Sikat Gigi Ternyata Lepaskan Mikroplastik, Seberapa Aman?

CNN Indonesia
Senin, 13 Apr 2026 17:15 WIB
Ilustrasi. Paparan mikroplastik ternyata ada juga di sikat gigi. (Istockphoto/nensuria)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hampir tak pernah absen dari keseharian, sikat gigi menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dilewatkan. Digunakan setidaknya dua kali sehari, alat ini identik dengan upaya menjaga kesehatan mulut.

Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta yang mungkin luput dari perhatian: sikat gigi bisa menjadi sumber mikroplastik.

Sebuah studi berjudul "Preliminary Result on Microplastic Release from Commercial Toothbrushes During Simulated Brushing" menemukan bahwa seluruh sikat gigi yang diuji tanpa terkecuali melepaskan partikel mikroplastik saat digunakan.

Dalam simulasi menyikat gigi dua kali sehari selama tujuh hari, peneliti mendapati setiap sikat gigi menghasilkan partikel mikroplastik. Menariknya, produk dengan harga lebih murah justru cenderung melepaskan partikel lebih banyak, dengan rata-rata mencapai 39 partikel per hari.

Partikel yang dilepaskan memiliki beragam bentuk, mulai dari serpihan, serat, lapisan tipis, hingga butiran kecil. Ukurannya pun sangat bervariasi, dari yang lebih tipis dari rambut manusia hingga sekitar 2 milimeter, setara ujung pulpen.

Dari mana mikroplastik berasal?

Sebagian besar mikroplastik berasal dari bulu sikat yang umumnya terbuat dari bahan seperti nilon dan polybutylene terephthalate (PBT). Kedua material ini dikenal kuat dan tahan lama, tetapi sulit terurai di lingkungan.

Selama proses menyikat gigi, gesekan antara bulu sikat dan permukaan gigi menyebabkan bagian kecil dari bulu tersebut terlepas. Fragmen inilah yang kemudian menjadi mikroplastik.

Penelitian lain berjudul "Patterns and Risk Microplastic Release during Primary Oral Care" juga menunjukkan bahwa penggunaan produk perawatan mulut secara rutin dapat menghasilkan paparan mikroplastik dalam jumlah besar.

Dalam setahun, jumlahnya ternyata tidak sedikit. Peneliti memperkirakan penggunaan sikat gigi dapat menghasilkan sekitar 2,3 juta partikel mikroplastik per orang per tahun. Sementara itu, dari pasta gigi, jumlahnya mencapai sekitar 1,1 juta partikel per orang per tahun.

Sebagian besar partikel ini berukuran sangat kecil. Bahkan, sekitar 63 persen di antaranya berukuran di bawah 100 mikrometer, lebih kecil dari diameter rambut manusia.

Dengan jumlah pengguna yang sangat besar, penggunaan sikat gigi secara global berarti turut menyumbang mikroplastik ke air dan lingkungan. Mengingat sifatnya yang sulit terurai, partikel ini dapat bertahan lama di alam.

Apakah berbahaya bagi kesehatan?

Hingga saat ini, peneliti menyebut belum ada bukti kuat bahwa paparan mikroplastik dari sikat gigi secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan serius. Meski demikian, ada beberapa hal yang tetap menjadi perhatian.

Partikel mikroplastik berpotensi menempel di jaringan mulut, ukurannya yang sangat kecil memungkinkan masuk ke dalam tubuh, serta paparan yang terjadi secara terus-menerus setiap hari.

Meski terdengar mengkhawatirkan, risiko dari penggunaan sikat gigi sehari-hari masih tergolong rendah. Namun, langkah pencegahan sederhana tetap bisa dilakukan, seperti:

1. Mengganti sikat gigi secara berkala

2. Memilih produk dengan bahan yang lebih ramah lingkungan

3. Tidak menggunakan sikat terlalu lama hingga bulunya rusak

Sikat gigi mungkin terlihat sederhana, tetapi penggunaannya yang rutin membuatnya menjadi salah satu sumber paparan mikroplastik. Temuan ini menjadi pengingat bahwa mikroplastik tidak hanya berasal dari laut atau makanan, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK