Mayapada Healthcare Buka Layanan Liver, Metabolic & Wellness Center

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 11:33 WIB
Kehadiran LMWC menjawab peningkatan kasus liver secara global, yang kini sering berkaitan dengan kondisi metabolik seperti obesitas, diabetes, dan dislipidemia.
(Foto: dok Mayapada Hospital)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mayapada Healthcare meluncurkan Liver, Metabolic & Wellness Center (LMWC) di Mayapada Hospital Bandung (MHBD). Liver, Metabolic & Wellness Center adalah progam layanan yang berfokus pada deteksi dini, pencegahan, serta penanganan komprehensif penyakit liver yang berkaitan dengan gangguan metabolik.

Kehadiran layanan menjadi jawaban atas peningkatan kasus liver secara global, yang kini semakin sering berkaitan dengan kondisi metabolik seperti obesitas, diabetes, dan dislipidemia. Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan, MM menyatakan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius, karena kerap tidak terdeteksi sejak awal.

"Penyakit hati metabolik, termasuk perlemakan hati (fatty liver), sering kali berkembang tanpa gejala. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika sudah memasuki tahap lanjut," kata dr. Irwan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Melalui Liver, Metabolic & Wellness Center (LMWC), kami ingin mengubah pendekatan dari sekadar pengobatan menjadi deteksi dini dan pencegahan yang lebih terintegrasi. Layanan ini mengedepankan pendekatan multidisiplin dengan program wellness yang komprehensif, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan," tambahnya.

LMWC menghadirkan layanan terintegrasi untuk kesehatan liver, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan, dengan fokus pada deteksi dini risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik.

Deteksi dini sendiri bertujuan untuk mengidentifikasi risiko sejak awal, sehingga setiap individu dapat memperoleh perawatan yang dipersonalisasi (personalized care). Layanan LMWC didukung oleh tim multidisiplin yang terdiri dari Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi; Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif; Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes; Dokter Spesialis Gizi Klinik; hingga Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga.

Alur pelayanan mencakup skrining awal, evaluasi medis, pendampingan gizi, terapi medis, hingga tindakan lanjutan bila diperlukan, disertai pemantauan rutin kesehatan hati dan kondisi metabolik untuk memastikan intervensi yang tepat waktu.

Layanan ini juga didukung teknologi elastografi FibroScan® untuk menilai kekakuan dan kondisi jaringan hati secara non-invasif, serta Total Body Matrix Assessment (TBMA) guna mengevaluasi komposisi tubuh dan indikator metabolik. Sehingga, program perawatan, pola makan, dan aktivitas fisik dapat dimaksimalkan melalui penyesuaian dengan kondisi pasien.

Menyoroti keterkaitan erat antara obesitas dan gangguan metabolik, Prof. Dr. dr. Reno Rudiman, MSc, Sp.B Subsp BD (K), FICS, FCSI selaku Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Bandung menjelaskan, bahwa obesitas merupakan kondisi medis kronis yang menjadi akar dari berbagai penyakit, termasuk fatty liver.

"Obesitas tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga memicu berbagai gangguan metabolik, termasuk fatty liver. Tanpa penanganan yang tepat, fatty liver dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti sirosis hingga kanker hati," papar Prof. Reno.

Prof. Reno menegaskan, deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta penyesuaian pola makan dan gaya hidup merupakan langkah pengendalian penyakit.

"Mengingat prevalensinya yang terus meningkat dan tingginya kasus yang belum terdiagnosis, pendekatan komprehensif sejak awal menjadi sangat penting. Dalam kasus tertentu, ketika intervensi gaya hidup dan terapi medis belum memberikan hasil optimal, bariatric surgery menjadi terapi yang terbukti efektif dalam mengendalikan obesitas, sekaligus memperbaiki kondisi metabolik secara menyeluruh," tuturnya.

Prof. Reno menambahkan, fatty liver atau yang kini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) telah menjadi penyakit hati paling umum di dunia, dengan prevalensi mencapai sekitar 30 persen pada populasi dewasa.

Artinya, hampir satu dari tiga orang dewasa berisiko mengalami fatty liver. Prof. Reno menyatakan, kondisi ini berkaitan erat dengan gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, serta sering kali tidak bergejala di tahap awal, sehingga kerap terdeteksi ketika sudah pada tahap lanjut.

"Penanganan fatty liver tidak cukup hanya dengan obat, tetapi memerlukan perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif dengan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci untuk hasil yang optimal," ujarnya.

Kehadiran LMWC sebagai bagian dari Gastrohepatology Center menandai komitmen kuat Mayapada Healthcare dalam memperluas akses masyarakat terhadap penanganan liver dan metabolik yang komprehensif di seluruh jaringan Mayapada Hospital.

Layanan ini tersedia di Jakarta Selatan (Lebak Bulus dan Kuningan Rasuna Said), Tangerang, Bogor, Surabaya, dan Bandung, serta akan segera hadir di Jakarta Timur. LMWC didukung tim multidisiplin dan fasilita modern, mencakup skrining hingga terapi lanjutan yang dapat diakses melalui berbagai kanal layanan.

Info lebih lanjut bisa diperoleh lewat Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, dan aplikasi MyCare.

(rea/rir) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]