Kenali 7 Ciri-ciri Toxic Positivity yang Sering Tak Disadari
Melihat sisi buruk dalam setiap situasi dinilai sebagai sesuatu yang toksik. Padahal, bersikeras selalu melihat sisi positif dari sesuatu sebenarnya juga tidak disarankan. Situasi ini disebut toxic positivity. Cek ciri-cirinya berikut ini.
Orang selalu didorong untuk melihat sisi positif dari kejadian yang mungkin tak menyenangkan buatnya. Pun ada tagline 'positive vibes only' yang seolah memberikan dorongan motivasi untuk berpikir positif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyuruh orang untuk berpikir positif justru cenderung mengarah pada toxic positivity. Positivitas beracun alias toxic positivity merupakan keyakinan bahwa betapa pun buruk suatu situasi, orang harus mempertahankan pola pikir positif.
Ciri-ciri toxic positivity
Toxic positivity bisa sama berbahaya dengan terlalu berpikir negatif. Mungkin niatnya baik tapi menyuruh orang untuk berpikir positif dalam situasi sulitnya justru bisa meremehkan atau menyembunyikan masalah mereka.
Pun ini juga bahaya jika diterapkan pada diri sendiri.
"Dengan menyangkal kebenaran kita, kita mulai hidup tidak otentik dengan diri kita sendiri dan dengan dunia," kata terapis pernikahan dan keluarga Samara Quintero mengutip dari Daily Mail.
Untuk membantu melihat lebih jeli, berikut ciri toxic positivity yang sering tak disadari.
1. Memberikan pujian berlebihan
Siapa yang tak suka dipuji? Ada perasaan senang bercampur bangga saat ada salah seorang rekan kerja memuji keberhasilan diet Anda atau sekadar memuji bekal Anda yang enak.
Akan tetapi saat pujian itu diberikan secara berlebihan bisa saja itu bukan benar-benar pujian.
2. Menyarankan untuk bersyukur atas apa yang dimiliki
Saat ada orang datang dengan masalah, sebaiknya dengarkan keluh kesahnya. Menyuruh orang bersyukur atas apa yang mereka miliki justru bisa berbahaya.
Orang malah memendam rasa tidak nyaman atau perasaan buruk itu yang di kemudian hari bisa menimbulkan masalah.
3. "Semua terjadi karena suatu alasan"
Ilustrasi. Bisa jadi selama ini Anda yang menyebarkan toxic positivity. Mengatakan "Semua terjadi karena suatu alasan" justru bisa menutupi masalah sesungguhnya. (Anggita Kusmadewi) |
Putus cinta? Dipecat dari pekerjaan? Mungkin yang ingin dikatakan dalam situasi tersebut adalah "Semua terjadi karena suatu alasan".
Saat orang benar-benar merasa sulit, kata-kata itu bisa sangat menjengkelkan untuk didengar. Sebaiknya coba pahami apa yang dirasakan dan bantu dia menemukan solusi.
4. Menyuruh senyum
Meminta seseorang untuk tersenyum saat mereka sedih sebenarnya cenderung meremehkan dan tidak peka.
Saat menghadapi masalah, biarkan orang meluapkan kesedihan dan kegundahannya. Memintanya tersenyum hanya membuat dia memendam emosi yang seharusnya dibicarakan atau ditangani.
5. Menawarkan bantuan yang tidak spesifik
Anda mungkin ingin menawarkan bantuan pada teman yang menemukan kesulitan. Harapannya dengan mengatakan "Beri tahu saja kalau butuh bantuan" bakal membuat si teman sadar dia punya bala bantuan.
Padahal, kata-kata itu membuat teman Anda berpikir dua kali untuk meminta bantuan sebab takut menjadi beban.
Jika memang Anda tahu ada sesuatu yang bisa dilakukan maka lakukan saja.
6. "Setidaknya.."
Anda ingin menghibur tapi dengan "Setidaknya..." justru hal ini bisa menutupi masalah yang sebenarnya.
Kata-kata seperti "Setidaknya kamu masih hidup", "Setidaknya kamu masih berusaha memenuhi tanggung jawabmu" malah mengabaikan apa yang mereka rasakan.
Perasaan negatif tidak harus jadi pikiran yang menakutkan. Dengan mengakui apa yang dirasakan, Anda justru bisa membantu mereka menemukan solusi, bukan buru-buru menguburnya dengan pikiran positif.
7. Membandingkan dengan kondisi Anda
Saat teman cerita tentang masalahnya, Anda ingin memberikan suntikan energi positif dengan berkata masalah yang Anda hadapi jauh lebih sulit.
Terdengar menghibur tapi sesungguhnya ini tidak baik. Setiap orang berbeda dan merespons masalah dengan cara berbeda.
(els) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi. Bisa jadi selama ini Anda yang menyebarkan toxic positivity. Mengatakan "Semua terjadi karena suatu alasan" justru bisa menutupi masalah sesungguhnya. (Anggita Kusmadewi)