Risiko Bawa Bayi ke Dataran Tinggi, Bisa Picu Hipotermia
Seorang bayi perempuan berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia saat dibawa orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Kondisi itu terjadi setelah cuaca di jalur pendakian mendadak memburuk dan hujan turun deras.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa membawa bayi ke dataran tinggi atau area pegunungan bukan perkara sepele. Bagi orang dewasa, udara dingin dan medan terbuka mungkin masih bisa ditoleransi. Namun, bagi bayi, situasinya jauh lebih berat.
Tubuh bayi memang lebih rentan mengalami gangguan saat berada di ketinggian. Penyebabnya bukan hanya suhu dingin, tetapi juga karena tubuh mereka masih dalam tahap adaptasi, terutama pada sistem pernapasan dan pengaturan suhu tubuh.
1. Oksigen lebih rendah, bayi lebih sensitif
Salah satu tantangan utama di dataran tinggi adalah kadar oksigen yang lebih rendah. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai hipoksia hipobarik, yaitu ketika tekanan udara menurun sehingga oksigen yang tersedia ikut berkurang.
Jurnal Signal Transduction and Targeted Therapy menjelaskan bahwa kondisi ini bisa memberi beban lebih besar pada tubuh, terutama pada bayi.
Pada masa awal kehidupan, tubuh bayi masih beradaptasi dari kehidupan di dalam rahim ke lingkungan luar, termasuk dalam hal bernapas sendiri. Karena itu, kekurangan oksigen akan terasa lebih berat dibandingkan pada orang dewasa.
2. Saturasi oksigen bayi cenderung lebih rendah
Bahkan pada bayi sehat sekalipun, kadar oksigen dalam darah di dataran tinggi cenderung lebih rendah. Sebuah studi di Calgary menemukan bahwa kadar oksigen bayi baru lahir sehat berada di kisaran 94-96 persen, dengan penurunan oksigen yang cukup sering terjadi pada hari-hari awal kehidupan.
Penelitian itu menunjukkan bahwa semakin tinggi lokasi, semakin rendah pula saturasi oksigen bayi baru lahir pada dua jam pertama setelah lahir. Artinya, meski bayi terlihat baik-baik saja, tubuhnya sebenarnya sedang bekerja lebih keras untuk mempertahankan pasokan oksigen.
3. Jantung dan paru masih beradaptasi
Kerentanan bayi juga berkaitan dengan kondisi organ dalam tubuhnya, terutama paru-paru dan sistem kardiovaskular. Studi pilot di European Journal of Pediatrics menunjukkan bahwa hipoksia di dataran tinggi dapat memengaruhi fisiologi jantung dan paru bayi secara signifikan.
Karena organ-organ ini masih dalam tahap perkembangan dan penyesuaian, beban adaptasi menjadi lebih besar. Akibatnya, bayi lebih mudah mengalami gangguan napas, cepat lelah, atau menunjukkan tanda tidak nyaman ketika berada di lingkungan yang terlalu dingin dan minim oksigen.
4. Lebih mudah kedinginan (hipotermia)
Selain soal oksigen, suhu dingin di dataran tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak, terutama yang berusia di bawah 3 tahun, memiliki kemampuan mengatur suhu tubuh yang belum sempurna.
Bayi lebih cepat kehilangan panas dibandingkan orang dewasa. Dalam kondisi angin, hujan, atau suhu yang turun mendadak, risiko hipotermia pun meningkat.
Inilah yang membuat perjalanan ke gunung atau dataran tinggi bisa menjadi sangat berisiko bagi bayi, apalagi jika perlindungan terhadap dingin tidak optimal. Risiko ini biasanya lebih tinggi pada bayi baru lahir dan balita kecil, karena sistem tubuh mereka masih sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Boleh dibawa, tapi perlu perhatian ekstra
Bukan berarti bayi sama sekali tidak boleh diajak ke dataran tinggi. Namun, orang tua perlu jauh lebih waspada dan memastikan kondisi bayi tetap aman.
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain menjaga tubuh bayi tetap hangat, memastikan bayi cukup istirahat, serta memantau tanda-tanda seperti napas cepat, rewel berlebihan, tampak lemas, atau tubuh terasa dingin.
Dataran tinggi memang menyimpan tantangan tersendiri. Bagi orang dewasa mungkin terasa biasa saja, tetapi bagi bayi, lingkungan seperti ini bisa menjadi beban besar yang membutuhkan adaptasi ekstra. Karena itu, memahami risikonya penting agar perjalanan tidak justru membahayakan kesehatan si kecil.
(anm/tis)