Jangan Anggap Sepele, Sepatu Bisa Sebar Bakteri di Rumah

CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 22:00 WIB
Sepatu bisa membawa bakteri, virus, alergen hingga timbal ke rumah. Ahli mikrobiologi jelaskan risikonya dan cara menyikapinya.
Ilustrasi. Saat di dalam rumah, sebaiknya sepatu segera dilepas karena bisa menyebarkan bakteri. (iStockphoto/Mikhail Rudenko)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Membersihkan rumah hingga mengilap memang memuaskan. Namun, menjaga rumah tetap higienis saat tamu berdatangan sering kali jadi tantangan tersendiri.

Salah satu dilema yang kerap muncul, perlukah meminta tamu melepas sepatu sebelum masuk?

Sebagian orang merasa sungkan karena takut dianggap tidak sopan. Namun menurut ahli mikrobiologi lingkungan, jawabannya mungkin tidak semanis yang kita harapkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagian bawah sepatu ternyata dipenuhi bakteri dan virus dan itu bukan sekadar asumsi.

Menurut Kelly Reynolds, profesor dan ahli mikrobiologi lingkungan dari University of Arizona, kuman pada sepatu sebenarnya baru menjadi masalah saat kita bersentuhan langsung dengan bagian bawah sepatu atau lantai yang baru saja diinjak.

"Pikirkan tentang siklus penularannya," ujarnya. "Apakah ada anak yang merangkak di rumah? Apakah Anda sendiri sering duduk di lantai?"

Jika kuman yang terbawa sepatu menempel di tangan, lalu tangan menyentuh mata, hidung, atau mulut, siklus penularan pun terjadi. Risiko infeksi pun meningkat, terutama saat musim flu dan pilek.

Meski begitu, jika Anda rutin membersihkan lantai dan tidak memiliki anak yang masih merangkak, memakai sepatu di dalam rumah sesekali mungkin bukan ancaman kesehatan yang besar. Namun, tetap ada sejumlah kontaminan yang perlu diperhatikan.

1. Bakteri berbahaya

Sebuah studi dari University of Arizona menemukan bahwa 96 persen bagian luar sepatu mengandung bakteri. Salah satu yang paling umum adalah E. coli, bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih, hingga meningitis.

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan bakteri lain seperti Klebsiella pneumoniae, penyebab pneumonia dan Serratia ficaria yang bisa memicu berbagai jenis infeksi.

"Jumlah bakteri di sepatu bahkan lebih banyak dibandingkan yang kita temukan di tangan atau lantai," kata Reynolds. "Sepatu adalah kendaraan umum yang membawa kontaminan besar ke dalam rumah."

2. Alergen

Saat musim alergi, banyak orang menutup jendela dan menyalakan air purifier. Namun sering kali lupa bahwa sepatu juga bisa membawa partikel alergen dari luar.

Serbuk sari, debu, dan partikel mikroskopis lain dapat menempel di sol sepatu, lalu tersebar di dalam rumah. Saat debu teraduk oleh langkah kaki atau hewan peliharaan, partikel ini bisa kembali melayang di udara dan terhirup.

3. Timbal

Meski cat berbahan dasar timbal telah lama dilarang, residunya masih ada di lingkungan. Timbal dapat bercampur dengan debu dan tanah, lalu terbawa masuk melalui sepatu.

Paparan timbal sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Dampaknya dapat memengaruhi otak, jantung, dan organ vital lainnya.

Kapan kuman jadi masalah serius?

Masalah muncul ketika lantai jarang dibersihkan. Menurut Reynolds, kontaminan tidak selalu 'diam' di lantai.

"Bakteri seperti magnet, mereka menempel pada partikel debu. Jika debu teraduk, partikel yang mengandung bakteri bisa kembali melayang di udara, lalu terhirup atau tertelan," jelasnya.

Yang lebih mengejutkan, bakteri dan virus tidak cepat mati. Bakteri bisa bertahan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. Sementara virus tertentu bahkan mampu bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung jenis kuman dan tingkat kelembapan.

Artinya, jejak kuman yang terbawa tamu minggu lalu mungkin saja masih ada hari ini jika lantai belum dibersihkan secara menyeluruh.

Jadi, perlukah meminta tamu melepas sepatu?

Secara kesehatan, melepas sepatu di dalam rumah jelas membantu mengurangi risiko kontaminasi. Namun keputusan tetap kembali pada kenyamanan dan kebiasaan masing-masing keluarga.

Jika memilih untuk tetap memperbolehkan sepatu di dalam rumah, pastikan Anda:

• Menyedot debu setidaknya seminggu sekali

• Membersihkan lantai secara rutin

• Menggunakan cairan pembersih berlabel 'disinfektan'

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]