Sering Cemas Berlebihan? Bisa Jadi Faktor Kepribadian
Pernah merasa mudah cemas, overthinking, atau cepat khawatir bahkan untuk hal-hal kecil? Sebagian orang menganggapnya sebagai sifat bawaan. Namun, tak sedikit pula yang mulai bertanya: apakah kondisi ini masih normal atau justru perlu diwaspadai?
Mudah cemas memang bisa berkaitan dengan kepribadian, tetapi tidak selalu berhenti di situ. Dalam psikologi, kecenderungan ini sering dikaitkan dengan salah satu dimensi dalam Big Five personality, yaitu neuroticism.
Sederhananya, neuroticism adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mudah merasakan emosi negatif, seperti khawatir, tegang, atau sensitif terhadap stres.
Sejumlah studi mendukung hal ini. Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychiatry menemukan bahwa neuroticism memiliki hubungan yang konsisten dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Artinya, individu dengan sifat ini cenderung lebih mudah merasa cemas dibandingkan orang lain.
Penelitian lain dalam BMC Psychology juga menunjukkan bahwa kecenderungan ini berkaitan dengan gejala kecemasan melalui beberapa faktor, antara lain:
• lebih sensitif terhadap ketidakpastian,
• lebih peka terhadap sensasi tubuh (misalnya, jantung berdebar langsung diasosiasikan dengan bahaya),
• serta cenderung menghindari situasi yang memicu stres.
Dengan kata lain, ada orang yang secara alami lebih mudah merasa cemas karena cara otaknya memproses ancaman dan ketidakpastian.
Meski begitu, penting untuk membedakan antara kecenderungan dan gangguan (disorder). Tidak semua orang yang mudah cemas mengalami gangguan kecemasan.
Dalam banyak kasus, kondisi ini masih termasuk variasi normal dari kepribadian. Perbedaannya terletak pada intensitas dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan kecemasan ditandai oleh rasa cemas yang berlebihan dan menetap, sulit dikendalikan, serta mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tidur, pekerjaan, atau relasi.
Kecemasan juga bukan hanya soal pikiran, tetapi melibatkan respons tubuh terhadap stres. Orang yang mudah cemas umumnya memiliki reaksi stres yang lebih kuat, membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang, serta lebih sulit menghadapi ketidakpastian.
Artinya, rasa cemas yang muncul bukan semata-mata karena "lemah" atau berlebihan, melainkan karena sistem emosi mereka memang bekerja lebih sensitif.
Mudah cemas memang bisa menjadi bagian dari kepribadian. Namun, bukan berarti harus diabaikan. Memahami batas antara sifat dan tanda masalah menjadi hal penting. Jika kecemasan mulai mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional bisa menjadi langkah yang tepat.
(anm/tis)