Mengapa Campak pada Orang Dewasa Lebih Berat?
Campak tak cuma menyerang anak, tapi juga orang dewasa. Tak main-main, seringkali penyakit campak pada orang dewasa jauh lebih berat daripada anak-anak. Apa sebabnya?
Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI dr Sukamto Koesnoe menyoroti gaya hidup kaum urban yang tanpa disadari dapat memicu penurunan sistem kekebalan tubuh secara drastis sebagai salah satu penyebabnya. Menurutnya, banyak orang, utamanya pekerja, mengabaikan waktu istirahat.
"Kita banyak menemukan orang dewasa muda, eksekutif-eksekutif muda, yang suka lembur," ujar Sukamto di Jakarta Pusat, Selasa (31/3), melansir detikhealth.
Selain lembur, tingkat aktivitas yang tinggi juga membuat sel limfosit kian rendah. Limfosit sendiri merupakan salah satu jenis sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh melawan infeksi virus, bakteri, racun, dan sel kanker.
Kebiasaan-kebiasaan seperti itulah, yang menurut Sukamto, menyebabkan penyakit infeksi seperti campak kian terasa lebih berat.
Selain itu, Sukamto juga menyoroti perlindungan vaksin yang tak selalu bertahan seumur hidup. Pendapat ini muncul dalam merespons anggapan bahwa suntikan vaksin saat masa kanak-kanak dinilai cukup untuk mencegah campak atau meringankan gejalanya.
"Ada warning immunity. Antibodi itu menurun setelah 15-20 tahun pasca-vaksinasi," tegas Sukamto.
Penurunan ini membuat tubuh kembali rapuh dan mudah terinfeksi penyakit.
Untuk itu, Sukamto menyarankan pemberian dosis vaksin booster pada orang dewasa. Bukan sekadar pelengkap, tapi juga kebutuhan mendesak.
Suntikan booster diyakini mampu menghidupkan kembali memori seluler tubuh untuk melawan patogen dengan cepat.
"Jadi, vaksin campak pada dewasa bukan hanya perlu, tapi sangat perlu. Dikatakan bahwa dua dosis itu akan meningkatkan efektivitas dibandingkan dengan satu dosis," pungkas dia.
Campak menjadi salah satu penyakit yang kini tengah menjadi perhatian di Indonesia. Angkanya disebut mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Campak sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Morbillivirus. Virus ini disebarkan melalui droplet dari bersin atau batuk orang yang terinfeksi.
Penyakit ini memicu sejumlah gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam merah hampir di seluruh tubuh.
(asr)