Stroke Mendadak Serang Bocah 10 Tahun Usai Olahraga
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di Vietnam yang sebelumnya sehat mendadak mengalami stroke setelah beraktivitas fisik. Kondisi ini disebut dokter sebagai keadaan darurat medis yang bisa berujung fatal bila tidak segera ditangani.
Wakil Direktur Rumah Sakit Anak Kota Ho Chi Minh, Nguyen Minh Tien, pada 8 Februari mengungkapkan bahwa pasien dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan anak tersebut mengalami stroke iskemik akut akibat bekuan darah yang hampir sepenuhnya menyumbat arteri vertebralis kanan. Penyumbatan ini berisiko menyebabkan kematian atau kerusakan saraf permanen dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani.
Mengutip laporan VNExpress, sebelum dirawat, anak itu sempat berolahraga tanpa menunjukkan tanda cedera atau trauma kepala. Namun tak lama kemudian, ia mengalami gejala neurologis secara tiba-tiba, mulai dari sakit kepala hebat, muntah berulang, kesulitan berjalan, hingga kelemahan progresif pada sisi kiri tubuh.
Tim dokter segera melakukan konsultasi multidisiplin, pemeriksaan angiografi serebral, serta tindakan endovaskular darurat. Penanganan dilakukan melalui terapi penghancur bekuan darah yang ditargetkan dan prosedur mechanical thrombectomy untuk mengangkat sumbatan secara langsung. Aliran darah ke otak pun berhasil dipulihkan sepenuhnya.
Setelah satu minggu menjalani perawatan intensif, kondisi pasien dilaporkan membaik signifikan. Ia kembali sadar penuh dan responsif, dengan fungsi gerak yang hampir sepenuhnya pulih. Dokter memastikan tidak ditemukan defisit neurologis permanen.
Stroke pada anak kerap terlewat
Para spesialis menjelaskan bahwa stroke pada anak tergolong jarang dan kerap luput dari perhatian karena gejalanya bisa samar serta tidak khas. Selain itu, ukuran pembuluh darah anak yang lebih kecil dibandingkan orang dewasa membuat diagnosis dan penanganannya lebih menantang.
Berbeda dengan stroke pada orang dewasa yang umumnya dipicu aterosklerosis, stroke pada anak biasanya berkaitan dengan kondisi tertentu yang memicu pembentukan bekuan darah.
Faktor risikonya bisa berupa aliran darah yang melambat, gangguan pembekuan darah, hingga kerusakan dinding pembuluh akibat peradangan atau trauma.
Dalam kasus ini, penyebab pasti terbentuknya bekuan darah masih belum diketahui.
Dokter kini cenderung mengutamakan intervensi endovaskular dibandingkan pemberian obat penghancur bekuan secara sistemik seperti yang lazim dilakukan pada pasien dewasa. Penanganan ideal dilakukan dalam rentang 4,5 hingga 6 jam pertama sejak gejala muncul, dan pada kondisi tertentu dapat diperluas hingga 24 jam.
Tanpa penanganan cepat, risiko kematian atau komplikasi berat seperti kelumpuhan, epilepsi, dan gangguan kognitif bisa mencapai 50 persen. Risiko kekambuhan pun diperkirakan berada di kisaran 15-20 persen, sehingga pemantauan jangka panjang menjadi sangat penting.
Gejala yang perlu diwaspadai orang tua
Dokter mengimbau orang tua untuk tidak mengabaikan tanda-tanda peringatan stroke pada anak. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
• Kehilangan keseimbangan secara mendadak
• Gangguan penglihatan
• Wajah tampak tidak simetris
• Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan dan kaki
• Bicara pelo atau tidak jelas
Lihat Juga : |
Jika gejala-gejala tersebut muncul secara tiba-tiba, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan stroke.
Meski aktivitas fisik tidak disebut sebagai penyebab langsung dalam kasus ini, dokter tetap menyarankan agar anak berolahraga dengan intensitas yang sesuai, terutama saat cuaca panas. Aktivitas berat sebaiknya diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup guna mencegah kelelahan maupun gangguan terkait paparan panas.
Deteksi dini dan penanganan cepat menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang yang serius. Pada kasus ini, respons medis yang sigap menjadi pembeda antara ancaman kecacatan permanen dan peluang pulih sepenuhnya.
(nga/tis)