometer dari kota Launceston. Wilayah ini dikenal memiliki cuaca yang lebih sejuk dibandingkan daerah lain di Tasmania.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah bermula ketika AI yang digunakan Tasmania Tours merekomendasikan destinasi bernama "Weldborough Hot Springs". Konten tersebut mendeskripsikan pemandian air panas tersembunyi yang eksotis di tengah hutan Tasmania.

Masalahnya, destinasi tersebut tidak pernah ada. Meskipun terdapat kekeliruan informasi yang fundamental, pihak Tasmania Tours telanjur mempublikasikan artikel tersebut di laman resmi mereka.

Dampaknya, para turis yang penasaran mulai membanjiri wilayah tersebut. Kristy Probert, pemilik Hotel Weldborough, mengaku kewalahan menanggapi pertanyaan para pelancong mengenai keberadaan mata air panas itu sepanjang September 2025.

"Awalnya hanya beberapa panggilan telepon, namun kemudian orang-orang mulai berbondong-bondong datang. Saya menerima sekitar lima panggilan sehari, dan setidaknya ada dua hingga tiga orang yang tiba di hotel setiap hari hanya untuk mencari mata air panas itu," ujar Probert mengutip CNN.

Setelah menyadari telah tertipu oleh rekomendasi fiktif, para pelancong mulai melayangkan keluhan keras kepada Tasmania Tours.

Perusahaan yang berada di bawah naungan Australian Tours and Cruises itu pun dibanjiri ujaran kebencian secara daring yang menghancurkan reputasi bisnis mereka dalam sekejap.

"Sistem AI kami benar-benar kacau," aku Scott Hennessey, pemilik Australian Tours and Cruises.

Hennessey berdalih bahwa pihaknya menggunakan jasa pihak ketiga (outsourcing), yakni agen pemasaran, untuk mengelola materi publikasi blog.

Ia mengklaim artikel tersebut diunggah saat manajemen sedang berada di luar negeri, sehingga luput dari proses peninjauan internal.

"Kami mencoba bersaing dengan perusahaan lain sehingga merasa perlu menjaga konten agar tetap segar. Kami bukan penipuan, kami sah, nyata, dan mempekerjakan staf penjualan yang kompeten," tegasnya dalam sebuah klarifikasi.

Fenomena ini menjadi peringatan bagi dunia pariwisata yang kini mulai didominasi oleh teknologi AI. Data menunjukkan sekitar 37 persen wisatawan mulai menggunakan AI untuk merancang rencana perjalanan mereka.

Namun, kepercayaan ini sering kali bertepuk sebelah tangan. Profesor pariwisata di Southern Cross University, Anne Hardy, menyebutkan bahwa penelitian menunjukkan 90 persen rencana perjalanan yang dihasilkan oleh AI mengandung kesalahan. "Para turis cenderung lebih memercayai AI daripada situs ulasan. Ini sangat berbahaya," kata Hardy.

Hardy menambahkan bahwa penggunaan AI oleh operator tur untuk materi pemasaran sering kali menghasilkan informasi yang tidak akurat, mulai dari jarak tempuh, tingkat kesulitan medan, hingga kondisi cuaca di lokasi terpencil.

Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan para pelancong untuk tetap merujuk pada buku panduan perjalanan yang kredibel, agen perjalanan resmi, atau situs web dengan ulasan asli. Konfirmasi langsung kepada penyedia akomodasi atau warga lokal juga sangat disarankan untuk memastikan akurasi destinasi tujuan.

(ana/wiw)


[Gambas:Video CNN]