Sering Terjadi pada Anak, Night Terror Tak Sama dengan Nightmare

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 14:00 WIB
Ilustrasi. Sering dianggap mirip, padahal night terror dan nightmare adalah dua hal yang berbeda. (istockphoto/swissmediavision)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tangisan, teriakan, hingga tubuh yang meronta di tengah malam sering kali langsung dianggap sebagai mimpi buruk, padahal bisa jadi itu adalah night terror.

Dua gangguan tidur tersebut kerap disalahartikan karena gejalanya tampak serupa. Meski sama-sama terjadi saat tidur dan memicu rasa takut, keduanya berbeda dari sisi fase tidur, penyebab, hingga cara penanganannya.

Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak dan biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia. Namun, orang dewasa juga dapat mengalaminya, terutama jika ada faktor pemicu tertentu seperti stres atau gangguan kesehatan.

1. Night terror

Melansir dari NHS, night terror paling sering dialami anak usia 3 hingga 8 tahun. Hal ini biasanya terjadi pada awal malam lebih dari sekali dan berlangsung hingga 15 menit.

Dalam kondisi ini, anak bisa berteriak, menangis, meronta, duduk tiba-tiba, bahkan melompat dari tempat tidur dengan mata terbuka. Namun, sebenarnya ia masih tertidur dan tidak sepenuhnya sadar. Keesokan paginya, anak biasanya tidak mengingat kejadian tersebut.

Menurut Hopkins Medicine, night terror juga dapat disertai respons fisik seperti detak jantung meningkat, napas cepat, otot menegang, hingga berkeringat. Pada saat ini, anak biasanya sulit dibangunkan.

Mengutip dari Healthline, pada orang dewasa, night terror tergolong jarang. Angkanya diperkirakan hanya sekitar 1 hingga 2 persen populasi dan lebih sering terjadi sebelum usia 25 tahun.

Sejumlah penelitian menunjukkan, orang dewasa dengan night terror lebih mungkin memiliki riwayat gangguan kecemasan atau depresi.

2. Mimpi buruk (nightmare)

Berbeda dengan night terror, mimpi buruk terjadi pada fase tidur REM, biasanya di paruh akhir malam. Seseorang yang mengalami nightmare akan terbangun sepenuhnya dan mampu mengingat isi mimpinya dengan jelas.

Rasa takut yang muncul sering kali terasa nyata dan detail. Anak-anak dapat mulai mengalami mimpi buruk sejak usia 3 tahun. Frekuensinya cenderung meningkat pada usia prasekolah dan menurun setelah usia 10 tahun.

Pada orang dewasa, mimpi buruk juga cukup umum terjadi. Sekitar 35 hingga 45 persen orang dewasa melaporkan mengalami mimpi buruk setidaknya sebulan sekali, sementara 2 hingga 6 persen mengalaminya setiap minggu.

Ilustrasi. Ada beberapa perbedaan antara night terror dan nightmare. (istockphoto/PhotoVic)

Night terror maupun mimpi buruk dapat dipicu oleh berbagai faktor. Penyebab yang paling umum meliputi:

- kelelahan berlebihan atau kurang tidur,
- kondisi tubuh sedang tidak sehat,
- gangguan tidur akibat suara mendadak atau keinginan buang air kecil,
- paparan sesuatu yang menakutkan, seperti film horor,
- stres, kecemasan atau kekhawatiran berlebihan,
- efek samping obat-obatan tertentu, termasuk antidepresan,
- gangguan tidur seperti restless legs syndrome atau sleep apnea,
- penyakit neurologis seperti Parkinson,
- cedera berat yang mengganggu pola tidur selama beberapa minggu.

Night terror juga lebih sering terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa atau kebiasaan berjalan saat tidur (sleepwalking).

Sebagian besar kasus teror malam dan mimpi buruk akan membaik dengan sendirinya. Namun, konsultasi ke dokter disarankan jika:

1. Anak masih sering mengalami mimpi buruk setelah usia 6 tahun.
2. Mimpi buruk terjadi berulang dan dipicu peristiwa traumatis.
3. Night terror berlanjut setelah usia 12 tahun.
4. Night terror baru muncul setelah usia 5 tahun.
5. Mimpi buruk pada orang dewasa mengganggu kualitas tidur dan aktivitas harian.

Untuk membantu mengurangi risiko, menjaga rutinitas tidur yang konsisten, memastikan anak cukup istirahat, serta mengelola stres menjadi langkah penting.

Memahami perbedaan night terror dan mimpi buruk membantu orang tua maupun orang dewasa mengambil langkah yang tepat. Meski tampak mengkhawatirkan, sebagian besar kasus pada anak bersifat sementara dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang.

(nga/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK