Mati Rasa dan Kehilangan 'Spark' dalam Hidup? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Di antara kamu mungkin pernah berada di fase ketika hidup terasa datar, tidak lagi bersemangat, atau hal-hal yang dulu menyenangkan kini terasa hambar. Kondisi ini sering disebut sebagai kehilangan spark dalam hidup.
Sekilas, perasaan ini kerap dianggap sekadar lelah atau kurang motivasi. Padahal, secara ilmiah, mati rasa emosional dan hilangnya semangat hidup bisa berkaitan dengan cara otak memproses emosi, stres, dan rasa senang.
Jadi, kondisi ini bukan selalu soal kurang usaha, melainkan bisa menjadi sinyal bahwa sistem emosi sedang kewalahan.
Dikutip dari Science Direct, jurnal bertajuk 'Anhedonia: A Comprehensive Overview of Neurobiology and Treatment', menyoroti kondisi ketika seseorang sulit merasakan kesenangan yang disebut dengan anhedonia. Dalam kajian tersebut, anhedonia disebut sebagai faktor penting dalam depresi yang berkaitan dengan gangguan pada sistem reward di otak, termasuk area seperti nucleus accumbens dan prefrontal cortex.
Bukan hanya sekadar bosan, orang yang mengalami anhedonia bisa merasa:
- tidak lagi tertarik pada hal yang dulu disukai,
- sulit menikmati momen,
- kehilangan motivasi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Ketika spark hilang, bisa jadi bukan karena kurang usaha, melainkan karena otak sedang kesulitan memproses rasa senang dan dorongan untuk beraktivitas.
Stres berkepanjangan bisa membuat emosi terasa tumpul
Tidak semua stres terlihat jelas, pada sebagian orang, stres justru tidak muncul dalam bentuk cemas atau tangisan, melainkan perasaan kosong.
Penelitian dalam jurnal Translational Psychiatry, melalui studi tentang stress-induced anhedonia dan respons neural terhadap reward, menemukan bahwa stres kronis dapat memengaruhi cara otak merespons kesenangan.
Saat stres berlangsung lama, sistem emosi bisa seperti diturunkan volumenya. Hasilnya, hidup terasa datar dan kurang bermakna, meski tidak selalu disertai kesedihan yang jelas. Kehilangan semangat juga sering muncul pada kondisi burnout atau kelelahan emosional.
Penelitian juga menunjukkan emotional fatigue sebagai komponen utama burnout bahwa kondisi ini ditandai dengan rasa lelah berkepanjangan, menurunnya keterlibatan emosional, hingga perasaan kosong atau jenuh.
Banyak orang menggambarkan kondisi ini seperti menjalani hidup dengan rutinitas kosong, tetap beraktivitas, tetapi tanpa keterlibatan emosional yang utuh.Ini menjelaskan kenapa seseorang bisa tetap produktif, tetapi merasa tidak benar-benar hadir dalam kehidupannya.
Dari berbagai temuan tersebut, jelas bahwa mati rasa atau kehilangan spark hidup tidak bisa disederhanakan sebagai rasa malas atau kurang bersyukur.
Kondisi ini bisa dialami siapa saja, dan sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang kewalahan, baik karena stres, kelelahan emosional, maupun faktor psikologis lain.
Menyadari hal ini menjadi langkah awal yang penting. Sebab, memahami apa yang terjadi di balik perasaan tersebut bisa membantu seseorang mengambil langkah yang lebih tepat, tanpa harus sekadar memaksa diri untuk semangat lagi.
(anm/asr)