Dampak Perang AS-Israel Lawan Iran, Dubai Berubah Jadi 'Kota Hantu'

CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 10:30 WIB
Dubai, pusat kemewahan di UEA dilaporkan mulai menyerupai "kota hantu" setelah dua minggu dihantam dampak perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Ilustrasi pemandangan Kota Dubai, UEA. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dubai, yang selama ini dikenal sebagai taman bermain bagi para miliarder dunia, sekarang berubah mencekam. Kota pusat kemewahan di Uni Emirat Arab (UEA) ini dilaporkan mulai menyerupai "kota hantu" setelah dua minggu dihantam dampak perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Mengutip laporan The Guardian, Rabu (11/3), eksodus besar-besaran terjadi setelah Iran meluncurkan rentetan drone dan rudal ke infrastruktur vital di negara-negara Teluk, termasuk UEA, sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel pada akhir Februari lalu.

Data menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga senjata balasan Iran ditargetkan ke wilayah UEA. Dubai diduga menjadi sasaran utama karena dua alasan krusial, yang pertama hubungan intelijen dan militer yang erat antara UEA dengan negara-negara Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, yang kedua status Dubai sebagai hub finansial, pariwisata, dan logistik global yang sangat bernilai secara ekonomi.

Dubai sangat rentan terhadap guncangan ini karena ketergantungan mereka yang sangat tinggi pada sektor pariwisata dibandingkan negara Teluk lainnya yang kaya minyak. Saat ini, fasilitas publik yang biasanya padat seperti pantai, bar, hingga mal mewah di Palm Jumeirah terpantau kosong melompong.

Padahal, lebih dari 90 persen penduduk Dubai adalah warga asing yang terpikat oleh kebijakan bebas pajak. Kini, kepanikan perang memicu pelarian massal para ekspatriat.

"Pondasi 'Mimpi Dubai' yang selama ini diyakini warga asing kini terguncang dan menghadapi ancaman eksistensial," tulis laporan The Guardian.

Seorang kepala sekolah asal Inggris, John Trudinger, mengungkapkan situasi pilu rekan-rekannya. "Banyak guru Inggris di sini mengalami trauma mendalam. Sebagian besar sudah pergi dan tidak akan kembali lagi," ucap Trudinger.

Nasib serupa dialami pekerja migran yang terjebak. Zain Anwar, sopir taksi asal Pakistan, mengeluhkan pendapatan yang hilang total karena tidak ada turis.

"Bisnis kering kerontang. Banyak sopir taksi mempertimbangkan pindah ke negara lain. Semua orang tahu Dubai sudah selesai," ujarnya pesimis.

Khaled Almezaini, profesor dari Zayed University, memperingatkan bahwa daya tahan ekonomi UEA memiliki batas. "Jika situasi ini berlanjut 10 hingga 20 hari ke depan, dampaknya terhadap sektor penerbangan, bisnis asing, dan minyak akan menjadi sangat parah."

Bandara Internasional Dubai, yang tahun lalu mencatatkan jumlah penumpang internasional tertinggi di dunia, saat ini beroperasi dengan sangat terbatas.

Setelah sempat ditutup total akibat serangan drone, bandara kembali ditutup sementara pada 7 Maret lalu karena alasan keamanan dan penutupan ruang udara yang terus berlanjut.

(wiw) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]