Kebaya Kartini, dari Busana Priyayi jadi Identitas Perempuan Indonesia

CNN Indonesia
Selasa, 21 Apr 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Kebaya Kartini lekat dengan tokoh Raden Ajeng Kartini. Seperti apa sejarahnya? (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap peringatan Hari Kartini, kebaya hampir selalu ikut hadir dalam ingatan banyak orang terutama kebaya Kartini. Rupanya dulu busana ini identik dengan kaum priyayi atau kaum bangsawan Jawa. Seperti apa sejarahnya?

Kebaya Kartini seperti sudah menyatu dengan sosok Raden Ajeng Kartini yang kerap digambarkan mengenakan kebaya sederhana, sopan, namun tetap anggun. Dari sekolah, perayaan kantor, sampai unggahan di media sosial, citra itu terus muncul dan terasa begitu akrab.

Di balik tampilannya yang klasik, kebaya Kartini menyimpan cerita yang panjang. Ia bukan sekadar pakaian, melainkan bagian dari perjalanan budaya dan identitas perempuan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Melansir dari kajian dari Universitas Diponegoro, istilah kebaya ditelusuri dari kata kaba atau qaba, yakni busana luar dari Timur Tengah berbentuk tunik panjang terbuka di bagian depan. Istilah ini kemudian diserap Portugis menjadi cabaya dan menyebar ke Nusantara lewat jalur perdagangan.

UNESCO juga mendefinisikan kebaya sebagai atasan bukaan depan yang dipadukan dengan kain panjang atau sarung dan berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara.

Kebaya memang sudah ada jauh sebelum era Kartini dan merupakan hasil perjalanan panjang lintas budaya. Busana perempuan Jawa sebelumnya berupa kemben, yang kemudian berevolusi seiring masuknya pengaruh Arab, Tionghoa, Portugis, hingga Belanda. Dari proses inilah kebaya terbentuk sebagai hasil akulturasi budaya selama berabad-abad.

Gaya bangsawan yang lekat dengan Kartini

Istilah kebaya Kartini sendiri awalnya merujuk pada gaya berpakaian perempuan priyayi atau bangsawan Jawa pada abad ke-19.

Gaya ini dikenal dengan tampilan yang rapi, tertutup, dan mencerminkan nilai kesopanan serta status sosial. Kartini menjadi figur yang paling melekat dengan gaya tersebut, terutama melalui foto-fotonya yang banyak beredar pada masa kolonial.

Dalam foto-foto itu, Kartini tampil sederhana namun tetap berwibawa. Citra inilah yang kemudian membuat publik mengenali gaya kebaya tersebut melalui sosok Kartini. Seiring waktu, masyarakat pun menyebutnya sebagai kebaya Kartini, sebuah penamaan yang lahir dari representasi, bukan dari penciptaan.

Perjalanan kebaya Kartini tidak berhenti di lingkungan bangsawan Jawa. Penelitian bertajuk From Kartini Kebaya to National Clothing menjelaskan bahwa gaya kebaya ini kemudian berkembang dan diterima luas sebagai salah satu simbol busana nasional perempuan Indonesia.

Transformasinya berlangsung bertahap, dari busana elite Jawa menjadi representasi perempuan Indonesia secara lebih luas. Dalam proses inilah, kebaya menjadi simbol perempuan yang modern, berpendidikan, tetapi tetap berakar pada nilai tradisi.

Hari ini, kebaya Kartini bukan hanya soal bentuk atau potongan busana. Ia juga membawa makna tentang kesopanan, keanggunan, sekaligus kekuatan perempuan.

Di momen Hari Kartini, kebaya menjadi pengingat bahwa identitas perempuan Indonesia terbentuk dari perjalanan panjang,dari budaya, sejarah, hingga perjuangan yang terus berlanjut.

Seperti semangat Kartini, kebaya bukan sekadar apa yang dikenakan, juga tentang bagaimana perempuan Indonesia hadir, berkembang, dan mengambil perannya dalam kehidupan.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia.

(anm/els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK