Waspada Kejang Tanpa Demam, Bisa Jadi Tanda Epilepsi Anak

CNN Indonesia
Senin, 27 Apr 2026 09:45 WIB
Ilustrasi. Waspada kejang tanpa gejala sebelumnya, bisa jadi epilepsi. (iStockphoto/Tunatura)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kejang pada anak kerap dianggap sebagai kondisi sementara, apalagi jika tidak disertai demam. Namun, anggapan ini bisa menyesatkan. Di balik kejang tanpa pemicu yang jelas, ada kemungkinan gangguan neurologis yang lebih serius, yakni epilepsi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSIA Bunda Jakarta, Achmad Rafli mengingatkan bahwa salah satu tanda epilepsi yang paling sering luput dari perhatian adalah kejang berulang tanpa sebab yang jelas.

"Kejang yang terjadi tanpa demam dan berulang lebih dari 24 jam harus dicurigai sebagai epilepsi," ujar Rafli saat menyampaikan keterangannya dalam peluncuran Pediatric Neurology Center RSIA Bunda Jakarta, Minggu (26/4).

Kata dia, pada anak usia nol hingga 18 tahun, sistem saraf masih berkembang. Dalam fase ini, gangguan seperti epilepsi bisa muncul, tetapi sering kali tidak dikenali sejak awal. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat.

Rafli menyebutkan, sekitar 20 hingga 30 persen kasus epilepsi pada anak tidak terkontrol dengan baik. Salah satu penyebab utamanya adalah keterlambatan diagnosis.

Masalahnya, banyak orang tua belum menyadari bahwa kejang tanpa demam merupakan sinyal penting. Tak sedikit pula yang berharap kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.

"Gejalanya sering tidak disadari orang tua. Padahal, jika kejang terjadi berulang tanpa penyebab jelas, itu bukan hal yang normal," katanya.

Untuk memastikan diagnosis, anak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan seperti electroencephalography (EEG). Pemeriksaan ini berfungsi mendeteksi aktivitas listrik di otak sekaligus mengidentifikasi adanya gelombang kejang.

Seiring perkembangan teknologi, pemeriksaan EEG kini semakin praktis. RSIA Bunda Jakarta menghadirkan EEG portable yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan di rumah pasien.

"Sekarang EEG sudah bisa dibawa ke mana-mana. Pasien tidak harus datang ke rumah sakit, pemeriksaan bisa dilakukan di rumah dan hasilnya tetap bisa kami pantau," ujar Rafli.

Kehadiran EEG portable menjadi hal yang penting, terutama bagi pasien yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Selain lebih fleksibel, metode ini juga membuat anak lebih nyaman karena tidak perlu berada di ruang pemeriksaan dengan alat besar seperti sebelumnya.

Meski begitu, Rafli menegaskan bahwa epilepsi bukan penyakit yang dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, kondisi ini tetap bisa dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan konsisten.

"Epilepsi memang tidak bisa sembuh, tapi bisa dikontrol. Targetnya adalah anak bebas kejang, bahkan hingga dua tahun," jelasnya.

Jika anak berhasil bebas kejang selama dua tahun dengan pengobatan rutin, risiko kambuh dapat ditekan hingga di bawah 20 persen.

Di luar aspek medis, tantangan lain yang tak kalah besar adalah stigma di masyarakat. Epilepsi masih kerap dianggap sebagai penyakit menular atau sesuatu yang memalukan.

"Epilepsi tidak menular. Tapi stigma negatif membuat pasien sering dikucilkan, ini yang harus kita ubah," ujarnya.

Karena itu, orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap gejala kejang pada anak. Jika kejang terjadi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang dan memastikan keamanan anak.

"Saat anak kejang, jangan panik. Posisikan anak miring agar aman, longgarkan pakaian, dan segera bawa ke fasilitas kesehatan," pungkas Rafli.

(tis/tis)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VCS, Boleh Enggak Sih?

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK