WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang Alami Gangguan Pendengaran pada 2050

CNN Indonesia
Senin, 06 Apr 2026 13:30 WIB
Gangguan pendengaran akibat sering pakai earphone tak sepele. WHO memprediksi, sekitar 2,5 miliar orang di dunia akan alami gangguan pendengaran pada 2050.
Ilustrasi. WHO memprediksi, sekitar 2,5 miliar orang di dunia akan alami gangguan pendengaran pada 2050. (iStock/martin-dm)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mendengarkan musik dengan earphone atau headphone kini jadi bagian dari keseharian banyak orang. Dipakai saat di jalan, di transportasi umum, bekerja, hingga menjelang tidur, telinga seolah tak pernah benar-benar istirahat. Padahal di balik kebiasaan yang terasa sepele ini, ada risiko yang sering luput disadari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebut bahwa lebih dari 1 miliar anak muda di dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran permanen akibat kebiasaan mendengar yang tidak aman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gangguan pendengaran ini bukan lagi isu yang kecil, WHO bahkan memperkirakan bahwa pada tahun 2050 mendatang, sekitar 2,5 miliar orang di dunia akan mengalami gangguan pendengaran. Bahkan, lebih dari 700 juta orang membutuhkan rehabilitasi.

Saat ini saja, sekitar 430 juta orang di dunia sudah mengalami gangguan pendengaran yang cukup serius, termasuk 34 juta anak-anak. Di kelompok usia 5-19 tahun, jumlah anak yang hidup dengan gangguan pendengaran mencapai 95,1 juta orang.

Paparan suara keras, baik dari earphone maupun lingkungan seperti konser atau tempat hiburan, menjadi salah satu penyebab utama. Kebiasaan mendengar dengan volume tinggi atau dalam waktu lama dapat merusak sistem pendengaran secara perlahan.

Terdapat beberapa kebiasaan yang dapat merusak pendengaran secara perlahan. Berikut beberapa di antaranya:
- mendengarkan musik dengan volume tinggi,
- menggunakan earphone terlalu lama,
- sering berada di lingkungan bising.

Masalahnya, kerusakan ini sering tidak langsung terasa. Banyak orang baru menyadarinya ketika kemampuan mendengar sudah menurun. Gangguan pendengaran yang tidak ditangani bisa berdampak luas pada kehidupan sehari-hari.

Beberapa dampaknya adalah kesulitan berkomunikasi, penurunan kemampuan berpikir (kognitif), rasa kesepian, dan isolasi sosial hingga peningkatan risiko demensia.

Secara global, dampak ini bahkan menimbulkan kerugian ekonomi hingga hampir US$1 triliun per tahun.

Kabar baiknya, sebagian besar bisa dicegah. Walaupun terdengar mengkhawatirkan, banyak kasus gangguan pendengaran sebenarnya bisa dicegah. Bahkan, pada anak-anak, sekitar 60 persen kasus gangguan pendengaran berasal dari penyebab yang bisa dihindari.

Ilustrasi pemeriksaan telinga di dokter THT, ilustrasi telinga, ilustrasi kuping, ilustrasi sakit telinga, ilustrasi sakit kuping, ilustrasi dokter tht, dokter thtklIlustrasi. WHO memprediksi, sekitar 2,5 miliar orang di dunia akan alami gangguan pendengaran pada 2050. (iStock/Chainarong Prasertthai)

Langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- mengatur volume tidak terlalu keras,
- membatasi durasi penggunaan earphone,
- memberi waktu istirahat untuk telinga,
- menghindari paparan suara bising berlebihan.

Di tengah kebiasaan multitasking, bekerja sambil mendengarkan musik atau scrolling sambil pakai earphone, telinga sering dipaksa terus aktif. Seperti pada bagian tubuh lain, telinga juga butuh waktu untuk beristirahat.

Sesekali melepas earphone dan menikmati suasana tanpa suara tambahan mungkin terdengar sederhana. Tapi, justru dari kebiasaan kecil ini, kesehatan pendengaran bisa lebih terjaga dalam jangka panjang.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]