'Personal Color Analysis' Berbasis AI, Kenapa Banyak Orang Tertarik?
Beberapa hari belakangan, topik personal color analysis kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Tanpa harus berkonsultasi dengan ahlinya, orang bisa mendapatkan analisis warna dengan bantuan AI. Kamu sudah pernah coba?
Kehadiran tes personal color berbasis AI membuat orang bisa mendapatkan hasil instan hanya dari unggahan foto. Hal ini pun membuat personal color analysis kembali jadi bahan obrolan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, tren ini sebenarnya bukan hal baru. Analisis warna untuk menentukan warna paling cocok sudah lama populer di dunia kecantikan dan fashion, bahkan sempat jadi tren beberapa tahun lalu.
Personal color analysis adalah metode untuk mencari palet warna yang dianggap paling cocok dengan ciri alami seseorang. Penilaian ini biasanya melibatkan warna kulit, rambut, mata, undertone, hingga tingkat kontras wajah.
Tujuannya bukan sekadar soal estetika, tapi membantu wajah terlihat lebih segar, cerah, dan harmonis saat menggunakan warna tertentu.
Dalam studi Personal Colour between Perceptual Space and Social Practice, personal color dijelaskan sebagai cara menemukan warna yang secara alami meningkatkan tampilan kulit sehingga terlihat lebih sehat dan jelas.
Dalam praktiknya, personal color sering dibagi ke dalam kategori musiman seperti spring, summer, autumn, dan winter. Kategori ini kemudian diturunkan lagi berdasarkan warm atau cool undertone, tingkat kecerahan, dan kontras.
Meski tidak sepenuhnya berbasis sains yang pasti, konsep personal color tetap punya dasar dalam persepsi visual.
Sejumlah eksperimen menunjukkan bahwa orang cenderung memilih warna tertentu untuk tipe kulit tertentu. Warna biru yang masuk dalam kelompok warna 'dingin', misal, lebih sering dianggap cocok untuk kulit terang, sementara warna 'hangat' seperti oranye atau merah cenderung dianggap lebih pas untuk kulit yang lebih gelap.
Kenapa banyak orang semakin peduli?
Ilustrasi. Personal color analysis kembali diminati tak hanya soal estetika tapi juga berkaitan dengan citra dan kepercayaan diri. (Nazwa Yuliana) |
Kembalinya tren personal color tidak lepas dari beberapa perubahan gaya hidup, terutama di era digital.
1. Lebih praktis di era belanja online
Meningkatnya belanja online membuat orang tidak selalu bisa mencoba pakaian secara langsung. Personal color kemudian jadi semacam panduan agar tidak salah pilih warna.
2. Membantu mengurangi trial-and-error
Studi yang diterbitkan di Journal of The Korean Society of Cosmetology, personal color dan perilaku membeli kosmetik menunjukkan bahwa analisis warna bisa memengaruhi keputusan pembelian. Banyak orang merasa lebih yakin saat memilih produk karena punya acuan yang jelas.
3. Berkaitan dengan citra dan kepercayaan diri
Riset juga menunjukkan bahwa personal color dapat membantu membangun citra diri yang lebih positif. Warna yang tepat bisa membuat seseorang terlihat lebih segar dan rapi, yang pada akhirnya berdampak pada rasa percaya diri.
Personal color bisa menjadi alat bantu yang berguna, terutama dalam memilih pakaian atau makeup akan tetapi bukan aturan mutlak yang harus diikuti.
Analisis warna seharusnya membantu memaksimalkan penampilan, bukan membatasi pilihan. Warna yang cocok tidak hanya ditentukan oleh teori, tapi juga oleh rasa nyaman dan kepercayaan diri seseorang saat memakainya.
(anm/els) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi. Personal color analysis kembali diminati tak hanya soal estetika tapi juga berkaitan dengan citra dan kepercayaan diri. (Nazwa Yuliana)