Psikolog Ingatkan Pentingnya Perhatian Orang Tua untuk Cegah Depresi

CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 20:00 WIB
Upaya pencegahan depresi dimulai dari keseharian, terutama dari relasi yang dibangun orang tua dan lingkungan terdekat anak.
Ilustrasi. Upaya pencegahan depresi dimulai dari keseharian, terutama dari relasi yang dibangun orang tua dan lingkungan terdekat anak. (Istockphoto/ Fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mencegah depresi pada anak tidak harus menunggu gejala berat muncul. Upaya pencegahan justru perlu dimulai dari keseharian, terutama dari relasi yang dibangun orang tua dan lingkungan terdekat dengan anak.

Psikolog anak dan keluarga Mira Amir menilai, banyak kasus depresi pada anak berkaitan erat dengan kurangnya perhatian emosional dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Kondisi ini sering tidak disadari karena orang tua merasa sudah memenuhi kebutuhan anak secara fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang tua melalaikan tanggung jawabnya hanya sebatas memberikan kebutuhan fisik. Kasih makan, kasih pendidikan, mungkin bahkan bisa di sekolah mahal, tapi minim interaksi. Minim komunikasi," ujar Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/2).

Menurutnya, komunikasi yang kerap dianggap cukup oleh orang tua sering kali hanya berjalan satu arah. Orang tua menasihati, menegur, bahkan memarahi anak, lalu menganggap itu sebagai bentuk komunikasi. Padahal, komunikasi yang dibutuhkan anak adalah relasi dua arah.

"Ketika kita sebut komunikasi, itu hanya semata komunikasi satu arah. Orang tua hanya bisa menasihati, menegur, bahkan sampai memarahi ke anak. Orang tua berpikir bahwa itu mereka sudah berkomunikasi pada anak. Padahal bukan," kata Mira.

Ia menekankan, kemampuan orang tua untuk mendengarkan anak menjadi kunci penting pencegahan depresi. Anak perlu merasa didengar, dipahami, dan aman mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi.

Selain perhatian emosional, pentingnya kesiapan orang tua sejak sebelum memiliki anak. Ia menyebut, konseling pranikah sebagai salah satu langkah preventif yang kerap diabaikan.

"Pencegahannya itu para calon orang tua sebaiknya, bahkan sebelum menikah melakukan konseling pranikah. Untuk menggali sekiranya sebenarnya mereka masih punya isu di masa kecil yang belum terselesaikan," ujarnya.

Tanpa penyelesaian masalah masa lalu, pola pengasuhan yang keliru berisiko diwariskan ke anak. Orang tua yang pernah mengalami kekerasan, misalnya, bisa tanpa sadar menganggap pola asuh tersebut sebagai hal yang wajar.

Ia juga mengingatkan, perhatian terhadap anak tidak berhenti pada aspek emosional saja. Faktor fisik seperti gizi, aktivitas, dan paparan lingkungan sehat turut memengaruhi ketahanan mental anak.

"Faktor nutrisi dan aktivitas pada anak itu juga sama pentingnya," ujarnya.

Ilustrasi anak korban penculikanIlustrasi. Psikolog ingatkan pentingnya perhatian orang tua untuk cegah depresi pada anak. (Stocksnap/Leeroy)

Anak yang kesehariannya minim aktivitas fisik, kurang bergerak, dan hanya mengonsumsi makanan tidak seimbang dinilai lebih rentan ketika menghadapi tekanan psikologis.

Mira mendorong orang tua untuk aktif melibatkan anak dalam kegiatan fisik sederhana, seperti rutin berolahraga, beraktivitas di luar ruang, hingga mengajak berinteraksi langsung.

Pencegahan depresi pada anak, menurut Mira, tidak hanya dengan satu langkah instan melainkan proses panjang yang menuntut kehadiran orang tua secara utuh.

Perhatian, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang aman menjadi pondasi penting agar anak tidak merasa sendirian menghadapi tekanan emosionalnya.

(nga/asr)


[Gambas:Video CNN]