Bukan Cuma Ruam, Campak Ternyata Bisa 'Hapus' Memori Imun
Campak kerap dianggap sebagai penyakit ringan pada anak, identik dengan ruam merah di kulit. Padahal, di balik gejala yang tampak umum itu, virus campak dapat membawa dampak serius, terutama terhadap sistem kekebalan tubuh.
Salah satu efek yang jarang disadari adalah fenomena immune amnesia atau 'amnesia imun'. Kondisi ini membuat tubuh seolah kehilangan ingatan terhadap perlindungan yang sebelumnya sudah dimiliki terhadap berbagai penyakit.
Apa itu amnesia imun gara-gara campak?
Menurut penjelasan Harvard Medical School, infeksi campak dapat menghapus sebagian besar memori antibodi dalam tubuh. Virus ini bahkan disebut mampu menghilangkan sekitar 11 hingga 73 persen antibodi yang sebelumnya melindungi tubuh dari berbagai infeksi, mulai dari flu, herpes, hingga bakteri penyebab pneumonia dan infeksi kulit.
Artinya, perlindungan imun yang terbentuk dari infeksi sebelumnya atau vaksinasi lain bisa berkurang drastis. Akibatnya, seseorang yang telah sembuh dari campak bisa menjadi lebih rentan terhadap penyakit lain, termasuk yang sebelumnya pernah dilawan oleh tubuh.
Dengan kata lain, campak tidak hanya menyerang saat infeksi berlangsung, tetapi juga dapat melemahkan pertahanan tubuh dalam jangka waktu setelahnya.
Mengutip World Health Organization (WHO), campak merupakan penyakit virus yang sangat menular. Penularannya terjadi melalui udara saat penderita batuk atau bersin, dan virus dapat bertahan di udara maupun permukaan selama beberapa waktu.
Gejala campak biasanya muncul 10-14 hari setelah paparan virus. Tanda awal meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta bintik putih di dalam mulut. Setelah itu, ruam khas muncul dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Meski sering dianggap penyakit umum, campak dapat memicu komplikasi serius, seperti pneumonia, infeksi telinga, diare berat, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang berisiko menyebabkan kerusakan permanen.
Pada kelompok rentan, terutama anak-anak dan individu dengan daya tahan tubuh lemah, campak bahkan dapat berujung pada kematian.
WHO mencatat, pada 2024 terdapat sekitar 95 ribu kematian akibat campak secara global. Mayoritas kasus terjadi pada anak-anak yang belum atau tidak mendapatkan vaksin.
Selain itu, lebih dari 22 juta anak di dunia belum menerima dosis pertama vaksin campak. Kondisi ini turut berkontribusi pada meningkatnya kasus secara global.
Hingga kini, WHO menegaskan bahwa vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak. Dua dosis vaksin diperlukan untuk memberikan perlindungan optimal.
Tak hanya mencegah infeksi, vaksin juga membantu melindungi tubuh dari dampak jangka panjang seperti amnesia imun yang dapat melemahkan sistem kekebalan.
Memahami risiko ini, campak seharusnya tidak lagi dipandang sebagai penyakit sepele. Lebih dari sekadar ruam, infeksi ini dapat mengganggu sistem pertahanan tubuh secara menyeluruh.
(anm/tis)