Banyak Pilot Takut Dipecat Gegara Tolak Terbang di Timur Tengah
Para pilot maskapai yang beroperasi melintasi Timur Tengah kini makin cemas akan nasib pekerjaannya lantaran menolak terbang dengan alasan keselamatan terkait dengan Perang di Iran.
Presiden International Federation of Air Line Pilot' Associations (IFALPA), Ron Hay mengatakan para penerbang di seluruh dunia telah menyuarakan kekhawatiran yang "meluas" tentang potensi sanksi dari maskapai, termasuk kehilangan gaji atau bahkan pemecatan.
Pilot dari berbagai negara mulai dari Lebanon hingga India menyatakan kekhawatiran balasan dari maskapai jika mereka menolak terbang dalam kondisi yang seringkali tidak dapat diprediksi, di mana wilayah udara dapat tiba-tiba tertutup karena serangan rudal atau drone.
"Ada ketakutan mendasar akan pembalasan," kata Hay yang menyoroti posisi sulit yang dihadapi banyak pilot.
Kekhawatiran muncul ketika sejumlah maskapai penerbangan Timur Tengah terus melanjutkan penerbangan, bahkan ketika gencatan senjata baru-baru ini dan peluang serangan yang terus berlanjut di wilayah itu.
Hay yang merupakan seorang kapten Delta Air Lines mengatakan beberapa pilot khawatir akan dipecat. Sementara mungkin bagi yang lain tak sampai kehilangan pekerjaan, tapi risikonya tak mendapatkan pendapatan.
Ia menolak menyebutkan nama maskapai penerbangan yang dimaksud, tetapi mengatakan bahwa ini adalah contoh maskapai tidak menjalankan budaya keselamatan yang positif dan memberikan ruang pilot untuk berbicara.
"Hal itu telah kurang di kawasan Timur Tengah selama beberapa waktu dan telah diperparah oleh konflik ini," kata Hay seperti diberitakan Independent pada Jumat (10/4).
IFALPA yang berbasis di Montreal memiliki asosiasi anggota di Bahrain, Mesir, Israel, Kuwait, dan Lebanon, menurut situs webnya. Mereka tidak mencantumkan asosiasi anggota di maskapai penerbangan besar Teluk di Uni Emirat Arab dan Qatar, yang tidak tergabung dalam serikat pekerja.
Maskapai penerbangan Timur Tengah mengatakan mereka memprioritaskan keselamatan. Penerbangan ke dan dari Uni Emirat Arab dan Qatar beroperasi melalui koridor khusus yang ditetapkan bersama regulator.
Setelah gencatan senjata diumumkan, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa memperpanjang larangan bagi maskapai penerbangan Eropa untuk beroperasi di wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk UEA dan Qatar, hingga 24 April.
Namun, maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai dan Doha terus beroperasi di sana, begitu pula maskapai penerbangan India.
Kekhawatiran dari para penerbang yang beroperasi di Timur Tengah mendorong IFALPA untuk menerbitkan sebuah makalah yang mengingatkan maskapai bahwa pilot harus diberi hak suara yang "tidak dapat dinegosiasikan" mengenai keselamatan.
"Ada kekhawatiran mendalam di wilayah tersebut, yang merupakan bagian dari alasan makalah tersebut dibuat," kata Hay.
"Personel yang terlibat dalam operasi penerbangan sipil di dalam atau di dekat zona konflik dapat mengalami tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan yang lebih tinggi - baik di darat maupun di udara," kata buletin tersebut.