Kota Kobe di Jepang, Tempat Samurai Singgah dan Pesona Masjid Tertua

CNN Indonesia
Minggu, 15 Feb 2026 06:30 WIB
Di kota-kota populer seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, kepadatan di objek wisata serta hotel yang selalu penuh telah menjadi pemandangan biasa.
Kota Kobe di Jepang jadi destinasi yang underrated. (istockphoto/NicolasMcComber)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang kini tengah berjuang menghadapi lonjakan pariwisata (overtourism). Data menunjukkan angka kunjungan wisatawan mancanegara meroket dari 3,8 juta pada 2022 menjadi rekor 42,7 juta orang pada 2025.

Di kota-kota populer seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, kepadatan di objek wisata serta hotel yang selalu penuh telah menjadi pemandangan biasa.

Di tengah situasi tersebut, muncul Kobe, kota yang selama ini hanya dikenal dunia karena daging wagyu mewahnya, namun tetap menjadi teka-teki bagi banyak pelancong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski hanya berjarak 25 menit dari Osaka dan 50 menit dari Kyoto menggunakan kereta, kota terbesar keenam di Jepang ini masih kurang mendapat apresiasi, terutama dari wisatawan Barat.

Padahal,  melansir Independent, sejarah mencatat Kobe adalah pelabuhan pertama yang dibuka untuk perdagangan asing pada 1868, menjadikannya gerbang utama Jepang menuju dunia.

Kobe juga memiliki Arima Onsen, salah satu sumber air panas tertua di Jepang yang sangat mudah diakses. Destinasi ini menjadi tempat pelarian sempurna bagi mereka yang jenuh dengan hiruk pikuk kerumunan di kawasan Kanto dan Kansai.

Salah satu daya tarik utama di Arima adalah ryokan (penginapan tradisional) bersejarah seperti Tocen Goshoboh yang berdiri sejak abad ke-12. Dahulu, tempat ini merupakan persinggahan favorit para samurai dan kaisar karena lokasinya yang dekat dengan ibu kota kuno, Kyoto.

Daya tarik utamanya adalah air mineral kinsen atau "mata air emas". Air ini memiliki warna karat yang khas karena kaya akan kandungan garam, kalsium, dan zat besi, yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan bagi otot yang lelah setelah perjalanan panjang.

Selain itu, Arima menyimpan budaya geisha (geiko) yang lebih tua dari Kyoto. Tradisi ini bermula dari para biksu muda yang melayani tamu pemandian dalam ritual penyucian Buddha, yang seiring waktu perannya digantikan oleh perempuan. Hingga kini, pertunjukan geiko masih dapat disaksikan di sejumlah kafe di Arima.

Kobe menawarkan pengalaman berjalan kaki yang menyenangkan. Di Distrik Kitano yang berbukit, sejarah multikultural kota ini tercermin pada arsitekturnya. Beberapa bangunan ikonik di sana antara lain:

- Weathercock House: Bangunan bergaya Jerman.
- Moegi House: Arsitektur bergaya Amerika.
- Yamate Hachibankan: Terinspirasi dari gaya Tudor Inggris.
- Masjid Kobe: Masjid tertua di Jepang yang dibangun pada 1935.

Untuk nuansa tradisional, Kuil Ikuta yang dibangun sejak abad ketiga menjadi titik penting untuk dikunjungi. Kuil Shinto ini populer sebagai tempat berdoa bagi kelanggengan hubungan.

Bagi pemburu destinasi harian, Himeji, yang memiliki kastel feodal terbesar dan paling terawat di Jepang, hanya berjarak 15 menit menggunakan Shinkansen dari Kobe.

Perpaduan unik antara budaya, kuliner kelas atas, onsen legendaris, dan pusat perbelanjaan membuat Kobe menjadi destinasi alternatif yang tenang. Namun, dengan segala daya tariknya, kota ini diprediksi tidak akan menjadi "rahasia" bagi wisatawan dalam waktu lama.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]