Merunut Jejak Sejarah Islam di Jawa Tengah Lewat Makam Sunan Muria
Sebuah situs makam yang berada di atas puncak Gunung Muria, meninggalkan jejak sejarah Islam di Jawa Tengah. Makam Sunan Muria, ini merupakan salah satu bukti arkeologis dari masa awal perkembangan Islam khususnya di Kudus dan sekitarnya.
Raden Umar Said yang juga dikenal sebagai Sunan Muria, merupakan sosok yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, lebih tepatnya di tanah Jawa. Sunan Muria yang termasuk salah satu dari Wali Songo, bertugas menyebarkan ajaran Islam di sekitar Gunung Muria.
Dilansir dari beberapa sumber, banyak yang meyakini bahwa ia adalah putra pertama Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Sejak kecil, Sunan Muria sudah dididik dengan ajaran Islam, terlebih lagi ia adalah murid Ki Ageng Ngerang. Ia menjadi Wali Songo di usia muda dan membesarkan ajaran Islam di wilayah terpencil, Kudus.
Sunan Muria berdakwah dengan media kesenian, tradisi dan kebudayaan setempat. Caranya yang menarik dan interaktif mengambil hati masyarakat, membuat ia berhasil membawa pengaruh besar di sana. Awal perkembangan Islam di Kudus, tak lepas dari sosok Sunan Muria.
Tidak diketahui kapan persisnya Sunan Muria wafat, tetapi diyakini ia meninggal dunia pada tahun 1560 Masehi. Sunan Muria dimakamkan di puncak Gunung Muria, dengan ketinggian 1.600 mdpl. Tepatnya di Jalan Terminal Wisata, Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Untuk mencapai ke Makam Sunan Muria, perjalanan yang ditempuh tak mudah. Perlu mendaki 430 anak tangga, tetapi sepanjang jalan pemandangannya sangat indah dan asri. Kini Makam Sunan Muria selain menjadi situs sejarah, juga merupakan tempat wisata religi, edukasi, dan rekreasi.
Makam Sunan Muria selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dan peziarah. Tempat yang disakralkan ini buka selama 24 jam setiap harinya. Tarif masuk untuk mengunjungi Makam Sunan Muria adalah Rp2.000.
Di atas sana bukan hanya ada Makam Sunan Muria yang sering dikunjungi oleh peziarah. Ada pula Masjid Muria, rumah ibadah yang telah dibangun pada abad ke-15 Masehi.
Beberapa peninggalan yang bisa ditemui di dalam masjid, salah satunya tempat imam (mihrab) asli dari zaman itu. Ada pula bedug dari kayu jati yang usianya lebih dari satu abad. Bedug tersebut memiliki ukiran naga dan ayam jantan, menjadi simbol harmonis budaya Tionghoa dan Jawa.
Menariknya, Masjid Muria yang sekarang ini bukanlah bangunan aslinya. Sunan Muria disebut pernah membakar hangus masjid buatannya tersebut karena masjid itu sering dipuji keindahannya. Setelah itu, masjid ini direnovasi sehingga tidak lagi asli bangunannya.
Selain Masjid Muria, Makam Sunan Muria juga dilengkapi oleh banyak fasilitas lainnya. Ada area parkir yang luas, toilet, toko souvenir, tempat penginapan hingga pesantren.
Beberapa keyakinan di tempat ini juga menjadi daya tarik Makam Sunan Muria. Di sana ada bambu trembelang yang konon katanya air dari bambu tersebut bisa menyembuhkan penyakit. Ada pula tanaman parijoto yang ditanam langsung oleh Sunan Muria, dipercaya berkhasiat untuk kesuburan dan ibu hamil.
(ana/wiw)