Bagai Fatamorgana, Ini 8 Kepribadian Orang yang Suka Membatalkan Janji
Daftar Isi
-
Kepribadian orang yang sering membatalkan janji
- 1. Sensitif terhadap perubahan energi
- 2. Menyimpan rasa bersalah, tetapi sulit menghadapinya
- 3. Overestimate terhadap kemampuan bersosialisasi
- 4. Mengandalkan perasaan sesaat dalam mengambil keputusan
- 5. Kesulitan mengatur waktu dan perencanaan
- 6. Menganggap rencana sebagai tekanan sosial
- 7. Kurang mempertimbangkan perasaan orang lain
- 8. Rasa percaya diri yang rendah
Orang yang sering membatalkan janji secara mendadak kerap disalahartikan sebagai sikap tidak peduli atau tidak menghargai orang lain. Padahal di balik kebiasaan tersebut, sering kali tersimpan kepribadian yang tak disangka-sangka.
Hampir setiap orang memiliki satu teman yang seperti ini. Terlihat hangat, perhatian, bahkan dekat secara emosional, tetapi ketika rencana sudah dibuat, mereka justru kerap membatalkannya di saat terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka kerap disebut sebagai teman fatamorgana, yakni tipe teman yang tidak konsisten dan sering membatalkan janji di menit terakhir. Disebut fatamorgana karena sering kali menciptakan ilusi persahabatan yang semu.
Kepribadian orang yang sering membatalkan janji
Tak cuma soal tanggung jawab atau komitmen, kebiasaan membatalkan janji biasanya justru berkaitan dengan cara seseorang mengelola energi, emosi, hingga tekanan sosial.
Melansir dari berbagai sumber, berikut merupakan sejumlah tipe kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang gemar membatalkan janji secara mendadak.
1. Sensitif terhadap perubahan energi
Sebagian orang cenderung terlalu optimistis saat membuat rencana. Mereka merasa akan memiliki energi untuk bertemu atau beraktivitas, tetapi kenyataannya berbeda ketika hari tersebut tiba.
Mengutip dari VegOut, kondisi ini sering terjadi pada orang dengan sensitivitas tinggi terhadap lingkungan atau emosi. Ketika energi menurun, membatalkan janji menjadi bentuk perlindungan diri, bukan sekadar alasan.
2. Menyimpan rasa bersalah, tetapi sulit menghadapinya
Banyak orang mengira teman yang suka membatalkan janji itu bersikap tidak peduli. Faktanya, sebagian justru merasa sangat bersalah.
Namun, dibanding menghadapinya sejak awal, mereka cenderung menunda komunikasi. Rasa tidak enak membuat mereka mengatakan "ya" terlebih dahulu, lalu membatalkan ketika tekanan makin besar.
3. Overestimate terhadap kemampuan bersosialisasi
Ada beberapa orang yang senang berinteraksi, tetapi tidak sepenuhnya memahami batas energinya.
Mereka dengan mudah menerima banyak ajakan, tetapi kelelahan sebelum semuanya terlaksana. Akibatnya, janji yang sudah dibuat terpaksa dibatalkan demi menjaga kondisi diri.
4. Mengandalkan perasaan sesaat dalam mengambil keputusan
Keputusan untuk datang atau tidak, sering kali ditentukan oleh kondisi emosional saat itu. Jika merasa lelah atau tidak bersemangat, mereka cenderung memilih membatalkan rencana.
Pola ini menunjukkan kecenderungan memilih kenyamanan jangka pendek dibanding komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
5. Kesulitan mengatur waktu dan perencanaan
Sebagian orang memang memiliki gaya hidup yang tidak terstruktur. Mereka mudah mengatakan setuju tanpa benar-benar mempertimbangkan jadwal yang sudah ada.
Ketika waktu makin dekat, rencana yang sebelumnya terasa ringan berubah menjadi beban, sehingga pembatalan menjadi pilihan paling praktis.
6. Menganggap rencana sebagai tekanan sosial
Foto: Istockphoto/fizkesIlustrasi seseorang sedang tertekan. |
Bagi sebagian orang, pertemuan sosial bukan sekadar aktivitas santai, melainkan sumber tekanan.
Mereka merasa dinilai harus tampil "baik," atau khawatir tidak memenuhi ekspektasi. Tekanan ini perlahan meningkat hingga akhirnya membuat mereka memilih membatalkan rencana.
7. Kurang mempertimbangkan perasaan orang lain
Menurut Geediting, orang yang sering membatalkan janji memiliki tingkat empati terhadap orang lain yang cenderung rendah. Mereka tidak sepenuhnya menyadari dampak dari janji yang dibatalkan.
Padahal, bagi pihak lain, janji yang dilanggar bisa menimbulkan rasa kecewa, bahkan merusak kepercayaan. Kurangnya pertimbangan ini membuat janji terasa seperti hal sepele, bukan komitmen yang perlu dijaga.
8. Rasa percaya diri yang rendah
Orang dengan kepercayaan diri rendah sering meragukan kemampuan mereka sendiri. Hal ini membuat mereka tidak yakin dapat menepati janji yang dibuat.
Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, mereka lebih memilih menghindar daripada menghadapi kemungkinan gagal, sehingga siklus pembatalan janji terus berulang.
Kebiasaan membatalkan janji tidak bisa dilihat hanya sebagai sikap tidak menghargai orang lain. Hal ini merupakan kombinasi dari kelelahan, kecemasan, pola pikir, hingga kemampuan mengatur diri.
Meski demikian, dampaknya tetap nyata. Janji yang berulang kali dibatalkan dapat mengikis kepercayaan dan membuat hubungan menjadi renggang. Jadi, kebiasaan ini tetaplah harus diperbaiki secara perlahan.
(nga/rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


Foto: Istockphoto/fizkes