Dialog Mode, Sinema, dan Kemanusiaan di Balenciaga
Di momen Paris Fashion Week, Balenciaga di bawah direktur kreatif Pierpaolo Piccioli menghadirkan koleksi runway keduanya. Koleksi ini bertajuk ClairObscur.
Koleksi kedua seringkali menjadi pembuktian bagi desainer di rumah mode baru untuk menunjukkan 'taring' mereka yang sebenarnya. Dan kali ini, Pierpaolo Piccioli 'mengaum'.
Lihat Juga :Laporan dari Paris Eksplorasi Bentuk, Tubuh, dan Ekspresi Kebebasan Yohji Yamamoto |
Ia membangun sebuah narasi visual tentang manusia, tentang fragilitas, kekuatan, dan harapan yang muncul di antara dua kutub abadi dalam penceritaan visual, antara terang dan gelap. Koleksi ini diberi judul ClairObscur, merujuk pada teknik seni Renaisans yang menggunakan kontras cahaya dan bayangan untuk memberi kedalaman dan volume pada sebuah gambar.
Di tangan Piccioli, konsep ini diwujudkan melalui siluet-siluet baru muncul dengan kesan ringan dan hampir melayang, sementara material dipilih karena kemampuannya memantulkan atau menyerap cahaya, seperti kulit yang lentur, kasmir yang padat, sutra, hingga bordir payet yang berkilau. Hasilnya adalah pakaian yang seolah bergerak di antara dua kondisi, yang terlihat jelas sekaligus tersembunyi.
Atmosfer pertunjukan diperkuat oleh kolaborasi dengan sineas Sam Levinson, kreator serial populer Euphoria.
Levinson merancang instalasi video yang menampilkan lanskap kontemporer dari matahari terbit hingga senja, diselingi potret para model dari berbagai generasi. Instalasi tersebut membentuk panorama sinematik yang menyerupai fresko digital, layaknya sebuah potret kolektif tentang manusia. Bagi Piccioli, koleksi ini adalah upaya "menemukan cahaya di dalam kegelapan".
"Saya selalu tertarik pada manusia dan pada narasi yang mereka bawa," ujar Piccioli memalui shownote yang diterima CNNIndonesia.com.
"Saya tertarik pada kerapuhan dan ketidaksempurnaan, karena di situlah saya mengenali keaslian dan keindahan hidup."
Tema tersebut terasa sangat Italia, apalagi konsep ciaroscuro yang menjadi aliran seni lukisan yang penting juga berasal dari grandmasters asal Italia, seperti Caravaggio. Tema ini juga beresonansi dengan tradisi budaya yang membentuk sensibilitas Piccioli.
Dalam sejarah sinema Italia, kontras antara cahaya dan bayangan sering digunakan untuk memotret kondisi manusia. Film klasik seperti La Dolce Vita karya Federico Fellini menampilkan Roma yang glamor sekaligus melankolis, yang menunjukkan sebuah dunia yang terang benderang namun dihantui kehampaan.
Sensibilitas serupa juga muncul dalam film-film Michelangelo Antonioni seperti L'Avventura, yang menggambarkan kesunyian modernitas melalui komposisi visual yang tenang dan penuh bayangan.
Runway Balenciaga terasa seperti adegan panjang dari sinema tersebut. Model-model berjalan perlahan, seperti karakter dalam film Antonioni. Mereka terlihat dekat secara fisik, namun karena teknik pencahayaan yang kompleks, seakan terpisah oleh ruang.
Busana-busana dalam koleksi ini juga memperkuat kesan itu. Gaun dengan draperi tampak seperti gerakan kain yang dibekukan di tengah waktu. Bordir pada gaun malam menciptakan efek cahaya yang tertangkap seperti lukisan. Sepatu D'Orsay dengan gradasi ombré tampak seolah disinari lampu panggung. Tas Curvy baru memiliki bentuk yang berubah, ditentukan oleh ruang kosong di dalamnya.
Lihat Juga :Laporan dari Paris Couture ala Robert Wun dan Makna Busana yang 'Sakral' |
Namun inti koleksi ini tetap terletak pada tubuh manusia. Kerah, tudung, dan décolleté membingkai wajah seperti potret klasik. Sepatu tampak sedikit terangkat dari kaki, menciptakan jarak tipis antara tubuh dan tanah. Efeknya hampir ilusionis, seperti figur yang muncul dari bayangan atau terlihat 'melayang'.
Pendekatan tersebut juga merupakan dialog langsung dengan warisan pendiri rumah mode ini, Cristóbal Balenciaga. Dalam sejarah mode, Cristóbal sering digambarkan sebagai arsitek pakaian. Ia merevolusi siluet dengan bentuk balon, gaun sack, dan eksperimen volume yang membebaskan tubuh dari struktur korset tradisional. Jarak antara kain dengan kulit menjadi tantangan dan eksperimen yang dilakukan oleh Segnor Balenciaga selama hidupnya.
Akan tetapi, alih-alih mengutip siluet-siluet terkenal Balenciaga, ia memperluasnya. Jika Cristóbal membangun pakaian dari struktur internal yang presisi, Piccioli menjadikan tubuh manusia itu sendiri sebagai struktur. Pakaian bukan lagi hanya konstruksi teknis, tetapi ruang dialog antara kain dan tubuh para model.
Kolaboratornya, Levinson, melihat proses itu sebagai perjalanan dari emosi menuju bentuk nyata.
"Pierpaolo digerakkan oleh hati-intuisi, empati, dan koneksi-tetapi sebagai desainer ia harus mengarsitekturkan idealisme itu secara hampir matematis," ujarnya.
Lihat Juga :Laporan dari Paris Semarak 'Parade' dalam Koleksi Couture Stephane Rolland |
Refleksi tentang manusia ini juga mengingatkan pada tradisi sastra Italia. Dalam novel The Name of the Rose karya Umberto Eco, pencarian kebenaran berlangsung dalam ruang biara yang dipenuhi cahaya lilin dan bayangan misterius. Cahaya tidak pernah sepenuhnya menang atas kegelapan; keduanya selalu berdampingan.
Filosofi serupa terasa dalam ClairObscur: terangnya cahaya hanya bermakna karena ada bayangan.
Koleksi ini menandai fase penting bagi Balenciaga. Setelah revolusi radikal Balenciaga yang dilakukan oleh Demna, Piccioli menyuntikkan romantisme dan sensualitas dari rumah mode yang ia tinggalkan, Valentino. Pembuktian bahwa ia bisa menciptakan identitas Balenciaga baru di bawah direksinya hanya meninggalkan satu pertanyaan: Balenciaga Couture.
Dan kepada CNNIndonesia, rumah mode Balenciaga mengkonfirmasi bahwa mereka akan menggelar peragaan couture pada Juli 2026, koleksi couture pertama yang dirancang oleh Piccioli untuk rumah mode tersebut.
Peristiwa ini penting karena couture adalah inti historis Balenciaga sejak era Cristóbal. Di wilayah couture-lah eksperimen bentuk paling radikal biasanya lahir, dan di sanalah publik akan melihat bagaimana Piccioli menafsirkan kembali warisan Balenciaga untuk abad ke-21.
(fas/els)