Masjid Agung Demak, Markas Para Ulama Sebarkan Islam ke Penjuru Jawa
Jika ada satu bangunan yang menjadi saksi bisu peralihan zaman dari kemegahan Majapahit menuju fajar Islam di Jawa, itulah Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Berdiri kokoh sejak abad ke-15, masjid ini bukan sekadar tempat sujud bagi jemaah, melainkan juga dikenal sebagai monumen hidup sejarah Nusantara.
Pembangunan Masjid Agung Demak dimulai sekitar tahun 1475 Masehi di bawah komando Raden Patah, yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, Raden Patah memiliki garis keturunan yang kental dengan tradisi Hindu-Buddha; ia adalah putra dari Raja Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit.
Lahir di Palembang pada 1455, Raden Patah memegang peran krusial dalam sejarah. Ia menjadi jembatan penghubung yang mengubah peta kekuatan politik dan spiritual di Jawa, membawa masyarakat memasuki era kesultanan Islam tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budaya lama.
Keistimewaan Masjid Agung Demak terletak pada proses pembangunannya yang melibatkan Wali Songo. Sembilan wali legendaris ini tidak hanya memberikan restu, tetapi turun tangan langsung dalam merancang dan membangun struktur masjid.
Keterlibatan para wali menjadikan masjid ini memiliki "jiwa" yang kuat sebagai pusat dakwah. Di masa keemasannya, Masjid Agung Demak menjadi markas besar tempat berkumpulnya para ulama, wali, dan tokoh-tokoh penting untuk mengatur strategi penyebaran Islam ke seluruh penjuru Jawa.
Kini, di usianya yang telah melampaui 500 tahun, Masjid Agung Demak masih memancarkan aura kewibawaan yang sama. Arsitekturnya yang khas-terutama atap tajug tumpang tiga-menjadi cermin akulturasi budaya yang harmonis.
Bagi para pelancong dan jemaah, mengunjungi masjid ini seperti kembali ke masa lalu, merasakan kembali getaran perjuangan Raden Patah dan kebijaksanaan Wali Songo yang terpahat di setiap tiang penyangganya.
(wiw)[Gambas:Video CNN]